TOEFL I’m In Love


*sepenggal cerita dalam sebuah novel yang coba kuramu

Bagi tadi lepas sholat subuh, aku mengecek berita online di laptopku: mengecek info beasiswa di kolom Kompas, Viva News,  Oke zone.com dan tak lupa facebook. Hari ini aku absent mengajar, maka aku tak seperti biasa gegas menyiapkan perihal apa-apa yang akan ku bawa ke sekolah. Aku sudah mendaftarkan diri  mengikuti tes ujian bahasa inggris di lab bahasa di kampus. Dan hari ini adalah jadwal dimana aku harus pergi ke sana. Aku hanya ingin mengukur kemampuan bahasa inggrisku sebelum benar benar mengikuti Tes TOEFL ITP sebagai salah satu syarat mendapatkan beasiswa ke luar negeri.

Setelah sarapan yang menu pagi ini hanyalah segelas susu coklat dan olesan taburan mises di roti tawar yang kebeli kemarin sore. Aku mengecek ulang barang bawaanku. Laptop dan charger, dompet, hape, bekal makanan dan sebotol air minum.

Sodara-sodara perlu diketahui aku benar-benar tak mempersiapkan diri untuk belajar. Aku hanya bermodal mengingat bahan-bahan yang kupelajari 2 bulan lalu lewat seorang asisten Dosen bahasa Inggris.  (NEKAT BOWWW).

Sesampainya di gedung rektorat yang gagah berdiri kokoh. Aku masuk ke sana, menerobos ruang-ruang kantor yang lengang, kerena para pegawainya belum semua terlihat hadir. Bangunan rektorat ini baru saja selesai di bangun. Gayanya yang menimalis, vertikal dan horizontal, serta warna abu-abu putih yang membuat tampak lebih ‘seksi’. Aku menyebarang lapangan yang memisahkan gedung rektorat dengan lab bahasa yang akan aku tuju.

Melihat ke atas ke koridor lantai dua. Aku mengenali laki-laki itu yang sedang berjalan memasuki sebuah ruang. Laki-laki berkemeja putih, yang lengan bajunya selalu dia gulung 3/4 (Cieee, si Dea Perhatian oi)

Aku memilih berjalan menuju pintu sebelah kanan. Jadi kami ceritanya ini berjalan  berseberangan. Ia masuk gedung dari sayap kiri, sedang aku sayap kanan. Ia sudah lebih dulu memasuki ruang. Aku gegas, berlari-lari kecil di tangga. Bertemu dengan salah satu peserta ujian. Dan kutanya apakah ujian sudah berlangsung? Dia menjawab belum.

Aku  berjalan terus di lorong gedung lantai dua yang sedikit gelap. Sampai tiba di lab bahasa. aku tercengang bahwa kursi-kursi ujian sudah terisi. Aku membuka dompet mengecek kartu ujian melihat nomor kuris dimana aku harus duduk. Dan aku duduk di pojokan, aku mendapatkan kursi paling belakang, paling sudut. Itu kursi adalah nomor terakhir. Memang saat mengambil kartu aku tak mengecek lagi, aku berada di posisi mana. Ya sudahlah.

Saat tiba di kursiku. Seorang laki-laki di sampingku menegur, yang kutaksir sepertinya ia mahasiswa Teknik. Terlihat dia sedang membawa buldozer alias tabung tempat gulungan kertas gambar. Ia bertanya padaku

“ada pensil dua?”

“oh? Ada. “

Keserahkan padanya pensil 2B yang sudah kuraut

Setelah memastikan pensil, pulpen, kartu ujian ada di atas meja. Aku mengamati sekeliling ruangan. Ah laki-laki berkemeja putih itu ada di ruang kaca depan. Dimana tempat para asisten lab. Aku melihatnya sekilas. Terlihat ia sedang sibuk mempersiapkan kertas-kertas ujian. Dia belum melihatku. Belum mengetahui keberadaan ku. (emang siapa kamu De?….GR!)

Ia keluar dari ruang kaca. Berdiri di posisi tengan di depan para kontestan ujian, Setelah ia mengucapkan salam. Memberikan instruksi apa-apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama ujian, memberikan pensil kepada peserta ujian yang lupa membawa pensil. Laki-laki itu terus berbicara sambil mengamati peserta ujian. Aku memperhatikan apa yang sedang ia instruksikan kepada kami. Aku serius menyimaknya. Namun, seketika laki-laki itu diam, mata laki-laki berkemeja putih itu bersitatap denganku. Ada desiran yang entah apa kusebut di dalam hatiku. Dan seketika aku pun reflek senyum ke arahnya, sambil menundukkan sedikit kepala dan melambaikan tangan. Ia seperti terkejut. Raut mukanya berubah sedikit merah. Namun tak ketinggalan ia pun tersenyum Dan juga menundukkan kepalanya. Ah kami saling sapa dalam bahasa yang terlalu aneh sepertinya. Namun seketika tata bicaranya jadi amburadul tak selancar tadi.  Aku jadi merasa bersalah telah mengacaukan konsentrasinya. Xixixi

Ujian berlangsung. Pertama adalah sesi listening (mendengarkan 2 bule-bule bercakap-cakap). Laki-laki itu lepas memberikan instruksi ia kembali memasuki ruang kaca. Duduk di sebelah kanan. Dimana wajahnya tak terlihat lagi. Sepertinya ia memang sengaja (Seng sabar ya Nduk, elus kepala sendiri)

Setelah mendengarkan bule-bule bercerocos panjang lebar. Kami memasuki sesi selanjutnya. Reading dan structure. Semua peserta ujian sibuk menekuni lembar-lembar ujian. Aku pun begitu. Dan telah melupakan si laki-laki berkemeja putih itu. Satu setengah jam berlalu. Kepalaku sakit, lelah menunduk melihat kertas, dan memikirkan jawaban soal-soal yang belum ku isi. Sekilas aku melihat sekeliling ku. Mematahkan leher ke kiri dan kanan, namun seketika gerakankaku berhenti saat tak sengaja mataku melihat laki-laki itu sedang melihat kearahku. Entah mungkin sudah berapa lama ia seperti itu. Aku reflek langsung menunduk mengamati lembar  kertas.

Aku gegas menyelsaikan soal-soal yang belum kuisi, dan Laki-laki itu berbicara kepada kami  “waktunya tinggal 10 menit lagi“

Para peserta ujian sudah banyak yang keluar dari ruangan, tinggal beberapa orang lagi yang terlihat masih khusyuk mengerjakan soal-soal ujian. Tak terkecuali aku. Aku membolak-balik soal-soal. Melingkari bulatan-bulatan di kertas jawaban. Membaca ulang soal-soal yang sedari tadi masih ada yang membuatku ragu menjawabnya. Mengecek kembali jawaba-jawaban yang telah kuisi.

Dan satu menit sebelum waktu ujian berakhir, aku sudah sempurna menjawab semuanya. 150 soal ujian itu. Entah bagaimana hasilnya.

Laki-laki berkemeja putih itu menghampiri mejaku

“How are you?and how about this examination” tanyanya.

“huff…uumm..its so nice exam. And Me just so so” jawabku sambil senyum dan berlalu.

Sempat  kulihat laki-laki itu tersenyum kearahku.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me.... Tandai permalink.

3 Balasan ke TOEFL I’m In Love

  1. Mulia Ulfa berkata:

    Ini beneran gak ya…beneran gak ya… *bayangin cowok yg kak Dea sapa* hahaha

  2. deapratini berkata:

    itung satu rentengen buah pete, beneran…nggak….nggak….beneran…, 😀
    lia kakak kok susah kali komen di blogmu?

  3. Mulia Ulfa berkata:

    Lia aja bisa komen di blog kakak ada caranya.hehe :
    1. Add blog wordpress kk ke daftar teman di blogspot
    2. Utk bisa tau ada balesan dr komentar disini,harus aktifasi dulu dg link yg dikasih wordpress ke email lia 😀
    Susah krn kita mungkin beda kak.Lia blogspot kk wordpress.ada langkah2 awal dulu 😉

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s