Kado Sederhana Untuknya


Coretan kali ini tentang apa ya. Ada beberapa ide yang meloncat-loncat di kepala saya. Nggak tahan pengen dikeluarin jadi tulisan.  Pengen nulis Pengalaman saya selama ini merintis usaha bimbingan belajar, atau nulis  gimana ketakjuban saya terhadap  pertanyaan kecil  bocah umur  4 tahun yang nanya “mengapa Rice itu nasi bukan beras tante?”.

Atau saya ingin menulis tentang keterkejutan saya terhadap mata pelajaran TK yang bagi saya ;  “loh TK  zaman sekarang belajarnya sudah gini toh. Idihhh ‘maju’ banget ya” (tapi dalem hati kasihan anak-anak ini bakal cepet tua).

Atau lagi,saya ingin  menulis  keprotesan , kesadaran, dan ketidak-setujuan tentang sistem pendidikan anak TK yang bagi saya mereka terlihat terbebani dengan metode belajar seperti anak SD kelas 3.

 Nah, Ide itu mahal bagi saya. Secara saya mudah bingung mau nulis apa. Tapi kalau seorang yang sudah terbiasa menulis atau seorang penulis mungkin mereka nggak pernah nemuin kesusahan dalam hal mau menulis apa. Jadi mumpung lagi semangat nulis dan ada ide yuk kita lanjutin ngetiknya. (Kita???)

Maksud saya yuk kita lanjutin ceritanya.

“nah kalau cerita saya mau” (ini siapa sih (?))

Dan saya itu ibarat seorang ibu rumah tangga yang belajar masak di dapur. kebingungan mau masak apa ya hari ini.  Lah wong menurutnya nggak ada bahan apa-apa di dapur (dia mau masak yang besar hari ini). Padahal ada cabe, garam, ikan asin. Bagi orang yang biasa masak bahan itu gampang.  Bahan itu bisa diolah jadi Lado Ikan asin.  Bisa juga ikan asin, cabe dan garam di tumbuk kasar, jadilah sambal tuk-tuk . atau lagi

“halah kebanyakan atau!, suka makan atau ya?”

 Tumis ikan asin sederhana. Ahhh semuanya tinggal olah, gampang itu. Nah semuanya bisa dilakukan jika kreatif dan terbiasa mengolah.  begitu juga kali ya dengan menulis.

“Penjabaran analogi yang panjang deaaa” (siapa lagi ini)

“Jadi kamu mau nulis apa?”

“bentar  ya ini lagi mikir, kok hilang lagi kata-kata yang mau ditulis” ketuk-ketuk kepala pake pensil

Mungkin temen-temen bingung dalam cerita  dan tulisan saya ini banyak monolog-nya. Itu karna saya sedang memposisikan diri berbicara dengan leptop (?).  Maklum kadang tiba-tiba ada rada gagu jemari mau ngetik apa lagi.

“Sampai mana tadi ?”

Lah lupa lagi saya.

Okey lah kali ini saya mau nulis tentang He.

“Siapa He?”

Nah jangan nanya dulu, ini saya mau cerita tentang Dia.

Dia itu manusia (Yaelahhh). Berwujud laki-laki. (Tau! kan tadi bilangnya He). Laki-laki yang jauh sudah mencintai saya (yakin amat‼) sebelum saya ada di dunia ini.  Seorang yang taat dan disiplin dalam ibadah (berdasarkan pengamatan saya selama hidup dan tinggal bersamanya).  Kedisiplinan itu mungkin hasil didikan selama berada di dunia kerjanya. Sholatnya tepat waktu, ibadah sholat sunnahnya selalu.  Tilawahnya  qur’an dan membaca tafsir jadi agenda  jadwal rutin sebelum magrib yang tak pernah ditinggal.

“Lalu bagaimana dengan jiwa sosialnya dengan masyarakat? “

“Menurut pandangan saya jiwa sosialnya  itu ni” (nunjukin 2 jempol).

Kerap kali beliau dimintai tolong untuk menjadi ketua panitia dalam acara-acara masyarakat (kok beliau bukan Dia?. Lebih nyaman aja)  Acara pernikahan anak tetangga atau hajatan-hajatan lain beliau sering dimintai menjadi ketua panitia. Bukan ketua panitia yang hanya membagi tugas, lalu tunjuk sana-sini anak buah. Mandorin kerja . Itu bukan beliau sekali sodara-sodara. Beliau akan langsung terjun. Kala panitia yang lain santai. Sigap mencari apa-apa yang belum diselesaikan. Menggeser meja  makan, membantu mengatur kursi, mengecek sound sistem. Membantu memperbaiki tenda. Menyapa dan menanyakan kepada ibu-ibu bagian konsumsi apa ada kendala.  Sampai menjadi juru parkir kendaraan, jika petugasnya sedang shif istirahat. Padahal beliau ketua panitia. Berhari-hari seperti itu saat ada acara. Mulai dari pembentukan panitia sampai acara selesai.

Bahkan setelah acara selesai sekalipun beliau masih sibuk membantu sang empu yang punya hajat.  Maka dengan jiwa kepemimpinan dan rasa tanggung jawabnya yang besar itu, beliau pernah  menjadi ketua panitia saat dalam hajatan besar bagi skala kampung kami. Menjadi ketua panitia dalam agenda acara kunjungan pejabat teras ke kampung kami.

Saat pemilihan kepala Desa di kampung . Banyak dari tetangga, dan mansyarakat yang mendukungnya untuk menjadikannya Kepala Desa. Prediksi orang jika ia mencalonkan diri suara terbanyak akan memilihnya.  Namun dengan senyum dan kalimat sederhana dia menolak.

“sudah pensiun, saatnya istirahat”

Baginya cukup melayani masyarakat, tetangga dengan membantu mereka saat ada hajatan atau kesulitan.

Dalam lingkungan keluarga. Beliau tauladan bagi kami. Saya salut dengan kedisiplinanya yang tak pernah melenceng. Bangun tidur, beliau masak air buat kopi sendiri, Selalu mandi sebelum subuh. Sudah subuh doa dan dzikirnya panjang, dilanjutkan  dengan sarapan sambil nonton ceramah pagi di TV.  Setelah itu berangkat mengurusi kebun, mengontrol  beberapa pekerja. Pulang ke rumah menjelang zuhur. Mandi. Tilawah. Sholat. Makan siang. Istirahat. Sholat ashar. Silaturahmi dengan tetangga/kembali mengecek kebun. Istirahat siap-siap menjelang magrib. Tilawah. Sholat jama’ah sekeluarga. Makan dan istirahat nonton berita atau acara-acara humor. Tidur. Begitu. Ya setiap harinya begitu. Tidak pernah melenceng dan saya hafal sekali. Begitu kegiatan seorang purnawirawan Angkatan Darat itu di rumah kami.

Beliau adalah seorang yang selalu mendukung dan memberi masukan dalam setiap keputusan yang akan saya ambil. Tak terkecuali keputusan merantau ke Aceh. Anak perempuannya akan tinggal jauh. Meski saat lebaran saya juga akan pulang kampung. Namun ketika akan balik lagi ke tanah serambi beliau selalu bermuka  yang seolah berat untuk melepaskan anaknya. Saya selalu tak sanggup melihat raut wajahnya saat akan berpisah dulu.

Ketika Keputusan saya juga saat akan membuka bimbingan belajar yang sedang merangkak ini.  Beliau juga memberi masukan tentang segala benda yang akan mendukung kegiatan belajar-mengajar saya nanti . Beliau kerap mengingatkan tentang keuangan yang akan menjadi income  saya.

“Kalau ada libur sekolah, potonglah uang SPP mereka, kan kamu nggak ngajar, jangan ambil sepenuhnya”

atau

“jangan lupa infak”

Wuahh masih panjang dan butuh berlembar lembar menceritakan sosok beliau ini.

Jadi suatu waktu pernah saya sakit. Dan masih nekat untuk pergi mengikuti semacam tes kemampuan. Padahal beliau sudah menyarankan  untuk istirahat dirumah saja. Khawatir jika di jalan saya kenapa-kenapa. Tapi saya memang keras kepala tetap saja ikut tentu setelah memberi pertimbangan kalau saya sudah menghabiskan biaya besar untuk tes tersebut dan sayang kalau tak diambil.  Dan beliau setuju, meski dengan kekhawatiran yang besar terlihat dari wajahnya saat mengantar saya masuk ke mobil. Benarlah saat akan menuruni tangga di sebuah gedung tempat saya mengikuti tes. Nyaris saya jatuh karna ketidak-seimbangan badan saya yang masih sakit.

Tapi sebelum pulang saya menyempatkan diri membeli sesuatu untuknya. Tidak, Bukan karna beliau berulang tahun. Tapi saya serasa ingin saja memberikan sesuatu padanya. Saya belum bisa membuatnya bangga. Belum bisa memberikan sesuatu yang berharga  atas apa-apa yang belum dan sudah saya miliki.

Saya berjalan menyusuri pasar. Mencari sesuatu benda.  Bagi saya benda ini cukup penting dan bermanfaaf untuknya. maka saya bela-belain menyusuri pasar. Benda apa itu? Sayangnya dengan kondisi badan  yang tidak fit dan nyaris jatuh tadi. saya tidak mendapatkan benda itu.

Saat saya memberikan untuknya setelah dibungkus rapi. Beliau menanyakan

“Apa ini?” agak heran karna beliau tahu ini bukan hari sepesial

“Bukalah Yah”

Dengan bismilah dan perlahan membuka sampul kado, dan mengucap Hamdalah saat tahu isiya”. Dan tak lupa beliau berucap terimakasih.

Benda itu sebuah tatakan Al-Quran yang biasa berbentuk huruf X . Dengan kegemarannya  tilawah sebelum magrib.  Saya rasa benda ini pas sekali untuknya. lagi pula pernah suatu kali beliau bercerita dan menananyakan tentang harga tatakan untuk meletakkan mushaf Alqurannya yang besar itu. Memang beliau agak sedikit kesulitan jika harus memegangnya  mushaf yang besar. Kalau mushaf kecil beliau agak sedikit sulit membaca sebab penglihatannya yang mulai berkurang.

Sebenarnya saya ingin membelikannya sebuah Rekal Al Quran Box dari kayu jati. Selain sebagai tempat menyimpan Al quran, bisa juga sebagai alas atau tatakan untuk membaca Al quran. Yang banyak saya temukan hanya tatakan Alquran yang biasa berbentuk huruf X . Sayangnya dengan kondisi badan  yang tidak fit dan nyaris jatuh karna sedang sakiti. saya tidak mendapatkan benda itu. Kecewa. Tak apalah. Tapi lagi-lagi sepertinya saya belum  mampu membelikan yang lebih bagus. Seperti benda yang saya impikan untuknya. mungkin lain waktu saya akan memberikan yang lebih baik lagi.

Beliau laki-laki teristimewa buat saya yang pernah saya miliki. Dengan segala perjuangannya sebelum saya ada hingga saat ini. Tak cukup menuliskan kegigihannya demi kami.

Saat saya mengetik ini di kamar. Beliau sedang santai menonton TV di ruang tengah diselingi suara batuk beberapa kali.

He is My Father Syamsul Hudin. Seorang yang baru 2 tahun mendapat gelar purnawirawan setelah sekian puluh tahun mengabdi.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s