Menjadi Guru [Kembali] dan Sebuah ‘bekal’ dari WS Rendra


Image gambar diambil dari ilustradoradeprincesas.wordpress.com 

Besok adalah kelas perdana saya menjadi guru kembali. Setelah 2 bulan 22 hari saya menggantungkan status dari seorang pengajar di sebuah sekolah nun jauh di ujung barat pulau sumatera ini, Aceh. Maka esok adalah kembali saya akan mengajar, berdiri di depan para murid. Tapi kali ini suasananya berbeda. Saya tidak mengajar disebuah sekolah, dimana meja dan kursi tersusun rapi di dalam sebuah kelas. Dimana siswa-siswinya berseragam rapi. Dimana saya bisa bertemu dengan partner pendidik yang lain. dan dimana murid-muridnya berjumlah banyak dan berusia remaja.

Kali ini saya akan mengajar di depan rumah.  luas pekarangan yang tak seberapa itu, akan saya sulap menjadi kelas.  Kami akan belajar lesehan dengan tikar plastik, meja-meja lipat ringan yang bisa mereka bawa. Anak-anak murid saya adalah bocah-bocah kecil yang usianya belum genap 10 tahun. Dan jadilah saya, yang dulu berhadapan dengan anak-anak SMA yang belajar dewasa. Kini bertatapan dengan anak-anak SD yang belajar menjadi remaja.  Saya menjadi guru Les mereka di sebuah bimbingan belajar sederhana yang coba saya lakoni dan saya produksi sendiri. Saya direkturnya, saya sekretarisnya, saya administratorrnya, dan saya pulahlah guru mereka.

Tidak sulit. Karna saya menjalaninya dengan senang hati. Mulai dari membeli peralatan yang dibutuhkan dalam mengajar. Mempersiapkan berkas admisnistrasi bagi calon peserta bimbingan belajar. Menentukan metode mangajar yang harus berbeda dengan sistem di sekolah, dimana saya hanya menerima maksimal 5 siswa dalam 1 kelas. Menentukan jadwal berselang dan pilihan waktu yang tepat (karna setiap jenjang siswa disekolah berbeda jam belajarnya) maka di bimbingan belajar ini saya harus menyesuaikan dengan jam belajar mereka disekolah.

Semingguan ini saya kerap harus belajar otodidak sendiri behadapan dengan kurikulum baru 2013 yang sudah diterapkan di Sekolah Dasar. Otak saya berfikir untuk menyesuaikan kurikulum baru ini dengan bimbingan belajar yang saya gagas. Agar siswa-siswa saya tidak kagok jika mata pelajaranya tak sama dengan yang mereka pelajari disekolah. Dan malam ini ditengah kerisauan saya mempesiapkan materi untuk mengajar esok. Saya menemukan sesuatu yang serasa pas sekali untuk  bekal saya esok sebagai guru (Kembali).

Sajak Seonggok Jagung (WS. Rendra)

0

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Yang kurang sekolahan
Memandang jagung itu

Sang pemuda melihat lading
Ia melihat petani
Ia melihat panen
Dan suatu hari subuh
Para wanita dengan gendongan
Pergi ke pasar

 

Dan ia juga melihat
Suatu pagi hari
Di dekat sumur
Gadis-gadis bercanda
Sambil menumbuk jagung
Menjadi maisena

Sedang di dalam dapur
Tungku-tungku menyala
Di dalam udara murni
Tercium bau kue jagung

 

Seonggok jagung dikamar
Dan seorang pemuda
Ia siap menggarap jagung
Ia melihat menggarap jagung
Ia melihat kemungkinan
Otak dan tangan
Siap bekerja

 

Tetapi ini :

Seonggok jagung di kamar,
takkan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya hanya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan…

 

Yang tidak terlatih dalam metode,
dan hanya penuh hafalan kesimpulan,
yang hanya terlatih sebagai pemakai,
tetapi kurang latihan bebas berkarya,

Pendidikan telah memisahkannya dari kehidupannya !

Aku bertanya
Apakah gunanya pendidikan,
bila hanya akan membuat seseorang menjadi asing
di tengah kenyataan persoalannya ?

Apakah gunanya pendidikan bila hanya mendorong seseorang
menjadi layang-layang di ibukota,
menjadi sekrup-sekrup di Schlumberger, Freeport, dan sebagainya,
kikuk pulang ke daerahnya ?

Apakah gunanya seseorang
belajar teknik, kedokteran, filsafat, sastra,
atau apa saja,
ketika ia pulang ke rumahnya, lalu berkata :

“Di sini aku merasa asing dan sepi !!”

 

Pendidikan sejatinya membuat peserta didik terinspirasi dan semoga terus dan selamanya menjadi inspirasi oleh para murid dan orang tua. Pendidikan semoga selalu menjadi wadah bagi siapa pun yang haus akan ilmu pengetahuan. Bukan menjadi momok dan keterpaksaan karna ingin mengejar nilai-nilai tinggi agar dapat  bertengger di dalam raport atau Ijazah  demi sistem standar kelulusan.

Dizaman sekarang ini, dan dimana saat saya menjadi guru, saya tak ingin para murid dan wali murid berkejaran dengan nilai-nilai raport, peringkat-peringkat dikelas, angka-angka yang membuat mereka bangga namun didapat dari hasil yang tak jujur, dan kerap membuat mereka tak sadar terperangkap dalam ritme ingin mencapai kuantitas bukan kualitas. Pendidikan semoga bukan tempat mencetak generasi yang akal, hati dan jiwanya terpasung dalam sebuah sistem. Sulit keluar. Dan bingung mau melakukan apa ketika dihadapkan dengan seonggok jagung di dalam kamarnya. 

 

Semoga sesuatu itu bisa berubah lewat langkah kecil ini, lewat generasi baru di tingkat Dasar. (baca SD)

 

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Pendidikan.. Tandai permalink.

6 Balasan ke Menjadi Guru [Kembali] dan Sebuah ‘bekal’ dari WS Rendra

  1. manna johnny berkata:

    congratulation ayukk, sukses selalu, Allah bersama mu

  2. ferhta berkata:

    wuuiiiihhh Dea inspiratif!!
    keren!! sukses ya dg Dea Schoolnya
    brapa org yg udh dftr??

  3. Isratul Izzah berkata:

    go go go pendidikan Indonesia!
    mantap kak, pny bimbingan belajar sendiri 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s