Keranjang Kebaikan



40 menit menjelang dzuhur. Jadwal lessonku di kelas XI A. Aku sudah menyiapkan soal quis yang sudah kujanjikan dengan siswiku di kelas itu minggu lalu. Sengaja tak kuprint soal-soalnya. Aku punya cara yang berbeda untuk memberikan soal kepada mereka kali ini. 15 soal sudah aku siapkan di laptop yang akan aku tayangkan  lewat proyektor yang tergantung di plafon kelas mereka. Kubuat soal-soal itu dengan memakai tampilan powerpoint. 1 soal kutayangkan, mereka membaca dan langsung menjawab di kertas yang telah kusediakan di meja mereka masing-masing. Waktu yang tersedia untuk membaca sekaligus menjawab soal adalah 2 menit.  Jadi tak ada kesempatan untuk mencotek atau bertanya kiri dan kanan. Efektif untuk menghemat waktu, dan meminimalisir (atau bahkan membumi-hanguskan) ketidakjujuran dalam ujian.  Dan jika dalam waktu yang tersedia mereka tak bisa menjawab, maka itu adalah sebuah kerugian yang teramat. Karena soal berikutnya akan segera tampil dan tak ada tayangan ulang pada soal yang telah di putar.

Aku begitu semangat untuk bertemu dengan para siswiku. Sengaja aku keluar dari ruangan teacher’s room sebelum bel masuk berbunyi. Aku menaiki tangga ke lantai dua dengan sedikit berlari kecil. Lalu Bel tepat berbunyi saat pintu kelas XI A kubuka. Seperti biasa dalam jadwal quis yang sudah pernah kubuat. Para siswiku itu akan stanby di kuris mereka masing–masing, and ready to do their ‘job’. Tapi saat aku  membuka pintu kelas mereka  hanya ada tiga orang siswiku disana : Yumelda W Aprilian, Syarifa Diva Mastura, and Raudha. Aku heran…

“so…where are the other?” Kutanya pada ketiganya

“they are in office of academic school” jawab mereka serentak

“why?”

“ wait information from mister Eich about their project”

“ohhhh…”

Aku membagikan kertas ke setiap meja. Memasang kabel charger laptop yang batrenya sudah low. Menekan remote control proyektor dan menghubungkan kabelnya ke laptopku. Selesai.

“okey, are u ready?:)”

“yeahhh, 🙂

“okey, You could read your book first. Our quiz wouldn’t start before they came..:). Your lucky…:)

Sambil menunggu para siswiku yang belum tiba. Aku mengelilingi kelas membaca madding-mading yang mereka buat. Tampilan Kelas XI A terlihat berbeda dari minggu lalu. Sebab 2 hari lalu OSIS mengadakan lomba mading antar kelas.  Plafon kelas mereka terlihat berbeda,  awan-awan buatan yang menggantung di sana-sini. Disetiap awan ada nama mereka. Tempelan kertas-kertas mading berubah isi. Lebih religi. Sejarah peradaban islam menjadi topic utama di sana. Aku  mendekati sebuah meja yang sedari awal aku masuk kelas ini sudah menarik perhatianku. Sebuah meja yang sudah ditempelin kapas-kapas putih. Meja itu sudah penuh dengan awan-awan buatan sampai ke tiang tiang peyanggahnya. Di dinding diatas meja tersebut terlekat sebuah tulisan “THE STATUS OF THE SUNNAH”. Diatas meja ada sebuah keranjang rotan kecil imut yang sudah dibungkus dengan kain berwarna merah hati. Di sisi depan keranjang melekat sebuah tulisan:

 “ Reviving The Sunnah, Awakening the Ummah : “ a good model  for you in the messenger of Allah, For the one has hope allah and the last day, and remember allah profusely. Chapter 33, Al-Ahzab 27” .

Aku penasaran, kepalaku melongo ke dalam keranjang tersebut. Kulihat ada potongan-potongan kecil kertas warna-warni disana. Di samping kanan keranjang ada sebuah tulisan lagi “ Take one, put back, and do the sunnah”.

“May I take it?” kutanya pada mereka

“ooo…of course miss 🙂 

Aku melihat-lihat kertas didalamnya. Lebih tepatnya mungkin memilih :D. Para siswiku terlihat masih membaca buku.

“ recite, “bissmillah” before drinking and say “alhamdulillah” after drinking”

“When wearing shoes first wearing the right shoe then left, and while removing first left and then right”

“To exchange gifts with one other”

“ To sleep on the right hand side keeping right palm under the right cheek”

“Recite “bissmillah” aloud and if we forget we can recite “bismillahi awaluhu wakhiruhu”

“To speak softly and politely”

“One should not eat very hotfood, do not blow on food”

“To consult with one’s parent, teacher or older’s before doing any work”

“To say “alhamdulillah” after we sneeze”

Saat aku sedang membaca itu, beberapa siswiku yang tadi berada di kantor mulai berdatangan. Mereka melihatku yang sedang membaca tulisan-tulisan di kertas itu. mendekatiku.

“no miss, You can’t do like that”

“why?”

“So like this” siswiku menjelaskan

“close your eyes, and take it. You can’t take it what do you want”

“Ahaaa I see…oke…oke..oke I will do it”

Dan aku mengambil satu diantara kertas-kertas yang ada di dalam itu

So for me is : “ to exchange gifts with one other”

Siswiku mengintip kertas yang aku dapat dari belakang. Dan

“wuahhhh, You must give gifts to us” siswiku yang bernama Cut Yuniati teriak membaca kertasku dari belakang.

“yeahhhh, and your gifts is : there isn’t quis for today” saut si Ica, siswiku yang suaranya paling nyaring di kelas. Lalu mulailah yang lain turut menyemangati untuk membatalkan quisku hari ini.

Aku tertawa. and berkata

“sorry, we must still do it. Our quiz had wait us 😀

Kagum dan bangganya aku terhadap para siswiku kembali bertambah dengan kekreatifan mereka menciptakan sesuatu. Bagiku Keranjang yang berisi tulisan-tulisan kebaikan yang diajarkan oleh rosul yang telah mereka buat itu terlihat sederhana. Tapi aku yakin kita akan sepakat berpendapat bahwa apa yang mereka lakukan adalah tindakan positif untuk saling mengingati. Bahwa banyak hal-hal yang terlihat kecil namun bernilai kebaikan besar. Dan masih banyak yang terlalaikan untuk dilakukan. Lalu Aku berpikir tentang keranjang kebaikan (ya aku menamainya Keranjang Kebaikan). Adalah hal kecil yang diciptakan namun bernilai besar jika diterapkan. 🙂

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary, Pendidikan.. Tandai permalink.

2 Balasan ke Keranjang Kebaikan

  1. Rachmat berkata:

    Subhanallah..menarik sekali…
    Betapa duniamu dikelilingi begitu banyak hal yg menginspirasi, memancing kreatifitas dan membuat imajinasi mengembara dengan leganya…
    Sist, coba deh kelas uniknya difoto dan ditampilin..supaya yg baca bisa merasakan suasananya…

    • deapratini berkata:

      :), makasih Rachmat sudah mampir di Singgah Kudai. Iya rencananya memang mau upload fotonya juga. tapi masih ada kendala. kapan-kapanlah kalau saya ngeposting lagi tentang Sekolahan insyallah bakal saya sertakan juga gambarnya…:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s