Ganbareba, Dekiru!*


Kemarin, Kamis sore saya pergi ke rumah Sensei. Belajar bahasa Jepang. Tiga teman saya absent berhadir di kelas itu. Jadilah saya sendiri belajar. Merasakan atmosfer belajar private dengan Sensei. Saya bertanya tentang segala materi yang saat dulu tak sempat saya dapatkan. Juga materi-materi yang terlupakan. Ditengah hujan sore itu hati saya cemas. Tak seperti biasanya. Sebab Rabu kemarinya Bos saya di FLP 🙂 yang dengan semangat men-Tag terkait kabar beasiswa munbukagakusho yang beliau beritakan lewat dinding Facebook saya:) Arigato Riza san  🙂 gambaru ne 🙂 .  Lalu saya merasakan bahwa Tanah Jepang semakin dekat saja. Bahwa Sakura semakin nyata  untuk tak sekedar dilihat namun juga disentuh. Hehehe…..Ada sensasi Ke-pede-an yang hadir setiba itu di diri saya. Tapi Saya lebih menyukainya dengan menyebutkan sensasi semangat: semakin bergiat dalam belajar….belajar….belajar.

Karena bekal bahasa yang masih jauh untuk di bilang cukup. Ya bagaimana tidak sampai memasuki bulan ke dua saya mengikuti kelas Ningoho, saya masih harus melihat catatan huruf-huruf Hiragana untuk membaca buku pelajaran jepang. Belum hafal kosakata-kosakatanya. Masih terbata-bata mengeja kalimat-kalimat di dalam buku panduan belajar yang berjudul Minna no Nihongo.

Ditengah hujan yang juga belum reda. Sensei sesekali menceritakan pengalamannya selama tinggal di negeri empat musim itu. Tentang bagaimana masyarakat jepang yang sangat berprinsip dan tidak menyukai ke-inkonsistensi, Professor-profesor disana yang begitu sangat-sangat membimbing dan berharap keprogresan selalu ada disetiap tugas juga belajar para mahasiswanya, dan lain-lain. Sambil saya menyimak cerita-cerita sensei saya juga membayangkan bagaimana keadaan saya disana, jika suatu saat Allah men-ijabah harapan dan mimpi saya ini.

Kekawatiran saya akan kemampuan saya yang begitu minim pun saya utarakan pada Sensei. Ah sepertinya harapan dan keyakinan saya bakal lulus mendahului proses saya dalam berusaha. Over Confident nih xixixi…🙂. Dan dengan lembut serta bijaknya (begitulah ciri khas sensei saya yang saya sukai) memberikan dukungan pada saya bahwa “jika ada kemauan, ada usaha, insyaallah tak ada yang tak mungkin, mudah-mudahan akan menjadi nyata”

Hujan mulai reda meski demikian tetap saja butir-butir bening tanda kasih Allah masih turun. Bukankah saat hujan hadir adalah salah satu waktu yang sangat tepat untuk berdoa. Saya dengan bersicepat mengaminkan kalimat sensei sepenuh semangat, sepenuh harapan. Bening keharuan merembes di hati saya sore itu.

Sensei pun meminjamkan sebuah buku “La Tahzan For Students, bercermin dari kisah inspiratif dan perjuangan para pelajar Indonesia di Jepang” yang ketika sampai dirumah langsung saya baca. Arigato sensei 🙂

Lepas magrib saya undur pamit pada sensei. Sendiri ditengah jalan yang remang di lorong rumah sensei, sambil titis-titis hujan menyentuh jilbab dan wajah saya. Saya pacu sepeda penuh semangat. Cahaya yang sangat terang justru ada di depang lorong jalan. Cahaya –cahaya lampu  yang remang  itu saya bayangkan adalah proses saya saat ini. Sedang kelak remang-remang itu akan benderang suatu saat nanti. Ya seperti malam ini ketika saya menyusuri lorong yang saban kamis malam saya lewati.

*Berjuanglah, pasti bisa!

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me..., My Diary, Pendidikan.. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s