CHALK


Senin pagi, awal pekan pelajaran dimulai. Lepas satu mingguan yang dihiasi oleh agenda midterm untuk para siswiku. Aku sampai di koridor salah satu gedung di tempatku mengajar. Aku melihat susunan whiteboard. Whiteboard bekas sepertinya. Kupikir benda itu semua baru dilepas dari setiap kelas dan akan diganti dengan whiteboard yang baru. Padahal menurut pengamatanku benda yang menjadi salah satu media bagi guru mengajar itu, masih layak pakai. Belum ditemukan adanya kerusakan di setiap bagiannya. Tapi, ah apa urusanku soal ganti menganti whiteboard. Forget it.

Aku menyusuri koridor sekolah, membalas sapaan para siswiku yang pagi itu terlihat santai duduk di depan kelas. Menunggu apel pagi.

Ya senin seperti biasa aku kebagian mengajar di jam pertama. Yang dimulai pukul 08.00. Tiga menit Sebelum bel berbunyi aku sudah keluar dari Teacher’s Room. Membawa laptop dan ‘beauty case’ maksudku kotak pensil :D. Aku gegas melangkah karena kali ini aku harus berjalan sedikit jauh ke ruang kelas VII yang berada di gedung seberang, yang berhadapan dengan gedung dimana Teacher’r Room berada. Aku tak mau telat. Langkah-langkah kakiku kuperbesar (?) kupercepat.  Dannn…Sukses. Bel berbunyi tepat saat langkah pertama kakiku memasuki ruang kelas VII.

“hello everybody, how are you?” aku menyapa mereka sambil meletakkan peralatanku.

“not bad, so far so good, just so so…”

Kulanjutkan dengan membagi hasil midterm mereka. Wajah-wajah yang baru melihat hasil midterm beragam. Cemberut, sumringah, datar dan kuperhatikan kebanyakan wajah mereka lebih didominasi wajah-wajah kurang enakan :D.

okey, let we’re investigati it

Aku memutar badan dari menghadap para siswiku lantas membelakanginya.

Jemari tangan kananku yang telah siap hendak menuliskan sesuatu ke whitebord seketika mengawang. Karna pemandangan di depanku sudah berubah. Bukan lagi whiteboard tapi sudah diganti dengan Greenboard. Seketika pula aku berbalik menghadap para muridku

Sambil tesenyum, dan menunjukkan jemariku ke belakang ke arah Greenboard.

“the new performance, is it right?”

“Yeahh, You Know miss, so we are like in japan’s school”

Ya, sangking semangatnya kau mengajar hari itu, aku tak memperhatikan ada sesuatu yang terlihat baru di ruang kelas. Dan mulai sekarang disetiap kelas di sekolahku sudah memakai greenboard.  Sambil mengajar benakku masih bertanya. Memakai Greenboard berarti sekolah ini kembali ke zaman purbakala ups maksudku ke zaman beulak dimana saat menuliskan sesuatu di sana, kita harus menggunakan kapur tulis. Debu-debu berterbangan, tangan menjadi kotor dan jorok, belepotan warna putih. Batuk. Padahal sekolah di mana tempat ku mengajar adalah sekolah yang terbilang terkenal karena standar internasionalnya hohoho *nggak ada maksud sok-sok-an, percaya deh. Aku juga heran mengapa film-film jepang dengan alur ceritanya pendidikan dan sekolah  justru lebih dominan menggunakan kapur ketimbang spidol. Setahuku menggunakan spidol lebih modern, meski saat ini ada yang jauh lebih modern yakni smartpen sebagai pasangan dari smartboard. Apakah kapur tulis mulai digunakan kembali sebagai senjata untuk melempar siswa yang ketaunan mengantuk, atau ngobrol di kelas? *halah, ngawur mulai deh…:P

Lantas saat jam break dari mengajar aku mensearch manfaat dari memakai kapur tulis ketimbang spidol. Dan Tarrraaa… kudapatilah kebenarannya bahwa ternyata lebih aman menggunakan kapur tulis ketimbang spidol. Meski keduanya sama –sama berbahan dasar kimia. Pun secara dzohirnya, menggunakan spidol lebih praktis, tulisan lebih rapi, tapi taukah sebenarnya aroma yang sering tercium dari spidol justru lebih berbahaya bagi kesehatan kita.

Untuk lebih jelasnya, artikel yang saya baca di internet di http://www.gaptekupdate.com/2011/06/spidol-lebih-berbahaya-dibanding-kapur-tulis/, dan beberapa blog lainnya yang juga menuliskan hal yang sama tentang bahaya menggunakan spidol, dan lebih amannya menggunakan kapur  ada di bawah ini:

Zaman sekarang, sekolah-sekolah tampaknya lebih memilih untuk menggunakan spidol dan papan tulis putih (whiteboard) ketimbang kapur tulis yang berdebu. Tapi tahukah Anda bahwa kapur tulis lebih aman ketimbang spidol?

Kapur tulis sudah sangat jarang digunakan di sekolah-sekolah yang ada di perkotaan, meski masih banyak digunakan di sekolah yang ada di pedesaan karena harganya yang lebih murah. Kapur tulis sering dianggap kotor dan berdebu, juga dianggap dapat membahayakan kesehatan. Namun pada dasarnya bahan dasar kapur tulis tidaklah beracun. Kapur tulis standar yang digunakan di kelas pada umumnya terbuat dari kalsium karbonat, yaitu bentuk olahan dari batu kapur alam.

Untuk beberapa orang yang menderita asma atau masalah pernapasan seperti batuk, debu dari kapur tulis bisa menjadi alergen atau pemicu kambuhnya penyakit, yang ditandai dengan gejala batuk, mengi, sesak dada dan sesak napas.

Hal ini karena partikel kapur tulis yang tergolong besar (sehingga masih terlihat beterbangan di ruangan) tersaring oleh filter pertama pada sistem pernapasan manusia, yaitu bulu hidung.

Partikel kapur tulis tersebut tidak masuk ke dalam paru-paru namun tertahan oleh bulu hidung, sehingga untuk beberapa orang debu kapur tulis bisa menyebabkan reaksi bersin dan batuk.

Sedangkan spidol yang dianggap bersih, tak berdebu dan aman ternyata mengandung bahan kimia yang disebut xylene, yaitu bahan kimia inilah yang menimbulkan aroma khas pada spidol dan juga banyak digunakan pada cat, thinner dan pernis.

Xylene adalah bahan kimia beracun yang ditemukan pada banyak barang-barang rumah tangga. Bahan kimia ini merupakan salah satu dari 30 bahan kimia yang diproduksi di Amerika Serikat.

Partikelnya yang kecil paling mungkin memasuki tubuh ketika dihirup. Menghirup racun dalam spidol dapat memiliki efek jangka pendek dan jangka panjang. Bahan kimia ini dapat menimbulkan gejala inhalasi mirip ketika orang menggunakan obat penenang atau alkohol, yang efeknya bisa bertahan hingga 15 sampai 45 menit.

Dari hasil studi yang dikutip dari Toxicological Profile for Xylene, Agency for Toxic Substances and Disease Registry, efek jangka pendek dari xylene bisa mengganggu pernapasan, pusing, sakit kepala dan kehilangan memori jangka pendek.

Sedangkan efek jangka panjang dapat menyebabkan kerusakan otak permanen dan kerusakan hati, ginjal dan sistem saraf pusat. Beberapa merek spidol juga mengandung propyl alcohol yang tidak terlalu beracun tetapi dapat mengiritasi mata, hidung dan tenggorokan.

Untuk mengatasi bahaya tersebut, sebaiknya jangan gunakan spidol dengan jarak dekat atau dalam jangka waktu yang lama. Juga jangan dengan sengaja menghirup spidol dan batasi penggunaannya.

Ventilasi ruangan yang baik, segera mencuci tangan dan sering-sering bernapas dalam udara yang segar dapat mengurangi dampak dan bahaya dari debu kapur tulis dan juga partikel spidol.
http://www.gaptekupdate.com/2011/06/spidol-lebih-berbahaya-dibanding-kapur-tulis/.

Nah buat sekolah yang masih menggunakan kapur tulis, nggak perlu minder, nggak perlu merasa ketinggalan zaman. Nggak perlu takut kotor, sudah ada kok alat buat ngebungkus kapur tulis agar tak belepotan di tangan kita, sekaligus menjepitnya supaya tak mudah patah-patah saat kita mau memakainya. Dan buat sekolah yang masih setia menggunakan spidol ada baiknya beralih ke Kapur tulis yang lebih aman. Buat ibu-ibu guru yang sedang hamil harus sangat hati-hati sekali menggunakan spidol, jika disekolah anda masih menggunakan alat tulis ini di papan tulis.

Jadi sekali lagi beralih ke kapur tulis bukan berarti ketinggalan zaman, nggak modern, bukan berarti sekolahmu pelit, nggak mampu beli whiteboard dan spidol. Dan bukan pula berarti kapur tulis buat nimpukin anak murid yang ketaunan ngobrol atau tidur di kelas.:P

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan.. Tandai permalink.

6 Balasan ke CHALK

  1. sianakdesa berkata:

    gak sengaja terdampar kemari.hehe.. izin baca mbak 😀

  2. Tulisan yang bagus..semangat mba

  3. milono berkata:

    chalk> hmmm….beberapa tahun yang lalu aku pernah dilempar pakai ini di kelas.
    hahaha….konyol kebangetan sih.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s