Labi-labi, Damri, dan perspektif Sederhana Saya


Baik. Kali ini saya ingin cerita tentang nasib angkutan umum yakni labi-labi dan Damri yang ada di Aceh.

Tulisan ini adalah perspektif saya yang suka ber-labi-labi (?) :), bis Damri atau angkutan umum lainnya. Dan tentu akan lain lagi cara pandangnya bagi pengguna kendaraan pribadi baik itu motor atau pun mobil.

Bermula dari kemacetan, seumur-umur dari bangku TK sampe baru lulus dari perguruan tinggi. Saya belum pernah mengalami yang namanya macet. Belum pernah membayangkan kendaraan yang ribuan datang menyerbu berhenti dijalan. Pengendaranya yang teriak-teriak lewat jendela mobil sambil tak henti menekan klakson mobil atau motor mereka. Kendaraan mereka membuat kebisingan kian ricuh saja. Saya belum pernah melihat muka ribuan orang geram dipagi hari secara berjamaah di dalam kendaraan. Tapi semenjak saya sudah menjajaki dunia kerja. Saya kenal itu semua. Saya mengalami itu semua hampir tiap pagi dan sore hari.

 Dulu tahun awal-awal saya kuliah di tahun 2006. Volume kendaraan yang datang dan pergi dari dan ke  Darusslam (pusat pendidikan di Banda Aceh) masih terbilang wajar. Meski buanyaaak juga saya lihat serbuan kendaraan menuju arah kampus saat itu. Namun sekali lagi masih  terbilang wajar (ini menurut perspektif saya ya). Kalau pun banyak kendaraan yang tiap pagi bersiliweran. Tak menimbulkan perhentian kendaraan alias macet ditengah jalan. Banyak kendaraan yang ada tapi ditetap jalan atau nyaris tak ada istilah berhenti berjamaah di tengah jalan. Tetap melaju.

Di tahun 2013 ini, tiap pagi saat saya hendak menuju kantor (seeh kantor…J). Ribuah kendaraan motor dan mobil yang rata-rata pribadi menuju arah kampus jantoeng Hati Rakyat Aceh berbarengan menyerbu jalan. Berhenti lalu macet. Puncak macetnya  itu mulai dari 07.30-08.00. Klakson dari para pengendara menjadi ritme-rime pagi yang memekakkan telinga. Tak sedikit dari pengendara itu yang membelokkan kendaraannya keluar dari badan jalan, melewati jatah halaman ruko-ruko yang berjajar di pinggir-pinggir jalan. Semua  demi cepat sampai tujuan. Dan saya adalah salah satu dari ribuan manusia yang memiliki arah tujuan yang sama dengan ribuan orang tersebut. Saya  kerap kali terjebak dalam kemacetan pagi. Lalu apa yang saya lakukan? Menikmatinya. Ya menikmati  kemacetan di sepanjang  Jalan T Nyak Arief  dan Jembatan Lamnyong dengan memperhatikan gaya dan raut muka para penumpang dan pengendara kendaraan.

Peristiwa kecelakaan pada pagi kerap juga terjadi diseputaran lingkar kampus sampai jembatan Lamnyong. Saya adalah salah satu korban yang pernah ditabrak motor di area tersebut. Terpental dan jatuh di sana. Lembam di bagian kaki. Dan nyeri di pinggang. Setelah diobati dan di ronsen. Syukurlah tak begitu parah.

Dalam asyiknya menikmati kemacetan itu. Saya juga berfikir. Alangkah baiknya kalau semua pengendara dan pemerintah bersinergi memiliki jiwa memberdayakan potensi sosial  yang ada terhadap para pengguna jalan (wedew). J

Maksudnya???

Jadi begini.  Menurut saya andaikan semua pengendara sepeda motor dan mobil pribadi yang kebanyakan mahasiswa mau menikmati naik kendaraan umum. Seperti Labi-labi (sebuah angkot yang pintu penumpangnya berada di bagian belakang mobil yang di Banda Aceh dan disebut dengan labi-labi). Sebuah perubahan akan terjadi. Meski mengharapkan mereka mau naik kendaraan umum seperti Labi-labi dan Damri ini adalah hal yang jauh dari kata mungkin bagi yang telah memiliki kendaraan. Maka menurut pandangan saya yang sederhana ini perubahan itu adalah

  1. kemacetan tiap pagi bakal terkurangi syukur-syukur jika suatu saat  tak tak akan terjadi.
  2. Potensi kecelakaan juga pun juga merosot.
  3. Dapat memberdayakan potensi daerah seperti untuk Damri sedangkan untuk Labi-labi secara tak langsung membantu para sopirnya mencari nafkah untuk anak istri mereka. Jika mereka menjadi pengangguran maka akan lebih besar tanggungan permasalahan pemerintah daerah. Terlalu jauhkah cara berpikir saya?

Sejak  saya bertandang ke Aceh di tahun 2006 hingga sekarang saya adalah seorang yang sangat menikmati berkendaraan dengan labi-labi (beside bahwa saya orang yang trouma mengendarai sepeda motor sendiri.) Ya sebagai seorang yang selalu berlabi-labi (?), keluhan-keluhan sopir angkot ini pun sering saya dengar. Seperti sulitnya mencari penumpang saat ini. Lalu harga BBM yang mahal. Ongkos penumpang dengan jumlah penumpang pun berbanding lurus dengan  tak seberapanya pemasukan yang mereka terima. Lalu saya seperti menarik kesimpulan sederhana menjadikan para sopir ini menurut saya  adalah orang yang cukup sabar sekali.

Nasib Labi-labi juga hampir sama dengan nasib bis Damri. Sebuah mini bis yang akan mengangkut penumpang. Tarifnya yang murah hanya Rp 1.000, ternyata tak menarik daya minat para mahasiswa saat ini. Dulu pertama kali ke Aceh saat saya pertama kali naik Bis Damri. Saya selalu bergelantungan karena kursi-kursi penumpang sudah penuh .  Sekarang tak jarang saya menjadi ratu labi-labi. Karena saya sendirilah penumpangnya. Semua kursi kosong melompong. Maka saya menjadi tak heran jika saat ini bis damri jarang sekali terlihat beroperasi di jam-jam sibuk. Padahal dulu setahu saya Start-nya mulai pukul 07.00 sampai dan berakhir pukul 15.00. namun sekarang yang saya ketahui bis Damri saat  hanya beroperasi mulai dari jam 09.00 sampai pukul 11.00. Setelah itu selesai. Karena mau selama dan sepelan apa pun bis damri berjalan mencari penumpang. Tetap saja sulit ditemui penumpang yang mau menaikinya.

Di dalam labi-labi dan bis Damri saya sering berpikir mungkin ada sebagian dari para penduduk Banda Aceh yang tak pernah naik labi-labi. Padahal banyak hal menarik yang bisa menjadi penghibur kita. Seperti, Saya sangat suka sekali melihat mahasiswa yang sibuk membaca diktat atau catatan kuliahan mereka sambil telinganya mendengarkan musik. Mendengarkan diskusi-diskusi kecil mahasiswa di dalam labi-labi. Kerap saya jumpain pemandangan ini dan menebak mungkin ini musimnyaa midterm atau UTS. Jadi meski tak kuliah lagi nostalgia dan masa kapannya midterm itu tetap saya ketahui.  Selain itu kita juga menjadi orang yang peka dengan kesulitan orang lain. Seperti keluhan ekonomi para sopir labi-labi.

Namun terkadang sebagai penumpang yang juga diburu waktu saya juga jengkel jika ngetemnya labi-labi lama sekali. Tapi saat mendengar keluhan mereka pemakluman-pemakluman itu juga muncul dalam diri saya. Nah andaikan para pengendara kendaraan roda dua itu  yang kebanyakan mahasiswa mau menggunakan labi-labi sebagai angkutan wajib bagi mereka, maka akan terbantulah para sopir serta keluarganya dan terberdayakannya potensi unik angkutan kota ini. Jangan sampai labi-labi ini punah (?). Dan kita tak memiliki angutan unik ini. *lagi-lagi pikiran saya sudah jauh ya

Sekali lagi Tulisan ini adalah perspektif saya yang suka ber-labi-labi, bis Damri atau angkutan umum lainnya. Dan tentu akan lain lagi cara pandangnya bagi pengguna kendaraan pribadi baik itu motor atau mobil.

*Tulisan ini adalah renungan sederhana pertengahan tahun 2013, di suatu pagi di dalam labi-labi dan suatu ketika di dalam bis Damri sebelum pulang ke Kampung Halaman.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me..., My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s