Zaris


 Agustus 1995

Temanku ini bernama Zaris. Tetanggaku sewaktu kecil. Kami kerap main bersama. Seluncuran di sebuah tanah yang sedikit tinggi bagi ukuran kami para bocah kelas 2 SD (Sekolah Dasar). Dan memang tak pantaslah disebut sebuah bukit. Karena didesaku tak akan ada ditemukan bukit. Tapi bagi kami para anak-anak kecil itu adalah bukit. Dengan menggunakan pelepah dari pohon kelapa yang sudah jatuh, kami (aku dan beberapa bocah lainnya) duduk diatas pelepah daun kelapa. Dari ketinggian tanah itu bersiap kami meluncur. Zaris berada di depan sebagai kemudi. Kami  di belakang sebagai penumpang. Sering sekali Zaris tak lihai mengemudikan ‘kendaraan mewah’ itu hingga terjatuh. Hal tersebut karena tanggannya selalu tak kuat mengemudi memegang pelepah daun kelapa dengan kuat. Sebab tangan kecilnya harus selalu mengusap cairan flu yang keluar dari hidungnya itu. Ia sering terjangkit penyakit pilek.  Tapi lucunya saat jatuh kami malah tertawa terbahak-bahak. Menertawai cara jatuh yang lucu bagi kami: terguling-guling di rerumputan. Meski sudah berulang kali jatuh kami tak berhenti bermain di ‘bukit’kami.

Zaris hobby membaca. Berkardus-kardus majalah Bobo ada di bawah tempat tidurnya. Dia akan berlari-lari datang kerumahku. Memanggil namaku dari jauh sebelum tubuh mungilnya tiba di depan pintu rumah. Ia hanya ingin menunjukkan majalah kesayangannya edisi baru sudah tiba. Atau kadang kala ia akan mengajakku ke rumahnya, memperihatkan hadiah-hadiah yang ia dapatkan dari kuis-kuis majalah anak-anak yang dia menangi. Setiap ahad pagi kalau aku datang kerumahnya. Ia sedang asykik membaca buku. Mengajakku manjawab TTS (Teka-Teki Silang) bersama, meski kebanyakan dialah yang menjawab semua isi TTS tersebut.

Sering lepas subuh meski masih menggunakan piama. Di bulan Ramdhan. Zaris datang kerumah. Mengajakku mencari Belalang di lapangan rumput. Berlomba siapa yang mendapatkan Belalang paling banyak. Kalau hal tangkap menangkap binatang, Zaris akan lebih kalah denganku.

Aku sering sewot dengan Zaris yang kerap meminjam buku-bukuku di Rak dan seringkali tak izin dulu ditambah selalu lupa mengembalikannya. Kalaupun dia mengembalikan buku-bukuku yang telah dipinjamnya, bentuknya tak lagi seperti awal, sudah banyak lipatan-lipatan di setiap halaman bahkan sampulnya. Huh. Dan bunda Zarislah yang akan meminta maaf, dan memberitahu kalau lipatan itu terjadi karena sering kali buku-bukuku dibawahnya ketempat tidur.

Zaris dan Aku suka dengan puisi. Kami sering mengikuti lomba baca puisi. Pernah aku dan dia memenangi lomba baca puisi sampai tingkat Kabupaten. Zaris juara 3 dan aku hanya harapan. Its okey. Aku masih ingat bagaimana menyaksikan ia lari-lari membawa piala kemenangannya. Menunjukkan dengan bangganya kepada sang Bunda. Esoknya saat aku main ke rumah Zaris. Piala itu sudah menjadi pajangan di ruang tamu keluarga bersama beberapa piala lainnya.

Mei 2000.

Zaris sudah pindah rumah tepat saat aku dan dia kelas 5 SD. Kami tak lagi bertetangga. Aku Sudah Kelas 2 SMP (Sekolah Menengah Pertama) Sudah lama tak bertemu dengan Zaris.

Juni 2004

Di Dalam bis mau pergi ke sekolah.

“Hei” tangan seseorang menggoyang tas sampingku

 Aku terkejut.

“Masih kenal dengan aku kan?” tanyanya

Aku mengamati laki-laki good looking yang tadi menyetuh tasku. Posturnya Tinggi sekitar 175 cm kiraku. Rambutnya pendek tidak cepak, seperti pemain iklah shampo laki-laki.:). Hidungnya mancung, matanya bulat,  kulitnya tidak begitu putih, juga tak hitam. Ia memakai Jins dan kaos kerah putih. Ditambah tas ransel. Aku mengingat-ingat raut mukannya, adakah kiranya yang masih membekas dalam ingatanku. Namun nyaris nihil sekali. Sampai aku cuma melontarkan kalimat tanya balik:

“eh siapa ya?”

“ya ampun De, ZARIS De, Muhammad Zaris Ziddan. Remember?

HAAA…” suaraku kacau, membuat para penumpang di bis menoleh.

I can’t imagine him, how can si Zaris yang dulu bocah biasa dan sering kali ingusan. Kalau main selalu pake baju piama. Yang membuat saya sering  sewot, karena banyak buku saya yang tidak dikembalikan. Dan yang kalau pinjam buku sering tak bilang.

****

Mulai pagi itu, Kami kembali sering bertemu, Tiap berangkat kesekolah kami bersama, satu bis. Saling meminjam buku. Dan itu kami lakukan di dalam bis. Ngobrol mulai dari naik bis sampai bis yang kami tumpangi mengantarkan aku ke gerbang sekolah. Ya kami beda sekolah.

Zaris kerap menungguku di depan rumah agar kami berangkat bersama, Aku sering telat keluar rumah sekaligus telat berangkat sekolah. Dan dia akan mengsms:

“De nggak sekolah, kok belum muncul.”

Dan kalau pun aku baru keluar dari pagar rumah. Bis yang Zaris tumpangi sudah melaju.

Zaris masih seperti dulu sering mengikuti lomba, tapi kali  ini sudah lebih luas mulai dari  lomba menulis, Debate English, Olimpade Bahasa Inggris Speech, dan Tetap :Puisi. Dalam Olimpiade Bahasa Inggris, Speech, dan Debate kami sering pula bertemu. Aku mewakili sekolahku begitu juga dengan Zaris, maka dalam lomba kami adalah musuh, lawan. Dan lagi-lagi aku selalu menjad the Second Winner Dibawah Zaris yang selalu menjadi The First Winner. Tapi tetap kami akan menjadi teman di luar lomba. Kami sering memberi dorongan, menyemangati, memberi trik satu sama lain agar tak nervous didepan para dewan juri. Dan memberi selamat satu sama lain. Siapa pun yang menang diantara kami.

***

Satu kali aku join disebuah English course di kotaku. Di ruang administrasi aku mendengar suara yang tak asing ditelingaku. Suara baritone milik Zaris. Kutebak pasti itu dia. Aku yakin sekali dengan suaranya. Tapi suara itu seperti seorang yang sedang mengajari para murid-murid. Saat Zaris keluar dari ruangan yang berada di depan ruang administrasi. Aku melihat wajahnya. Zaris masih sibuk melayani studentnya yang sebaya dengannya itu bertanya ini itu selayak teman. Aku menyembunyikan wajah. Membalikkan badanku bertolak belakang dengan posisi dia berdiri.

I wanna change my schedule for teach miss, Can u make it? ” pintanya pada kakak ADM di depanku.

Ohhh. He is a teacher now.

Aku sibuk menulis formulir pendaftaran. Setelah usai mencantumkan biodataku di lembaran kertas itu, kuserahkan pada kakak adm.Sang adm memberikan jadwal lesku.

“ini jadwal untuk kamu Dea, jadwalnya Monday, Wednesday, and Friday. And your teacher is him” kakak adm menunjuk tangannya kesamping kanannya. Si Zaris.

Zaris mendongak, dari  lembaran kertas yang dia baca. Lalu senyum, dan ketika melihat wajahku dia heran.

“hei, you are here now, wanna learn too. Haiyah you to be teacher  with me okey.

“no. I wanna be student. learn. But not with you ya. Aku menolak diajar olehnya. Aku jadi ilfeel sendiri kalau diajar oleh temanku. Aku jadi tak leluasa bertanya ini–itu. aku ingin tukar jadwal. Bukan aku sangsi dengan kemampuannya. Dia hebat, logat bahasa inggrisnya keren, seperti orang bule. Aku suka mendengarnya. Tapi aku tak tertarik sedikit pun kalau temanku lah yang akan menjadi guruku nanti.

***

Seperti biasa Zaris kerap menyemangati, memberikan dorongan. Katanya “aku yakin bahasa inggrimu De dalam waktu 3 bulan akan semakin meninggkat. Trust me. And U must practice… practice and practice…okey.

Dan pasca aku meleburkan diri dalam les bahasa Inggris dimana Zaris mengajar. Kami menjadi kerap pulang bersama. Aku sering curi-curi padang setiap pulang les, takut terlihat dia. Karena kerap dia membuat janji untuk pulang bareng. Sedang aku rada tak nyaman hati kalau pulang berdua dengannya. Teman-teman sekolahku sering keluyuran di toko-toko yang aku lewati dengan Zaris. Lisan-lisan ember teman-teman sekolah membuat aku tak betah kalau ditanya ini itu oleh Geng sepupuku.

Kerap kali aku ngacir duluan, mencari jalan pintas yang tak sering dilewati Zaris kalau pulang Les. Tapi zaris selalu mengejarku dengan langkah kakinya yang cepat. Sambil memanggilku dengan suaranya yang besar itu. aku sering pura-pura tak dengar. Tapi Ia begitu cepat menyamai langkah kakiku yang setengah berlari-lari.

“Hei, kok nggak dengar dipanggil berulang kali. Kita kan bisa pulang bareng. Tak baik lagi cewek pulang sendiri. Nyampe rumahkan malem. Nih” katanya ngomel, sambil menyerahkan bukuku yang dipinjamnya.

“kupikir kau mau tidur di tempat les. Seringnyakan begitu” kataku

“kali ini nggaklah, banyak PR. Eh mau nungguin bentar nggak, aku mau sholat ashar katanya. Kamu nggak sholat De?”

Aku diam

“De,…helooo..De..okeylah aku tau” sambil tangannya mengibas-ngibas di depan wajahku.

“tunggu disini ya De, sebentar”

Aku menungguinya di teras masjid. Tasnya ada disampingku. Aku sedikit merasa tak nyaman sekali dengan keadaan ini. Entah kenapa.

Pernah suatu ketika. Aku dan dia kemalaman di jalan karena tak ada lag bis atau angkot yang beroprasi diatas jam 7 malam. Hujan lebat sore itu membuat kami harus berteduh di dekat kios makan makan. sampai azan magrib. Aku dan Zaris sholat di dekat kios itu. Aku was-was kalau sudah kemalaman. Zaris dari tadi mencari mobil tumpangan, mobil siapa pun dia stop-in. Tak ada yang bersedia berhenti. kami menunggu. Zaris tak henti melambai-lambaikan tangannya meminta beberapa mobil berhenti. Sampai akhirnya sebuah mobil Avanza hitam mau dan bersedia memberikan izin bagi kami berdua.

Di dalam mobil aku hanya diam, rasanya benar-benar tak nyaman. Tapi tak ada pilihan lain saat itu. Zaris sedari awal mengajak ngobrol si bapak pemilik sopir. Bercerita kalau kami kemalaman sehabis Les. Sang bapak pun bercerita kalau mereka dari lampung hendak ke Palembang.

Kami terlalu sering pergi dan pulang sekolah bersama. ditambah dengan tempat belajar tambahan yang sama. Membuat aku kerap terlihat selalu dengannya. Suatu kali saat aku dengan Zaris pulan bareng. Dan berhenti di tepat makan. Zaris dan aku hanya numpang tempat sholat di kedai makan itu. Ia seketika cerita denganku tentang pertemuannya dengan teman sholatnya. Si abang mahasiswa itu yang membuatnya takjub karena mengajaknya sholat jama’ah.

“U know De, he is like u ever said ikh…ikh…ikh”

“ikhwan” kataku

“iya, ikhwan, ada janggutnya sedikit, good looking. kull

I ask u, U wanna like him, someday? Want U?

Zaris hanya tersenyum, dan bilang

“emmm… someday, insyaallah De”

“wah jenggotan dunk” godaku

“Its okey, maybe if there is beard at my chin. U like me

Aku terdiam.

***

Zaris entah kenapa. Akhir-akhir ini sering sekali datang kerumah. Seminggu paling sedikitnya sekali. Dan sering pula malam. Ia mengajakkau bercerita banyak hal. Tentang abang-abang letingnya disekolah. Tentang lomba, tentang bahasa inggris. Tentang pilihan jurusan yang akan ia jalani nanti. Bertanya tentang apa itu afwan, ukhti, akhi.

Zaris pula kerap meminjamkan padaku buku-bukunya, termasuk beberapa bank soal yang dia miliki. Terkadang ia mengobrol sampai jam 10 malam di teras rumahku, dan hal itu seringkali terjadi. Kadang pula ia datang siang, atau lepas ashar. Mengotak atik computer di ruang belajar dirumahku. Ayahku pun kerap bertanya tentang kesibukan ayahnya, keluarganya.

Kata kakak sepupuku, Zaris itu menyukaiku. Aku tertawa. Kakak sepupuku menyakinkanku bahwa dari gelagat Zaris yang sering datang kerumah, bercerita panjang lebar kepadaku. Sering tertawa terbahak-bahak saat aku bercerita. Adalah kesimpulan yang dibuat kakak sepupuku itu. Sedang aku tak ingin berpraduga macam-macam.

Adik-adikku pun demikian. Mereka bilang Bang Zaris itu suka dengan kakak. Aku sering kali mengajak adikku menemani kami ngobrol di teras rumah. Kusuruh mereka mengerjakan PR didekatku (heheh, kakak yang aneh ya).

****

 

April 2006.

Pasca kemalaman dari tempat les. Aku tak sering lagi pulang bersama Zaris. Zaris Pun sudah tak sering terlihat di tempat Les. Aku juga sibuk dengan agenda mempersiapkan  UAN  (Ujian Akhir Nasional). Begitu pun dengan Zaris. Ia sudah jarang datang kerumah. Kakak sepupuku kerap menanyakannya.

Sampai sebulan 2 minggu setelah ujian ba’da dzuhur. Hari minggu SMS dari Zaris muncul di hapeku.Aku sedang di rumah nenek di Pusat Kota Palembang.

“De, aku pamit ya. Siang ini aku berangkat Ke Yogya. Alhamdulillah lulus di Hubungan Internasional UGM. Lusa sudah harus registrasi. Jadi harus segera sampai di sana, sekalian cari kos-an Tadi aku ke rumah, beberapa buku yang aku pinjam aku kembalikan, eh ada selembar surat yang aku ketik lepas subuh tadi. Read it please, thanks ya De for everything”.

For my saudari Dea Pratini

Harus mulai dari mana, I don’t know, yang aku tau, Thanks U so much atas kesediaan berbagi selama ini. Atas buku-buku yang pernah dipinjamkan. Atas waktu yang pernah dibagi. Atas kesediaan bertukar pengetahuan. Atas kesabaran meladeni pertanyaan-pertanyaanku.

Well, saat dirimu membaca ini. Aku mungkin sudah di Yogya. Kelak jika aku sudah sampai disana. Kita harus tetap saling kontak, promise?oya, doain aku moga jadi ikhwan.:D.

Your saudara Muhammad Zaris Ziddan

 

 

***

 

4 bulan berlalu. Aku sudah di Aceh. Tak ada kontak apa pun. Kami sama-sama sibuk. Sampai.

Ramadhan 2006. Pagi. Aku di teras gedung kuliah lantai 3. Menunggu dosen. Nomor asing dihapeku memanggil.

Kuangkat

“Assalamualaikum, De, “

“waalaikumsalam, iya. Ini siapa” telpon dari sana suara lelaki

“Zaris De, apa kabar? Dan bla..bla…bla, panjang ceritanya. Sampai De, aku sudah ngaji sekarang, Sudah punya MR. lalu Zaris cerita tentang kesibukannya. Lalu dia cerita bagaimana lahan pemetaan distribusi lahan keislaman di UGM. Aku pikir si Zaris adalah IBG ikhwan Baru Ghiro hehehe

Itu adalah kali terakhir kami kontak via telpon setelahnya tak pernah lagi. Kecuali Saat lebaran saat ia masih rajin datang ke rumahku sampai lebaran 2008. Sejak itu aku tak tahu lagi kabar tentang Zaris. Pernah aku cari di jejaring social. Disana kulihat  Zaris  menggunakan jas tebal disamping kiri kanannya pohon-pohon yang daunnya sudah berguguran, Sedang Salju menyelimuti tanah dan jalan. Lalu kubaca keterangan sekolahnya Ohio State University.

 

 

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di FLP, Kepenulisan en Me.... Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s