Parotitis, Tifus, dan Not lagu


Assalamualaikum….:)

Hello, Grasia, Anyong, Merhaba, Ciao “Okey, before you will do everything lets say, Basmallah”

Harus lengkap!‼ (intonasi suara menekan kayak mamanya Nobita lagi marah)

“Bismillahhirrahman nirrahim” usap muka pake kedua tangan

Saat saya menulis ini keadaan saya sudah cukup membaik meski belum benar-benar pulih.

“emang kenapa?”

“Ah kamu kepo,”

“Lah kamu yang mancing  dengan kalimat yang merangsang otak saya buta nanya”

“Kamu, kan dari dulu begitu, otak kamu mudah banget terstimulus buat nanya”

“Ya mau gimana lagi coba, wajar dong saya kan terpelajar ” (?)

Huekkkk.

“Bukan, itu karna kamu kebanyakan nonton Conan, jadi sok detektif yang suka banyak tanya penuh selidik”

“Bukan saya mah kebanyakan nonton berita korupsi jadi kecipratan wajah-wajah penyidik  dan penyelidik kasus”

(kok jadi monolog aneh  gini sih…)

 

Kembali ke Lep topppp

“Sampai mana tadi? (Ini diri saya sepenuhnya)

“Eummm..” banyak mikir

Okey..okey..kita mulai dari cerita apa? Dari tentang sakit ya? Ohh bukan, dari kata pulih. Ya dari kata pulih. Pulih itu adalah nama sejenis pohon besar yang ada banyak hantunya (mitos pas zaman SD).

“kok ceritamu tambah kacau begini sih Dea”

Baiklah. Kalau begini terus saya nggak akan mulai-mulai ya, terlalu banyak intro yang menyebalkan dengan coretan saya kali ini. Jangan salahkan saya. Salahkan obat yang sudah merusak jaringan syaraf yang membuat saya jadi aneh begini.

2 mingguan lebih atau nyaris 3 minggu yang lalu saya terkena 2 macam penyakit secara berurutan (kayak gerbong kereta api) menghinggapi saya. Pertama penyakit yang menyebabkan badan saya tak sebaik biasanya. (namanya sakit emang kayak gitu kaliii). Ya semacam ada virus  yang mengacaukan imun saya. Virus yang dibawa oleh salah seorang bocah yang saya didik dan sampai sekarang saya belum bisa mendeteksi siapakah bocah yang tidak berperikesopanan menularkan virusnya kepada saya (mulai ni suudzon, istiqfar).

Ah enggak ding, maksudnya. saya sebenarnya sangat bersyukur dengan siapa pun bocah-bocah itu yang sudah dengan baik hati membuat saya harus istirahat untuk tidak mengajar karna virus ini. (pasang muka baik)

“Langsung aja! kamu itu sakit apa Deaaa?” (jelmaan dea yang lain)

Iya ini saya mau cerita. Kata penasehat kesehatan saya (ehm‼!) saya terkena  Penyakit  Mumps atau Parotitis.

Penyakit apa itu?

Mau tau? Baik kita tanya galileo yuk?

“loh Galileo kan sudah almarhum tante”

Lah suara anak siapa itu.

“Eh om Google maksudnya”

Nah kata Om Google Mumps atau Parotitis itu  adalah suatu penyakit menular dimana sesorang terinfeksi oleh virus (Paramyxovirus) yang menyerang kelenjar ludah (kelenjar parotis) di antara telinga dan rahang sehingga menyebabkan pembengkakan pada leher bagian atas atau pipi bagian bawah.

Oya yang mengantar saya ke dokter ini adalah adik saya. Haduh terima kasih penuh saya dengan dia. Tapi saat dia nemenin dan mendengar penjelasan sang Ahli bahwa penyakit ini menular. Dia spontanitas menghindar dan memegang leher dengan kedua tangannya. (mau gantung diri apa takut lehernya kena ya?. Au ah.

Mengalamin penyakit ini sumpah saya sulit sekali makan, dan mengunyah makanan. Sebab bengkaknya  mulai dari bawah telinga kanan sampai leher,  dan tidak hanya di satu sisi. Tapi sisi sebelah kiri  juga menyerang saya.

Nah  saat akan makan, Urat-urat di belakang area daun telinga saya seperti ditarik dan kerongkongan menyempit.  Sakit sekali. Ditambah juga dengan keadaan badan saya yang  Demam dan kepala pusing. Alllahu.

Selain obat dokter. Ayah saya juga memberi terapi obat dari para leluhur dahulu. Apa itu? Blau (tau kan? Ituloh serbuk yang buat nyuci baju putih biar kinclong lagi) dan air cuka yang biasa untuk masak. Dicampur dan di usapkan di bagian yang bengkak tadi. Untung saya tidak berubah menjadi Hulk. (Si Hulk mah Ijo Dea bukan Biru!)

Syukurnya penyakit ini tidak berlangsung lama cukup 4 hari saja. Tapi ternyata setelahnya ada ‘tamu’ berikutnya lagi yang menghinggapi saya. Selang satu hari setelah Parotitis itu said good bye. Kepala  saya terasa pusing, sulit sekali saya membaca dan  mual-mual yang tak tertahankan. Badan saya mulai demam lagi. Saya pikir ini mungkin cara Parotitis mau mengadakan Farewell (Halah).

Tapi dengan demam yang  tak seberapa dan pusing-pusing kepala yang kadang-kadang menghinggapi saya anggap ini mungkin karna terlalu banyak mikir dan kelelahan. Atau cemas karna sebentar lagi saya mau ujian. Namun saat  jam istirahat siang saat saya sedang leyeh-leyeh. Pusing ini semakin nggak ketulungan dan saya merasa kian hari badan saya semakin lemas.

Sore, hari kedua saya minta tolong adik saya mengantar lagi ke Penasehat Kesehatan saya (idihhh). Setelah di cek tekanan darah, mulut disenter, dan segala sek sana sini. Beliau menyebutkan saya kena Sakit Tifus atau Tipes. (nggak perlu tanya om google ya? Sudah tau kan?)

Sambil nyiapin obat yang bakal saya minum. Ibu dokter nan baik budi juga bilang

“Kok sakit terus, kenapa? Nggak betah ya tinggal di palembang, mau balik lagi ke Aceh?, suka tinggal disana?

Dan saya hanya menjawab

“kok ibu tau” sambil saya nyengir.

Oya dua kali saya berobat dengan beliau. Beliau nggak pernah mau dibayar. Pulang kerumah  Semingguan lebih saya istirahat total. Hanya tidur, Makan obat,  Sholat, Tidur lagi, Muntah.  Tidur makan Obat.  Sholat Nonton sekali. Tidur lagi. Muntah. Tidur lagi. Makan Obat Badan saya lemas sekali.

Tapi lama-kelamaan saya bosan juga tidur-makan obat-muntah, dan terus begitu. Maka saya selingi dengan mengingat not lagu yang pernah diajarkan guru SD. Dan menekan-nekan angka di hape.

Yang saya sering mainkan itu kunci not lagu ini. Lupa judulnya apa, yang inget Cuma bagian reffnya aja.

3          4          5.         5          1          3

Do       a          dan,     res        tu         mu.

2          3          4          .4         3          2.

Sla       lu         ku1      nan      ti          kan

1          2          3          5          3          4          3          2          1

Pe        nuh      de        ngan    ka        sih        nan      su         ci

Saya inget-inget not lagu bunda dan saya teken-teken di hape. Jadi kayak main piano aja. Saya ulang-ulang terus. Bener-bener kayak main piano saya save di file yang masih empty

3 4 5 3 4 5 3
Kubuka Album Biru
1 2 3 1 2 3 1
Penuh debu dan usang
7. 7. 7. 3 7. 2 2 1 7. 1
Kecil bersih belum ternoda

1 1 1 1 7. 1
Tentang riwayatku
6. 7. 7. 2 1 2 3 4 3 2 3 4
Kata mereka diriku slalu dimanja
6. 7. 7. 2 1 2 3 4 3 2 3 4 5
Kata mereka diriku slalu di timang

Reff :

3 4 5 3 4 5 3
Nada nada yang indah
3 1 2 3 1 2 3 1
Slalu terurai darinya
7. 7. 7. 3 7. 2 2 1 7. 1
Tangisan nakal dari bibirku
1 1 1 1 4 1 1 2
Tak kan jadi derita nya
3 4 5 3 4 5 3
Tangan halus dan suci
3 1 2 3 1 2 3 1
Tlah mengangkat tubuh ini
7. 7. 7. 3 7. 2 2 1 7. 1
Jiwa raga dan seluruh hidup
1 1 1 1 7. 1
Rela dia berikan

3 4 5 3 4 5 3 4 5 3 4 5 6 6 6 6 6 7 2′ 2′ 2′ 1′ 7 1′
O oh bunda ada dan tiada dirimu kan selalu ada di dalam hatiku ,..

mungkin orang orang bilang skalian denger lagunya aja. lah jadi saya nggak ada kerjaan. cuma denger lagu. kalau mainin dan inget not lagu minimal tangan dan jemarinya saya kerja. (ckckckc (?))

orang tua sibuk menyiapkan bubur.  Sayur di blender, lauk pauk di blender. Jadi kayak makan bubur tim anak bayi. Adik saya yang juga kecipratan sibuk. Sebab tiap saya muntah-muntah dia kebetulan yang ada dirumah. Pernah sangking tak tahan saya harus ke kamar mandi Saya muntah di depan dia. So sorry Brother. Adik saya juga yang mengepeli lantai yang berlumuran itu.

Dia juga yang menghibur saya dengan cerita  lucu-nya tentang teman kuliahnya, tentang teman-teman SD-nya dulu. Yang membuat saya Ketawa meski dengan muka pucat dan sendu. Tapi saya terhibur.

Oya mungkin dari sakit ini saya jadi bisa buat Quotes bahwa Sakit dan penyakit itu “Mudah sekali datang, tapi lama perginya”  (astaga, entah apa pula si Dea ini)

Kok bukannya saya banyak istiqfar ya saat sakit. Malah dalam tulisan ini banyak ngebanyol nggak jelas. Saya ngerti dan tau saat sakit sebenarnya ladang Allah buat gugurin dosa-dosa. I See it. Tapi tulisan ini saya tulis buat bersyukur sekali di kasih kesempatan sakit (?). Ya minimal saya punya ide sederhana buat nulis. Saya bisa silaturahmi dengan bu dokter, (dua dari jutaan syukur dari sakit). Maksud saya juga biar  pas ada yang baca  (siapa tau ya J ada yang baca ) nggak berasa saya kayak orang bener-bener terkulai,  tak berdaya dalam sakit. Dan sakit ini nggak parah kayak orang yang harus operasi karna penyakitnya sudah gawat. Insyallah nggak segitunya. Dan isyallah esok saya sudah membaik.

Okey.  Sampai disini dulu nulisnya.

Danke, Grazie, Xi Xi, Arigato, Gamshamnida, Merci Beaucoup!

Assalamualaikum.:)

 

 

 

 

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s