Aşci*


“Dirasa memang perlu untuk mengetahui latar belakang seseorang dalam menjalin pertemanan, tujuannnya bukan untuk mengetahui segala seluk beluk atau detailnya. Melainkan agar kita akan memulai dari kata “memaklumi” ketika ia bersifat rada ‘aneh’  atau membuat kita merasa tak nyaman dengan sikap yang ia lakukan terhadap kita. Maka mencari penyebab mengapa kelakuannya membuat kita jengkel, kesal dan menyebalkan. Kita akan memulainya dengan pemahaman akan pemakluman. Lalu mudah-mudahan sepanjang pertemanan itu terjalin tak ada sakit hati, dan koresan luka yang terlalu membuat bekas “

Sabtu siang sekitar pukul 14. 30 menit. Lepas saya mengikuti Kelas Turki di sekolah saya. Saya menyempatkan untuk singgah ke Dining Room sekolah. Kebetulan Seingat saya kalau Sabtu menu di sana adalah Soto. I love  it soto. Ditambah dengan racikan bumbu Ibu dapur yang sangat lezat sekali. Saya pergi berdua dengan teman Kak Desi  the Economic Teacher.

Sesampai di Dining Room suasana sangat sepi.  Hanya ada 2 bule Turki. Dan  yang saya liat dimejanya, mereka bukan habis makan soto, melainkan racikan acar tomat (ihiiii…apalah rasanya ya). Jam setengah tiga bukanlah jadwal makan. Sudah terlalu telat sekali untuk dikatakan Lunch.

Mau kemana miss?”

“Kesini dunk bu…J

“Sudah makan Miss?”

“Belom, makanya mau kesini buat makan bu…J”

“oooo…”

Ibu dapur memberi saya piring, dan menunjukkan box besar berisi nasi yang sudah dipindahkannya dari meja makan besar ke meja dorong kecil.

Saya mengambil nasi, 2 potong ayam goreng ukuran sedang, soto komplit, dan 2 buah jeruk (hahaha….cukup besar ya porsi makan saya, maklum sakit (?) hihihi). Sedang Kak Desi cukup dengan Soto saja dan 1 jeruk.

Sambil makan kami ngobrol panjang, tentang sekolah, mengajar, teman-teman, ekonomi, nilai anak-anak dan bla…bla…bla.

Saat kami mengobrol, Aku sesekali melihat kearah Ibu Dapur yang sedang mengelap barisan meja-meja makan di Dining Room. Menyemprot cairan pembersih meja berulang kali.

Bercerita tentang Ibu Dapur adalah bercerita tentang wanita yang cerewet (hihih maaf ya bu), keras, bersuara lantang seperti pendemo yang memakai Toa dan mudah emosi. Maka Tidak sedikit murid di sekolahku yang rada akan memilih menunggu garpu, sendok,  piring makan atau menu-menu makanan jika di meja menu semua barang dan makanan sudah habis. Karena jika menginformasikan ke beliau atau menunggu di pintu dapur. Sang Ibu dapur akan memulai aksi komentar ber suara besar dan lantang ke anak-anak murid

“NGAPAIN NUNGGU DISINI? NGGAK BOLEH MASUK DAPUR!! NANTI SAYA TAROK SANA!!!

Padahal mereka sudah cukup lama menunggu hal-hal yang dibutuhkan itu. Perihal aksinya itu tidak berlaku hanya dengan para murid guru-guru pun beliau buat demikian. Pernah Ada salah satu teman saya yang juga sesama guru tak pernah lagi datang ke Dining room lagi. Karena kejadian garpu yang menurut teman saya itu, dikasih kedepannya dengan cara dilempar. Terhadap kami yang para guru tindakannya kerap tak melihat kondisi dan situasi, di depan para murid ia perlakukan guru-guru dengan aksi yang sama. Maka tak heran lagilah saya, jika lepas makan sering terdengar keluhan teman-teman terhadap Ibu Dapur.

Meski demikian Ibu dapur adalah orang yang berjasa di sekolah. Tanpa Ibu Dapur kami dan anak-anak akan terserang penyakit bernama “KELAPARAN”. Memasak berkilo-kilo ayam atau ikan. Ber-Bambu-bambu beras. Berdandang-dandang besar sayur, Adalah pekerjaan yang tak ringan. Sehingga bagi saya sangat terharu sekali ketika ada sekelompok anak murid memasukkan Ibu Dapur sebagai The HERO In OUR SCHOOL saat lomba Hari Pahlawan yang diadakan oleh OSIS beberapa bulan lalu.

Tapi hari ini saat Saya dan Kak Desi  makan. Ibu dapur terlihat berbeda. Tegurannya sangat lembut dan ramah. Lepas Saya dan Kak Desi makan kami tak langsung beranjak dari kursi makan. Ibu dapur sedang menyapu dibawah meja-meja makan.  Sampai ketika mendekati meja kami. Si Ibu dapur Berenti. Duduk.

“Kok telat kali makannya miss?”

“Iya bu, Lesnya baru kelar jam segini”

“capek kali ya bu…J

“awak susah kalilah miss, kayaknya kerja nggak ada peningkatan-peningkatan, anak awak udah mau kuliah”

“Anaknya berapa bu?”

“4 miss, Kalau ada informasi lowongan kerja ke luar negeri maulah awak miss”

“HAH, mau bu, nggak takut”

“Ah, miss. Kalau awak kerja di luar negeri awak bisalah jadi PAHLAWAN NEGARA”

“hahahah….ada-ada aja lah ibu ini” saya tertawa

“Iya miss, kalau disini mana bisa awak jadi pahlawan. Kerja di dalam negeri tambah sakit hati. Kalau di luar negeri awak bisa jadi PAHLAWAN DEVISA NEGARA”

Saya tertawa lagi. Si ibu kembali Curhat

“Awak kadang berencana juga miss, jadi tukang minta-minta di mesjid raya. Pergi dari rumah pake baju lumayan rapi, biar anak-anak kagak tau. Pas sampe sana. Ganti costum

“Ileeehhhh si ibu nanti saya tandain lohhh. Kalau saya datang ke mesjid raya. Terus saya bilang eh ini kan ibu dapur. Pake ngomong kenceng-kenceng”

“Hahaha….jangan lah miss. Miss juga  mana tau kalau saya ganti penampilan”.

“Jiehhh ibu saya bisa mendeteksi siapa orang dari suaranya lohh…”

“Jangan miss..jangan miss, nyesel saya bilang rencana itu tadi”

Mengalir panjang curhatan si ibu dapur pada kami siang itu. Dia juga bilang terkadang ingin menamatkan hidup sesegera mungkin ngeliat susahnya bertahan hidup. Saya candain dengan bilang “silakan bu tapi saran saya gantung dirinya di pohon cabe aja ya”. Si ibu lagi-lagi ketawa. Beliau juga bercerita tentang jenjang pendidikannya. Dan ternyata si ibu adalah seorang Sarjana Ekonomi di sebuah Perguruan Tinggi Negeri di Banda Aceh angkatan tahun 82. Sayangnya  lepas sidang kesarjanaan beliau meninggalkan begitu saja hal-hal yang berbau syarat ke-ijaza-an. Beliau diterima di percetakan dokumen Negara di kota Medan. Bertemu dengan sang pacar yang sekarang telah menjadi  suaminya.

“Miss kalau ada cowok yang banyak buat janji-janjinya. Saya bilangin miss ya: NGGAK USAH DIDENGERIN, NGGAK USAH DI TERIMA CINTANYA”.

Hari itu, ibu dapur banyak bercerita dengan saya dan teman saya. Bercerita tentang bangganya beliau dulu saat masih kuliah. Menjadi bagian dari keanggotaan organisasi kampus, acara ospek MABA (Mahasiswa Baru), mengagumi seorang dosen ganteng,  rumah tangganya dengan sang suami dan 4 orang anak, sampai pada bagaimana beliau sekarang mendidik anak perempuannya. Resep berumah tangga yang kata beliau fase mimiliki anak pertama adalah fase cobaan mempertahankan rumah tangga yang boleh dibilang sulit. Maka saat ada sepasang suami istri yang bisa melewati fase pertama ini maka kelangsungan rumah tangga sudah bisa dijamin. Begitu kata ibu dapur. Saya hanya bisa mendengarkan. Beliau yang telah merasakan sungguh tak mengerankan ketika menceritakan pada kami dengan penuh keyakinan.

Dalam perjalanan pulang dari dining room. Saya hanya berpikir. Mungkin ketika ada beberapa teman guru yang meminta tolong pada beliau namun respon beliau tidak begitu baik. Bisa jadi karena mungkin beliau berpikir “Saya ini sarjana loh, sama seperti kalian”.

Duh Ibu Dapur…:)

*Aşci : adalah bahasa turki yang artinya tukang masak

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me..., My Diary, Pendidikan.. Tandai permalink.

4 Balasan ke Aşci*

  1. anazkia berkata:

    Mbakkkkkk….
    Ibu dapurnya orang Indonesiakah?

    Doh, kudu ngubek2 tulisan Mbak yang lain, neh 🙂

  2. Muhammad Baiquni berkata:

    Intel, kasihan sekali ibu dapurnya itu… suaminya ke mana?

    • deapratini berkata:

      HAH??? blog saya dikunjungi oleh beni yang ngakunya ganteng…:P..

      Kami tak akan jawab. sebelum kalian panggil dengan benar nama kami. De dengan Intel itu jauh berbeda…cuma e nya aja yang sama…:|

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s