Pernikahan VS Persahabatan


“Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa benci”

Kalimat itu aku dapatkan dari ucapan si Istri Kim Ju Jin kepada suaminya Choi Chul Soo dalam drama Korea “Moment To Remember” yang sukses membuat bendungan air mata saya jebol berulang kali. Deras.

Dalam potongan film itu dikisahkan sang istri sedang membujuk suaminya untuk mengunjungi sang ibu suami yang sudah lama tak dijumpai. Yang nyaris tak diakui oleh Choi Chul Soo sebagai ibu yang telah melahirkannya, Disebabkan sang ibu tega membuang dan meninggalkan Choi Chul Soo kecil menangisi kepergian sang ibu. Tak dikisahkan alasan mengapa sang ibu begitu tega meninggalkan anaknya. Karena itu bukanlah focus ceritanya. Justru focus cerita  dalam film terletak pada Sang Istri yang banyak memberikan kebaikan dan pencerahan bagi si suami. Salah satunya pada Adegan membujuk suaminya itu.

Choi Chul Soo yang keras dan kasar alias yang istiqomah pada keteguhan janjinya yang telah belasan tahun tak mau dan tak akan memaafkan kejadian yang telah membuatnya terluka oleh sang ibu. Malam membujuk suaminya yang berujung pada pertengkaran hingga sang suami melukai sendiri tangganya dan berdarah akibat kemarahan yang meledak karena sang istri tak henti selalu membujuknya menemui si Ibu.

Sang suami bersedia menemui sang Ibu kandung setelah Kim Ju Jin si istri berucap ““Memaafkan adalah memberi sedikit ruang pada rasa benci”

Aku tak henti mengingati kalimat itu. dan membuka ‘file’ dalam pikiranku tentang kejadian-kejadian yang membuat aku memunculkan sebuah rasa benci. Teringatku sekitaran 3 bulan yang lalu: aku sudah memutuskan untuk tak mau lagi menjadi seseorang yang kerap dan rajin menjadi penyapa para sahabatku (sadis ya kedengarannya). Well, begini aku memiliki  3 sahabat dekat yang dengan mereka sering kami bercerita tentang masalah satu sama lain. Berbagi kebahagiaan. Tertawa pada cerita-cerita konyol yang kami bagi. Kenyamanan dan keamanan tentang cerita-cerita kami terjamin diantara ketiga sahabatku. Mereka aku jumpai dimasa yang berbeda dan pada tempat yang berbeda pula.

Pertama Iyah, aku memanggilnya demikian. Sahabat semasa aku sebanggu dengannya di Sekolah Menengah Pertama (SMP). 2 tahun kedekatanku di sekolah itu membuat kami semakan dan seminum (saat di kantin). Pulang dan pergi sekolah hampir tiap hari bersama. Mengerjakan PR besama. Membaca majalah bersama. Iyah sering meminjam buku-bukuku. Pergi ke perpustakaan bersama. Saling cerita sepanjang waktu istirahat sekolah. Dan pada intinya kami selalu bersama. Meski pada akhir masa kami di sekolah itu telah habis lalu memilih sekolah yang berbeda. Kami tetap berkomunikasi. Begitu pun dengan Tempat Kuliah, Aku di Aceh dan Iyah masih di Palembang. Jarak memisahkan kami. Namun meski demikian aku masih kerap menghubunginya via SMS, menelpon atau sekedar say di dinding FBnya. Dan kami tak pernah lupa untuk mengingati hari lahir masing-masing. Sampai sebelum Iyah menikah aku masih sering mengunjungi rumahnya. Menginap disana. Cerita dan sharing masalah pun kerap kulakukan dengan Ibunya si Iyah. Begitu pun dengan Iyah yang terkadang semalam suntu kuhabiskan hanya mendengar ceritanya. Keluarganya sudah mengenalku. Tapi tidak begitu dengan Iyah yang masih hitungan jari pernah datang kerumahku.

Ah sudahlah…

Sampai tiba kabar Iyah akan menikah, Aku menelponnya dari Aceh, mengucapkan selamat. Menulis di dinding FBnya.

Namun setelah Iyah menikah jarak semakin membuat kami jauh. SMS-SMSku yang menanyakan kabarnya  Tak pernah lagi dibalasnya. Sapaan di FBku juga tak dijawabnya (mungkin suaminya yang online dengan memakai akun Iyah). Kutulis didindingnya juga tak ada respon. Kutelpon tak diangkat. Pernah sih sekali diangkat, namun responya seperti orang asing yang tak mengenalku. Iyah menghilang dengan kehidupan barunya.

Pada jeda-jeda istirahatku, Aku berpikir dan memiliki kesimpulan tentang ‘kerajinannnya ’aku menghubungi Iyah: Aku selalu menjadi pemula dalam menyapa, Iyah tak pernah menyapaku terlebih dahulu. Tak pernah. Mungkin iyah sibuk (tapi bukankah iyah hanya seorang mahasiswi biasa yang focus jalannya hanya sebatas kampus dan rumah, Iyah bukan aktifis). Mungkin tak ada pulsa (okey, tapi 99 perak dalam sebulan, its imposible ya untuk seorang anak cewek semata wayang yang ayahnya adalah bukalah  pegawai rendahan).

Dan Pernikahan membuat jarak diantara persahabatan kita.

Sahabatku yang kedua, aku dan kebanyakan teman menyapa dengan panggilan Ining. Sahabat semasa SMAku. Seorang Sahabat di organisasi keislaman sekolah: ROHIS (Rohani Islam). Sahabat di tempat yang juga sama juga dalam Bimbingan Belajar. Kami tak pernah sekelas memang, Tapi kesamaan organisasi dan tempat belajar membuat kami kerap berdiskusi. Dimana  pun. Saat  dalam bus yang kebetulan kami pergi dan pulang bareng dari dan kesekolah. Saat dalam pertemuan di rapat dan acara-acara Rohis disekolah. Saat setiap pulang les bersama. Kami mengobrol banyakl hal. Aku sering kerumahnya, begitu pun dengan Ining kerap datang kerumah. Saat Ining curhat tentang kesulitannya menghadapi keluarga sebagai lahan menanam kebaikan akan nilai-nilai islam. Aku menyediakan telinga untuk mendengar.

Sampai saat aku juga harus berpindah tempat tinggal dari Palembang ke Aceh untuk meneruskan kuliah.  Kami masih saling kontak via SMS juga telepon. Kami juga tak pernah lupa untuk mengingati hari lahir masing-masing. Saat kami tak sengaja sama-sama sedang online di FB. Media chating yang difasilitasi, maka di sana kami mempergunakan sebaik mungkin untuk meneruskan hobi diskusi dan cerita panjang kami.

Namun lagi-lagi akulah yang menjadi pemula. Ining tak akan pernah menyapaku terlebih dulu sebelum aku mengirimkan sapaan padanya. Ya mungkin Ining sibuk. Kuakui itu. Tapi Ining akan menelponku atau mengirimkan SMS panjang lebar saat Ining memiliki sesuatu yang mengganjal dipikirannya dan harus dipecahkan.

Sampai 7 bulan lalu ketika kudengar kabar Ining akan menikah. 2 hari sebelum Ijab Qabul aku menelponnya. Suara Ining terdengar begitu ceria. Aku bisa membayangkan wajah Ining yang gembira disana. Ining cerita panjang lebar tenatang proses taarufnya dengan lelaki yang dikenalkan oleh guru ngajinya itu. Saling tertawa menghiasi pembiacaraan kami. Saat proses Khitbah yang membuatnya gugup dan cemas menjalani kehidupannya nanti.

Aku meminta maaf padanya tak bisa berhadir, lalu mendoakanya dari jauh. Ining mengiaykan dan menjanjikan aku untuk dicarikan pasangan olehnya. Ah Ining, begitu semangtnya.

2 bulan pernikahan Ining berlalu. Aku mengSMS menyakan kabarnya. Berulang kali  Tak ada respon. Lama sekali SMS-SMS ku tak dibalasnya. Terakhir ada balasan tapi bukan Ining yang membalas aku tau itu. Gaya Ining membalas SMS ada cirinya serupa smile, dengan memanggilku “Yak” tak pernah ketinggalan. Tapi kali ini beda. Aku tak merasakan kata-kata dari ketikan jemari  Ining  atas SMS balasannya.

Kerap ku coba menelponnya tapi tak diangkat.  Pernah juga tak tersambung.  Mengirimi pesan via FB tak juga ada dibalas. Atau Saat Ining terlihat sedang Online di FB. Aku menayapanya lewat media Chating tapi Ining tak membalas sapaanku. Terakhir ketika aku hampir mau menutup akun FB media Chating merubah warnanya merah. Aku menerima balasan . Tapi disana  bukan Ining yang membalas. Melainkan Suaminya

Dan Pernikahan membuat jarak diantara persahabatan kita.

Satu lagi sahabatku bernama Irma. Ia begitu setia. Meski sudah menikah Irma masih menyapaku. Meski tak sesering dulu. Tapi Irma terbilang rajin untuk merespon balik sapaanku. Ya Aku harus menyadari dan mengakui dalam kehidupan-kehidupan baru yang membuat kita berubah statu.s menjalaninya tentu kerap berefek pada kebiasaan-kebiasaaan dulu  yang pernah dilakukan. Menjadi tak biasa untuk dikerjakan kembali. Ya serupa kegiatan untuk saling sapa. Meski tetap ada namun intensitasnya sudah berubah. Tak sesering semula.

Irma Diah. Sahabat yang aku menjumapinya di dalam sebuah angkot (Angkutan Kota) Di Palembang.. Ketika aku menanyakan alamat sebuah Gedung olahraga yang harus aku datangi. Aku menyapanya yang belum aku kenal. Irma duduk dibaris bangku di belakangku. Dan diangkot itu hanya ada aku, Irma, dan adiknya. Pada Irama-lah kutanyakan alamat gedung itu. Tak disangka Irma pun punya tujuan yang sama denganku. Disanalah awal mula persahabatan kami. Mengobrol dengan Irma yang banyak humor dan periang membuat aku menemukan sahabat yang cocok.

Sebenarnya berkenalan dengan wajah Irma yang katanya mirip denganku seperti Dejavu saja. Aku pernah melihat wajahnya ketika tes masuk STAN (Sekolah Tinggi Akutansi Negara). Saat Itu Irma dan dengan tiga temannya menanyakan ruang padaku yang kebetulan sudah datang lebih awal ke gedung mahasiswa Institusi keuangan tempat dimana para mahasiswa dan mahasiswi STAN belajar. Aku mendapat Ruang pertama sedang Irma setelah kulihat nomornya ia seperti berada di ruang keempat.

Saat kuceritakan kembali padanya. Ia terkejut melihat daya ingatku yang kuat sambil tertawa tawa.

Aku kerap berkunjung dan menginap dirumahnya. Miminya Irma sudah menganggap aku seperti anaknya. Katanya kami kembar hahaha. Irma pernah menunjukkan fotonya padaku sambil bertanya

“De, kira-kira ni wajah mirip siapa?”

Aku berfikir, “siapa ya?” aku balik nanya

Irma menyeretku ke cermin kamarnya

“Nggak liat ni kalau kita mirip”

Aku masih mikir dan melihat seksama. Sekilas telihat beda tapi setelah aku melihat bentuk wajah dan tembemnya pipi kami aku melihat kesamaan. Putih, cipit, tembem dan bentuk wajah yang lonjong seperti telur hahaha. Baru kusadari itu. Irma dengan kedewasaannya kerena mungkin kerena Ia anak tertua. Membuatku merasa menemukan kakak yang bisa menjawab keluh kesahku.  Kami sering bercerita, ngobrol, nonton, makan bareng keluarga, tertawa, Tidur besama di Ruang TV dengan Irma, aku adiknya dan Miminya. Pada Miminya Aku tak segan, atau malu untuk menangis di depannya.  Keluargaku mengenal Irma karena Ia pun pernah menginap dirumahku.

1 tahun yang Lalu saat aku menelpon Irma dan ngobrol dengan Miminya. Irma mengabarkan kalau ia akan menikah. Aku senang, Gembira. Karena itu berarti Irma akan mendekati cita-citanya: Menjadi Ibu yang baik. Sebuah cita-cita yang mulia sekali. Dan tak pernah aku temukan cita-cita itu dari lisan-lisan sahabat dan teman-temanku kecuali Irma. Dulu pernah dalam obrolan kami. Irma berucap kalau ia tak begitu ingin berkarir menjadi wanita yang sibuk bekerja di luar. Ia hanya ingin menjadi ibu yang baik bagi anak-anaknya. Ia ingin ketika anak-anaknya pulang Irma dapat menyabutnya. Ia ingin saat anak-anaknya pulang dan sesampainya dirumah wajahnyalah yang dijumpai oleh anak-anaknya pertama kali. Mengajari, mendidik, dan membimbing anak-anaknya adalah impian dan cita-cita sahabaku Irma Diah.

Beberapa bulan  setelah Irma menikah nyaris tak ada kabar darinya. Irma menghilang. Nomornya tak aktif lagi saat kuhubungi. Aku sedih kembali kehilangan Sahabat.

Sebuah rasa kebencian hadir. Aku capek selalu menjadi yang mengawali sapa. Sedang mereka juga tak merespon sapaanku. Terlalu sibukkah. Terlalu bahagiakah mereka. Aku berhenti untuk menyapa. Mengangsurkan tangan tanpa disambut balik adalah sebuah kesakitan yang perih.

Terakhir 2 bulan yang lalu, Aku mencoba menulis di dinding ketiga sahabatku itu. lama tak ada balasan. 2 minggu berlalu. Irma Muncul membalas sapaanku dengan lembut dengan cerianya balasan sahabat:

“I’m stil in here… Tetep dalam rotasi. Selalunya berputar mengelilingi.. … Sekilas memang tampak tak ada komunikasi …. Tapi yakinlah, sahabatmu akan selalu ada meski tanpa pernah tersadari …. Uhibukifillah….”

 Ya kini Irma sudah menikah. Kami masih bersapa ria meski tak sesering dulu lagi…:)

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s