Ky


Ky, mengapa kau diam?. Sepertinya sekarang kau berbeda. Pada akhir keputusan malam itu. Meski saling bertemu. Dan teramat sering bahkan. Tapi kita seolah tak acuh. Aku entahlah. Sejak malam itu menjadi merasa kehilangan.

Tau kah kau, Bahwa membaca namamu saja, aku sudah merasakan hal yang entah harus kusebut apa di hati. Aku ingin menegur, tapi teramat takut, bahwa kau hanya akan diam.

Dan benarlah dugaanku. Saat aku memberanikan diri menyapamu. Dengan segenap kekuatan dan keberanian hati (kau tau itu). Ya aku menyapamu. Memanggil namamu. Lalu kau hanya menimpali sesekali saja. Perbincaangan kita hanya berjalan satu arah. Aku seolah menjadi pewawancara. Itu bukan gaya komunikasi kita. Aku menyakini itu. Yang aku tau kau sangat suka bercerita. Kau selalu membuat obrolan kita menjadi 2 arah yang hidup. Mendengarkan dan didengarkan adalah ciri khas komunikasi kita. Tapi saat itu, Kau seolah menutup pintu lisanmu. Dan akhirnya pembicaraan kita menjadi timpang. Aku sedih.

Kau tau Ky. Aku teramat kehilanganmu. Sosok teman yang bisa saling berbagi. Atau pada gestur tubuhmu yang enggan merespon sapaanku adalah caramu untuk bilang : “De kau inkonsistensi terhadap keputusanmu”. Benarkan demikian Ky yang ingin kau katakan?

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Satu Balasan ke Ky

  1. deapratini berkata:

    iya. tiba-tiba saya terbentur tembok ide.:D dan saya belumlah tau jalan keluar buat nerusin lagi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s