Kelas Motivasi menulis FLP Aceh bersama Rh Fitriadi


Point-point pada tuisan kali ini ini adalah ilmu yang saya dapatkan dari kelas Motivasi bersama Bang Rh Fitriadi awal tahun 2013 lalu. Sedang penjabarannya adalah mutlak hasil pemahaman saya pribadi. Jadi mohon maaf ya kalau rada kurang nyambung. Pemahaman saya masih jauh sekali. Ini juga hasil dari mengingat-ingat apa yang masih saya ingat (?) dari apa yang beliau terangkan saat itu.  Dan masih ada beberapa poin belum bisa saya jabarkan. Trimakasih untuk Bang Rahmat yang telah membagi ilmunya.

1.       Melek kehidupan dan kenyataan

Tulisan seorang penulis berangkat dari keresahan hatinya terhadap apa-apa yang dia lihat dalam kehidupannya sehari-hari. Dengan gaya tulisan apa pun sebenarnya ia sedang mengatakan isi hatinya, pendapatnya dari apa yang telah ia tahu, ia pegang menjadi aturan pribadinya namun bertubrukan dengan realita yang tak sesuai  dengan hati nurani. Maka keluarlah tulisan hatinya.

2.       Belajar tidak sama dengan bekerja.

Seorang penulis. Ia akan memperkaya tulisannya. Baik itu dari segi konten atau dari segi tata bahasa penyampaiannya. Maka seorang penulis akan terus-dan terus belajar. Dari apa pun yang ada di sekitarnya. Membaca ragam bacaan (buku, koran, majalah, blog) menonton Televisi, Berdiskusi dengan sesiapa pun) lalu akan ada yang ia dapati. Bertemu dengan ragam orang dalam perjalanannya. Akan menambah sudut pandangnya dalam kehidupan.  Dan menjadikan Ide dalam tulisannya semakin bertambah. Dan itu caranya belajar.

3. Temukan kesenangan dalam menulis. Senangkan diri dengan menulis.

Saya sedang mencari apa yang membuat saya senang dalam menulis. Yang saya rasa sensasi saat menulis itu adalah sensasi seperti seorang ibu yang menanti buah hatinya lahir kebumi (meski saya belum pernah merasakan hal tersebut. I am A single). Bahagia sekali seperti para teman saya saat hamil dan sedang menghitung hari untuk melahirkan. Nah Seorang yang belajar menulis seperti saya ini, tulisan apa pun yang hendak saya tuntaskan ibarat calon-calon bayi yang akan keluar. Hihihih dan saya belajar memahami bahwa menulis adalah kegiatan yang produktif. Wasting time or killing my time tapi tak sia-sia. Maksudnya apa ya ? hohoho

4.       Motifasi menulis yang rendah adalah ketika berada dalam keadaan tidak fit/eror feel. *baca keadaan darurat/terpaksa.

Yang ini saya banget. Ngaku ya. Dari zaman dulu mengenal dunia tulis menulis, saya hanya sampai level senang banget ngumpuin info lomba kepenulisan. Terus mulai buat kerangka  tulisan. Nentuin jadwal nulis kapan untuk membuat dan menuntaskan tulisan yang akan dilombakan. Lalu terlena. Buang waktu karna kebentur sibuk ini itu (alasan aja) lalu tak terasa Deadline lomba mendekati ambang. Ngejer-ngejer waktu dan berakhir dengan saya gagal ikut lomba. Sering sekali begitu.  Harus diubah Dea ‼‼

5. Pekerjaan menulis adalah pekerjaan istimewa, bukan hanya milik makhluk bumi dan juga milik makhluk/penghuni langit.

 Saya suka dengan poin yang satu ini. Saya sepakat angguk-angguk kepala. Pas Bang Rahmat mengeluarkan poin ini dalam kelas motivasi menulis. Lalu Bang Rahmat melanjutkan dengan kalimat berikut. “Buktinya Allah memerintahkan Malaikat untuk menulis catatan keseharian kita. Kita adalah objek tulisan Malaikat. Kita adalah objek penelitian malaikat”.

6. Stop menjadi Follower.

“Kalau kita mengikuti karya orang yang kita sukai. Kita hanya memiliki karya serupanya tapi tidak memiliki karya seperti kita”. Memang bener sih. Tapi bagi saya eumm yang seorang masih belajar menulis.Tahapan yang kita sadari maupun tidak bahwa tulisan kita itu mirip dengan seorang penulis ini atau itu. Hal tersebut adalah proses. Karna bisa jadi bahan bacaan seorang penulis pemula itu adalah tulisan si Idolanya yang selalu ia gemari tulisannya. Yang meski sudah selesai alias tamat dibaca tetep aja diulang-ulang bukunya untuk dibaca lagi, lagi dan lagi. Berasa banget kalau istilah anak remaja. Namun saya yakin karna tahap ini akan berubah dan pindah. Saya pernah merasakan itu saat dulu SMP sampai SMA saya suka baca Annida. Terus lama-kelamaan bosen. Dan beralih baca Tarbawi. Saya suka isi-isinya dan berhenti untuk langganan Annida. Kesadaran tahap membaca saya itu saat saudari saya berujar. “kamu bukannya bosen dengan Nida tapi level bacaanmu sudah naik sedikit lebih tinggi!”

Saat sekarang saya gemar dengan karya mabk Ifa Avianty, saya agak sukar untuk membuka hati (?) terhadap novel novel lainnya. Saat saya ‘rakus’ sekali dengan tulisan karya Dan Brown. Maka sampai sekarang pun belum ada buku terjemahan yang mudah saya pahami bahasannya selain karya Dan Brown (otak saya aja yang masih bebal:D)

Nah tanpa kita sadari pun saat akan menulis  gaya tulisan kita berangkat dari campur tangan bacaan yang kita asupi. Percayaah.

7.       Kita adalah objek penilitian dari kebenaran Al Quran.

Al Quran mengisahkan banyak cerita. Dan cerita kahidupan yang kita jalani ini sudah terkisah di dalamnya. Surga dan Neraka sudah kita yakini keberadaannya.

8. Perubahan kecil saat ini bisa jadi berubah menjadi perubahan besar di masa mendatang.

Dengan menulis dan tulisan yang kita ramu. Berefek besar bagi perubahan yang akan terjadi. Dan semua tergantung dari isi tulisan tersebut. Kata-kata yang kita ketik terangkum menjadi kalimat  yang mendiami berlembar-lembar kertas dan mungkin berbilang entah berapa eksemplar cetak buku yang tersebar nantinya. Lihatlah bagaiman tulisan Andrea Hitara mengubah banyak cara pandang orang tentang pendidikan, tentang bagaimana meraih cita-cita berkuliah di luar negeri bagi anak –anak indonesia. fenomennya membuat Desa di Belitong Timur sana menjadi terkenal dan menjadi destinasi wisata bagi para pelancong. Atau bagaimana efek dari Ayat-ayat Cinta-nya Kang Abik. Negeri Lima Menara. Toto Chan. Dan masih banyak lagi buku-buku berbobot yangmerubah pola pikir banyak orang e arah positif. Ketika perubahan itu terjadi pada diri orang. Alahkah banyaknya pahala kebaikan yang kita dapatkan. Hanya karna sebuah tulisan. Dan hal ini tentu berlaku pula terhadap tulisan-tulisan yang tak berisi. Tulisan merubah orang bukan menjadi pribadi baik namn sebaliknya.

 9.       Keragu-raguan yang terbesar dalam hati kita ialah keberanian untuk tidak menikmati dan memulai proses.

Kita  ahh lebih tepatnya saya. Seringkali ragu untuk memulai menulis. Banyak pikiran yang berkecamuk. Apakah tulisan saya ada yang baca, ada nggak orang yang suka. Ah tulisan saya jelek. Saya malu kalau tulisan ini dipublis, dan pikiran-pikiran negatif lainnya yang membuat kita hanya membuang waktu ketimbang memanfaatkannya untuk sekedar menulis 1,2 kalimat. Bukankan semua, segalanya perlu proses. Tak ada yang isntan. Lantas tulisan kita bagus. Lantas EYD langsung sempurna. Tidak ada letak preposisi yang salah. Kita lupa kalau dulu kita juga pernah belajar memulai menulis Huruf A. Sampai berlembar-lembar kartas hanya untuk menuliskan huruf A.

10.   Keluarlah dari kebisaan. Merelakan waktu yang terbiasanya kita untuk menulis. Ini proses.

Saat menulis kita membutuhkan waktu yang spesial. Saat kita mengikrarkan diri untuk belajar menulis. Kita akan merelakan waktu yang kita punya untuk sekedar menuliskan apa yang kita anggap perlu untuk di tulis. Dan saya sedang menjadwalkan waktu untuk khusus untuk belajar menulis. Merubah kebiasaan saya dari hal-hal keseharian dan menspesialkan beberapa jam untuk kegiatan yang spesial ini : Belajar menulis.

11.   Jadilah batang besar dulu biar bisa di tiup angin. Rumput-rumput  anginnya juga kecil.

Ini bagi seoarang penulis yang sudah terkenal. Meski mungkin terkenal secara dunia maya lewat tulisan di blog kali ya . Nunjuk diri sendiri. (emang kamu sudah terkenal Dea?). seperti saya ini. Tak dapat dipungkiri tak semua orang suka dengan hasil karya tulisan kita. Nyambung  nggak ya dengan poin diatas penjabaran saya ini. Heheh. Mungkin maksudnya bahwa kita perlu kekuatan diri seperti batang-batang pohon besar yang mau di cerca angin komentar sebagai mana pun. Nggak mudah tumbang.

12.   Berbaik sangka

“ orang yang mengkritik kita itu berarti ia tau kita punya kemampuan lebih untuk berkarya lebih baik lagi. Lebih hebat lagi”. positif thinking.

13.   Mencari Ide sulit tapi pengen nulis???

Kalau kita ingin menulis buat pertanyaan yang banyak. Maka lahir jawaban yang semakin panjang.

14.   Cintai sejarah.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me.... Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s