Kak Icut


 “Let me be alone. In the nervousness without you in. Feeling likes you keep lying to me. My eyes have been deceived. You made me doubt. You distrusted me. Don’t touch me. I feel  that I completely disappear.  You disparaged my feeling and reliance on you. I don’t know when I can see you with joy. Perhaps, love is gone. Al right, that’s enough. I know who I ‘am. I ‘m only your diversion whom you can’t ever turn to be a polished diamond. There aren’t ever aby struggling word here. You’re only my master and I’m  your faithful follower.  I’m not precious stone. As you have never slipped my finger with such shine . However, I ask you a single thing. Let me be the lover  for the three of them . I’ m their good servant. Let me be your best  friend for them forever”.

30 Desember 2011

Malam itu jam 23.00, sesaat aku hendak memejamkan mata. Rehat dari rutinitas harian yang menguras pikiran dan tenaga; mengajar. Aku dikejutkan dengan bunyi sms yang masuk di hp dari seorang kakak tingkatku di organisasi  kampus.

“ dek coba buat tulisan ini dengan bahasa inggris ya? Ya…ya..ya? please….:. Kalau bisa dalam dua hari ini ya : (Biarkan aku sendiri dulu. Dalam kegelisahan yang tak kau temani. Merasa terus tertipu. Mataku telah kau kelabui. Hatiku terus kau buat ragu. Ragaku terus kau curangi. Jangan sentuh aku. Aku sudah merasa lenyap. Kau remehkan perasaan dan kepercayaanku. Entah sampai kapan lagi aku bisa memendangmu dengan hati tenang bergelora. Karena mungkin cinta akan pergi. Ah sudahlah percuma . Aku sadar siapa aku. Hanya hiburan yang tak kan pernah kau ubah menjadi intan berlian. Tak pernah ada kata-kata perjuangan itu disini. Untukku kau sudah bagai tuan yang berkuasa. Dan aku hanya pengikut setiamu. Bukan lagi permata yang indah. Karena jari manis ku pun terbukti tak pernah kau selip dengan kilauannya. Tapi tetap satu yang kupinta. Selipkan aku sebagai pencinta sejati mereka bertiga. Aku lah pelayan terbaik mereka. Tetap jadikan aku sahabat terbaikmu bagi mereka).

Sms dari kak Cut Raisya faradila. Begitu namanya.  Aku  dan para temannya memanggilnya dengan sapaan Kak Icut.

Aku mengenalnya lewat sebuah organisasi intra mahasiswa di kampusku. seorang aktivis senior yang cantik. Tinggi 165, wajah manis, dengan hidung mancung dan mata besar, bulu mata panjang lentik, deretan gigi putih bersih yang rapi. Manarik. campuran darah biru Aceh-jawa. Aku cukup menyebutnya sebagai kakak senior yang good looking. Aku adalah juniornya saat itu yang masih meraba-raba organisasi mana yang cocok dan nyaman buatku. Sedang beliau adalah seniorku yang aktivitasnya sangat padat dan tinggi. Dari organisasi tingkat jurusan sampai tingkat universitas beliau sambangi. Organisasi Internal dan eksternal kampus juga tak ketinggalan. Wajahnya selalu muncul di setiap kepanitian acara.  Beliau juga tercatat sebagai asisten dosen di kelas internasional. Bagiku beliau adalah sosok aktivis ideal yang cerdas dan menarik. Terbukti dengan seabarek kegiatan yang digeluti, IPK-nya tetap diatas tiga. Itu aku ketahui dari  kakak kosku yang satu kebetulan satu jurusan dengan beliau ini. Aku menjadi sangat simpati padanya. Aku ingin mencuri rahasia kecerdasan beliau itu yang bisa membagi waktu antara oraganisasi dan kuliah yang dua-duanya sukses.  Namun tidaklah mudah bagiku untuk menjadi akrab dengannya. Hampir tak ada waktu yang membuatnya duduk lama di suatu tempat. Ia seperti kancil yang cepat sekali berlari dari suru rapat ke rapat lain. Dari satu acara ke acara lain.

Tapi siapa sangka aku bisa bertemu dengannya di pengajian rutin kami tiap pekan. Dan aku berada satu grup dengannya dengan satu guru ngaji yang sama. Yang menjadikan kami sering dan pasti akan bertemu tiap pekan kecuali jika aku atau dia berhalangan hadir. Aku menjadi akrab dekat dengannya. dan kami dekat satu sama lain. Beliau sering dengan sukarela mengantarku pulang setelah kajian  dengan motornya.

Beberapa bulan aku tak melihanya di kampus. Terkabar beliau sekarang memutuskan non aktif. karena mendapatkan pekerjaan lapangan di NGO (Non Government Organization). Yang mengharuskannya untuk pergi-pergi keluar kota. Kami jadi jarang bertemu.

***

Terakhir saat  pekanan yang sudah sering tak membuat kami bertemu karena pekerjaannya. Hari itu beliau hadir dengan kabar istimewa: akan menikah. Aku bahagia. Tidak hanya karena kabar itu tapi juga karena cerita tentang siapakah laki-laki yang sangat beruntung mendapatkannya.  Laki-laki itu adalah temannya sesama di organisasi internal kampus. Aktivis dengan aktivis. Klop sekali. Yang aku tau dari banyaknya cerita meraka adalah pasangan aktivis yang sama-sama paham agama.

Kau tau betapa menariknya pernikahan sesama aktivis?. Hal menarik pertama itu ketika acara prosesi ijab qobul. Hari Ahad bulan ke dua tahun 2006. Pagi itu mesjid kampus ramai oleh para tamu undangan yang dominan adalah wajah-wajah mahasiswa teman dari kedua pasangan pengantin.

“saya terima nikahnya Cut Raisya fadilah binti….dengan 15 mayam emas di bayar tunai”

“bagaimana saksi, sah? Pak penghulu bertanya dengan saksi.

“ SAHHH….”Namun justru jawaban ramai, serentak, membahana, gelegar keluar dari lisan-lisan teman-teman akivis mahasiswa itu. Dengan senyum kebahagiannya dan iringan doa dari tetamu.

Kepanitiaan walimatul ursy juga demikian teman-teman pasangan pengantin yang wajahnya tak asing di acara-acara kampus. Mulai dari meja penerima tamu, meja makan, fotografer, perekam video pernikahan, sampai ke panitia cuci piring.

Pernikahan sesama aktivis memang unik

3 bulan berlalu.

Saat aku mengunjungi rumahnya, yang unik dari pasangan aktivis kulihat lagi. Sebuah mading tertempel di dinding. Isinya foto-foto sang pasangan mulai dari yang sok serius sampai yang lebay. Puisi-puisi yang ditulis sang suami. Dan coretan-coretan singkat dari istri.

“suami kakak kan dulu infokom De di BEM” begitu komentarnya saat aku mengamati mading itu lama.

Pernikahan sesama aktivis memang unik

Aku menerima secangkir teh hangat darinya. Kami duduk di beranda. Kebun mawar putih menghiasi taman mungil di depan rumahnya.

“Cinta kakak sudah kebagi dua De buat si abang dan ini…J” katanya sambil mengelus kandungannya yang berusia 3 minggu.

“duileeee….selamat kakak…J. Dan sore itu ia kami menghabiskan waktu bercerita banyak hal.

2 tahun berlalu.

Aku jarang bertemu dengan kak Icut, disamping memang kami tak lagi satu grup di pertemuan pekanan. Aku pun disibukkan dengan praktik kuliah lapangan, dan mengajar di bimbel serta les private.

Sampai suatu siang aku menerima telpon.

“De tolongin kakak dek, Zein kakak sakit. Dea datang ke rumah kakak sekarang. Suami kakak nggak ada lagi di luar kota”

“Dek bisa pinjam uang bentar, bulan depan kakak bayar. Butuh modal buat jualan.” suami kakak di luar kota.

Aku tak mengerti mengapa ia tak mengubungi suaminya, ibu mertua atau  keluarganya.

Menjelang magrib Pertengahan tahun 2011

Deaaa De…, ada yang cari tuh di luar” suara ibu kos memanggilku dari lantai satu.

Kak Icut, yang sudah lama sekali tak bertemu. Sejak peristiwa anaknya sakit. Jelang magrib itu beliau datang ke kosku. Dengan wajah sayu. Aku heran.

 “kakak nggak tau mau kemana De, pusing dirumah. Anak-anak kakak titip dengan mamak. Kakak mau cerai dengan abang”

Aku terkejut dengan kalimat terakhirnya. Aku diam mendengar kaki Icut cerita.

“Suami kakak ada istri lain De ternyata. Mertua kakak lebih suka dengan menantunya yang  itu. Suami kakak cinta kali dengan ibunya. Mereka menikah sudah lama. Semua terjadi setahun setelah kami menikah. Semua tanpa sepengetahuan kakak. Laki-laki itu tetap milik ibunya De meski dia sudah menikah. Jadi tak ada alasan bagi kita kalau dia mau pergi ke tempat ibunya sesering mungkin. Kalau dia lebih memilih menginap di rumah ibunya ketimbang memilih kita yang sangat membutuhkan dirinya. Beda dengan kita yang kalau sudah menikah akan menjadi milik suami”

Sampai menjelang jam 22.00 aku hanya menjadi pendengar ceritanya saja. Sejak lepas magrib tadi listrik padam. Di kamar kosku kami hanya di temani lilin. Wajah wanita didepanku tak menangis. Justru akulah yang menagis. Sharing-nya berakhir dengan panggilan telpon dari sang ibu yang menyuruhnya pulang karena Adam putra ketiga si kakak menangis. Aku mengantarnya sampai ke pintu pagar kos.

1 januari 2012

Kakak ini terjemahannya:

“Let me be alone. In the nervousness without you in. Feeling likes you keep lying to me. My eyes have been deceived. You made me doubt. You distrusted me. Don’t touch me. I feel  that I completely disappear.  You disparaged my feeling and reliance on you. I don’t know when I can see you with joy. Perhaps, love is gone. Al right, that’s enough. I know who I ‘am. I ‘m only your diversion whom you can’t ever turn to be a polished diamond. There aren’t ever aby struggling word here. You’re only my master and I’m  your faithful follower.  I’ ain’t precious stone. As you have never slipped my finger with such shine . However, I ask you a single thing. Let me be the lover  for the three of them . I’ m their good servant. Let me be your best  friend for them forever”.

                                                                        Rumah cahaya Sunday, February, 2012

Telat tapi nekat ikut berpartisipasi dalam milad flp ke 11 di agenda acara ‘satu jam menulis serentak FLP sedunia’ yang selayaknya di posting 3 jam yang lalu

 

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me.... Tandai permalink.

13 Balasan ke Kak Icut

  1. Hasni berkata:

    keren
    aku tunggu cerita selanjutnya

  2. ferhatferhatt berkata:

    nice sekali ceritanya dea. engglish mu bagus yaa..

  3. Khaira berkata:

    is that a true story?
    I’m just wondering, mmm… if a man intends to remarry, doesn’t he even bother to tell his wife?
    Nice written… 🙂

  4. sianakdesa berkata:

    mengharukan ceritanya 🙂

  5. deapratini berkata:

    judul kisahnya apa sianakdesa? kalau yang dea posting ini senyata-nyatanya memang kisah seseorang yang dea buat menjadi tulisan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s