Cuek dan Mandiri


Siang itu saya dan beberapa guru menceritakan tentang para siswi kami yang para orang tuanya adalah woman career atau man career (?). Yang memiliki kesibukan dari lepas Subuh sampai lepas magrib bahkan menjelang isya. Yang aktifitas orang tuanya  dari pagi bahkan sampai pagi lagi. Yang pekerjaan orang tuanya membuat mereka harus ditinggalkan berhari-hari.

Maka saya jadi teringat dengan curhatan beberapa siswi  yang saat saya tanya:

“Apa harapan di tahun baru ni? “

“semoga ayah tidak selalu pergi-pergi. Semoga mama punya banyak waktu dirumah”

Atau

“saya miss, merasa lebih enak tinggal di asrama ketimbang pulang kerumah kalau weekend”

loh…emangnya kenapa?”

“Ya sama ja, saya pulang kerumah juga Mama sama Papa nggak ada waktu.”

Maka sering kali saya melihat para siswi yang murung atau memiliki mimik wajah bingung, ketika acara pembagian raport. Sebab ada beberapa orang tuanya tak bisa berhadir untuk menemani mengambil raport anaknya. Para siswi itu rata-rata memiliki sikap yang sering cuek dengan keadaan sekitar. Lebih tepatnya tidak perduli. Sibuk dengan aktivitasnya sendiri. Pernah saat saya memasuki sebuah kelas. Saya sudah berdiri di depan para siswi. Ada seorang siswi yang masing sibuk bercerita dengan temannya. Duduk diatas meja. Saya perhatikan dirinya. Dia tetap cuek. Ketika saya tegur barulah dia beranjak.

Saya juga jadi teringat dengan anak private saya. Rania namanya Bocah cantik kelas satu SD. Orang tuanya juga bisa di bilang sibuk. Ayahnya seorang kepala instansi pemerintahan di Kota Banda Aceh. Ibunya memiliki Usaha di bidang kecantikan yang cukup bonafid . Nabila pernah bilang

“saya sedih lo kak Dea, selalu di tinggal sendiri di rumah. Mama sama papa kalau pulang sering malam”

Saya terkejut waktu mendengar Rania berbicara seperti itu. Rumah orangtuanya besar, luas, bertingkat. Saya tak bisa membayangkan kalau dia tinggal sendiri. Hanya berteman dengan TV. Dari siang lepas pulang sekolah jam 12 Sampai malam. Rania pernah cerita kalau dia pernah ditinggalkan di mesjid sampai lepas isya jam 20.30 karena orang tuanya lupa menjemput dia dari kelas TPA-nya
(Taman Pendidikan Al-quran). Kelas TPA selesai jam 18.00. Papanya masih ada rapat, pertemuan dan entah apa lagi dengan para tetamu di kantornya. Begitu pun dengan mamanya.

Setiap selesai memberikan les private dengan Rania. Bocah itu langsung mendekati kursi malas. Men-seting ukuran kursi seukuran dengan badannya. Lalu duduk dan nonton TV acara kartun-kartun. Saya kasian melihatnya.

“Rania, kak Dea pamit pulang ya? Berani sendiri di rumah?”

“He eh” Rania mengangguk tanpa menoleh ke arahku

“Eh kak Dea keluar ni, kunci pintu terus ya”

Lepas kami salaman, Aku keluar, dan klik,terdengar bunyi pintu yang langsung dikunci oleh Rania.

Saya sendiri jadi berkesimpulan bahwa anak-anak yang orangtuanya sibuk menstimulus mereka untuk  menjadi pribadi yang cuek.  Tidak perduli dengan keadaan. Pribadi yang kurang peka dengan kondisi sekitar. Namun juga bisa menjadi pribadi yang mandiri. Mengapa bisa saya katakan demikian?

 Saya melihatnya di sebuah kelas XII di sekolah yang saya juga mengajar disana. Tepatnya di kelas XII B. Sedikit terkesan memaksakan jika saya membandingkan pribadi seorang anak didik secara personal dengan sebuah kelas yang jumlah siswinya lebih kurang 20-an yang yang kita bilang plural . Namun ada hal sama bahwa sebuah kelas juga memiliki orang tua yang sering kita sebut dengan Wali Kelas.

Para siswi saya di kelas XII B ini adalah kumpulan siswi yang kreatif, yang humoris, yang menikmati proses belajar, Yang ramah dengan semua guru. Yang membuat saya selalu dan selalu merasa kebetahan dan kenyamanan untuk mengajar mereka. Hal tersebut bukanlah saya sendiri yang memiliki rasa seperti itu terhadap para siswi dikelas XIIB. Guru-guru yang lain pun mengatakan hal sama tentang bagaimana komentar mereka terhadap ana-anak kelas XII B. Setiap acara apa pun kelas XII B adalah kelas yang kompak dan kreatif. Lomba-lomba antar kelas, Dance, nyanyi, Mading, baris berbaris. Selalulah Mereka yang memenangkannya. Dalam setiap tampilan acara, tak ada satu personil pun di kelas itu yang tak ikut serta. Mereka adalah juga anak-anak yang PEDE. Tak perduli dengan julukan dalam setiap tampilan mereka yang sering di bilang “kalian ni kayak mau naik haji aja, tampil semua di panggung”. Mereka kumpulan siswi yang memiliki imajenasi yang luar biasa. Pernah dalam lomba mading. Mereka membuat mading yang berbeda. Gambar-gambar tempurung otak manusia yang didalamnya berisi pikiran : Ujian, orang tua, OSN, SMPTN, nikah, Universitas, beasiswa, UAN, kaya, angka-angka. Melukis gambar seorang pemancing ikan yang berkata “saya sedang berusaha dan bekerja keras mendapatkan ikan, kalian berusaha untuk UAN dan SMPTN” Yang kebetulan setengah dinding bagian bawah kelas berwarna biru. Maka jadilah seolah-olah mereka belajar di Under The Sea.

Nah kelas XII B itu adalah kelas yang sering di tinggal oleh Wali kelasnya. Lebih tepatnya tidak memiliki Wali kelas dalam jangka waktu yang lama karena sang wali kelas kerap Dipindah tugaskan. Hal itu sudah kali ketiga mereka dapati.  Membuat mereka sering tak di dampingi dalam setiap even-even besar yang melibatkan kepartisipasian kelas. Tapi Hal itu membuat mereka mandiri. Tak manja. Kompak. Ramah, santun dengan setiap guru.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary, Pendidikan.. Tandai permalink.

2 Balasan ke Cuek dan Mandiri

  1. Mulia Ulfa berkata:

    Menjadi guru, sepertinya menarik ya kak. Senang pastinya punya siswa-siswa sprt diatas. Itu jadi ‘warna’ tersendiri di hidup kita 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s