Libatkan saja dia


“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai”

img_4960

Karang Endah kampung saya masihlah panas menyengat. Debu-debu masih jadi bagian pertanda kemarau belum juga berakhir. Meski demikian panas udaranya tetap kalah dengan keademan hati saya bersama keponakan tercinta. Al Banna namanya. Siang ini saat saya sedang sibuk menge-print materi belajar di kamar. Ia datang dengan senyum semangat ingin ikut serta menjadi ‘relawan’ saya. Ikut ‘membantu’. Bisa dibayangkan kan ‘membantu’ dalam kategori anak usia Batita.

Awal-awalnya dia bertanya.

“ini  apa Ma ?” nunjuk kabel Printer

“kabel”

“ucuk pa Ma?”

“untuk sambungan ke laptop” dia sudah mengerti apa itu laptop. Tak lama Kabel printer Dia  lepaskan dari tempatnya. Dan mesin yang sedang berjalan tetiba berhenti di tengah. Shock saya dibikinnya.    (Peristiwa 1)

Banna mengamati kertas-kertas yang awalnya berada di belakang printer, lalu bisa keluar ke depan. Baginya mungkin, mainan ini keren bisa makan-makan kertas begitu pikirnya. Membuat dia tertawa girang layaknya Marsha yang sedang ‘membantu’ Beruang.  Printer kembali bekerja. Tetiba bunyi mesin berubah, yang semula halus menjadi suara seperti knalpot motor yang dibuat bising. Sekali saya silap mata, Banna sudah berhasil memasukkan ragam kertas tak berguna dengan caranya sekaligus penjepit jemuran, lalu ranting pohon ke Mesin printer. kacau, pusing pala berbi (Peristiwa 2) .

“ini warna apa Ma?” nunjuk jejeran tempat tinta printer.

“Hitam”

Dia pun mengulang berbicara sedikit pelan yang tetap terdengar oleh saya. :icam

“Nyang ni?

“Biru”

“Biyu” ulangnya.

 Dan begitu juga untuk 2 warna berikutnya. Bertanya. Dan mengulang jawaban. Sebuah  buku yang pernah saya baca, usia anak 0-5 tahun itu disebut masa Golden Age. Dia akan mudah menangkap, merekam apa pun hal yang dilihatnya, didengarnya.  Saat dia bertanya  ini itu. Adalah saat dia sedang belajar ingin tahu. Biarkan dia bertanya. Jangan bosan menjawabnya. Begitu buku yang pernah saya baca.

Ketika sedang fokus menyusun kertas yang berhamburan.

“cumpah…cumpah…cumpah, cumpah Maaaa”  teriak Banna

Dan saat saya menoleh tanganya sudah berubah warna merah dan bisu. Tinta printer sudah keluar dari tempatnya. Meja dan lantai berubah warna-warni, tak berseni. Lalu saya serasa Pengen pingsan (Peristiwa 3).

Saya tidak bisa menunda untuk menge-print materi belajar sebab waktu yang tersisa sedikit lagi.

 Mungkin. Dia ingin sibuk seperti saya saat ini. Atau Banna ingin mengajak saya bermain, dengan caranya Oke libatkan saja dia.

“Kak, Tolong bantu amma ambilin kertas di atas meja”

“iyo Ma” laganya seperti tentara yang menjawab siap dari komandan.

Saya perhatikan dia mengambil kertas. Bres-bres-bres. Kertas berhamburan.

“Ini Ma”

“oke sipp, trimakasih kak Banna”

“nyama-nyama” dan anak ini sudah terbiasa menjawab ‘sama-sama’ setiap orang mengucapkan trimakasih padanya. Good

Tanpa diminta dia menolong saya-yang lebih tepatnya memaksa saya untuk memasukka kertas-kertas ke dalam printer.

“ini Ma..ini Ma…ini Ma” begitu berulang-ulang. Saya bilang sudah cukup Ka. Tapi dia tetap memaksa  untuk memasukkan semua kertas  tersebut. Girang kepalang terlihat di wajahnya saat kertas-kertas muncul.

Dia pun berpindah posisi. Yang awalnya di samping saya lalu berada di depan printer siap menunggu kertas-kertas yang keluar. Sambil berteriak kegirangan dia menyaksikan kertas-kertas itu muncul.

“agi ma…agi ma..agi Ma (Lagi Ma)”  pinta-nya

“sudah ya Ka, hari ini sudah cukup, besok-besok lagi ya”

Melarang anak kecil demi cepat mengerjakan pekerjaan kita adalah cara perlahan mematikan rasa keingintahuannya. Sedang rasa ingin tahu adalah bagian dari proses seorang anak belajar tentang sesuatu. Obati rasa penasarannya yang ingin ikut ‘membantu’ dengan cukup melibatkannya. Lagi pula sebenarnya mereka (dia) dapat kita arahkan.

 #curcolan beberapa tahun lalu #dibuangsayang

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s