Dalam Dekapan Dhuha


Sedhuha ini, selepas berharap kedekatan akan  rezeki yang masih jauh berjarak untuk didekatkan padaku. Yang masih tersimpan di dalam bumi dan berharap dikeluarkan dengan perlahan olehnya untukku. Yang masih terimpan di atas langit lalu berharap sesegera di turunkan.  Yang masih kotor untuk berkeinginan dibersihkan.

Sedhuha ini, selepas berharap keberadaan keluargaku dalam kebaikan iman, kelembutan hati, keberkahan rezeki, kebahagiaan yang menghiasi, keberlindungan dari kejahatan, kefakiran dan kehinanan. Kehadiran sebuah kekuatan untuk mencerna, memahami setiap ilmu dari segala penjuru manusia menghampiri para anggota keluargaku.

Sedhuha ini, selepas aku meminta kebaikan hati yang tetap terjaga, digugurkannya segala kesalahan yang telah tercatat sebagai dosa-dosa oleh Atid sang pesuruh Allah. Selepas mengkhatamkan Al matsurat pagi yang penuh kalimat-kalimat indah dari Dzat yang Maha Cinta.

Sedhuha ini, selepas aku mendoakan seseorang yang kelak bersedia menjadi leader bagi episode kehidupanku selanjutnya.

Aku melanjutkan dengan mencicipi kembali sebuah Buku Dalam Dekapan Ukhuwah-nya Salim A Fillah. Yang entah sudah berapa kali kubaca.  Aku hanya membaca kalimat-kalimat yang sengaja dibuat miring. Sebuah kutipan dari para manusia penggugah. Lalu Melompat  pada sebuah potongan hikayat yang sarat hikmah. Dan selanjutkan membaca tulisan-tulisan serupa puisi. Maka izinkan aku menuliskannya kembali.

Tali Kokoh

Membersamai orang-orang shalih
Memang perintah Allah
Memang keniscayaan bagi ikrar taqwa
 
Tetapi meletakkan harapan
Atau menggantungkan kebaikan diri apadanya
Pada sosok itu
Adalah kesalahan
Dan kekecewaan…
 
Seorang sahabat berkata padaku
“aku ingin menikah
Dengannya….hanya dengannya….”
Aku bertanya mengapa
“agar ia menjadi imamku…
Agar ia membimbingku…
Agar ia mengajariku arti ikhlas dan cinta
Agar ia membersamaiku
Dalam santap buka yang sederhana”
 
“ahh…itulah masalahnya,” kataku
Dan dia kini tahu
Bahwa khawatirku benar
Bahwa sosok lelaki penyabar yang dia kenal
 
Juga bisa marah, bahkan sering
Bahwa sosok lelaki shalih yang dia damba
Kadang sulit dibangunkan untuk
Sholat subuh berjama’ah
Bahwa lelaki yang menghafal juz-juz Al-Qur’an itu
Tak pernah menyempatkan diri
Mengajarinya a-ba-ta-tsa
 
“ahh…itulah masalahnya”
 
Semakin mengenali manusia
Yang semakin akrab bagi kita
Pastilah aib-aibnya,
Sedang mengenali Allah
Pasti membuat kita
Mengakrabi kesempurnaanNya
 
Maka gantungkanlah harapan
Dan segala niat untuk menjadi baik
Hanya padaNya
Hanya padaNya…
 
Jadilah ia tali kokoh yang mengantar pada bahagia dan surga

Lepas membaca tulisan ini. Aku menarik nafas panjang,. Mengeluarkannya perlahan. Aku berhenti membaca. Megalihkan pandanganku ke luar jendela-lalu kelangit-langit kamar. Mengingati sebuah catatan yang pernah kutulis. Dan Membacanya Ulang.

Ingin kutumpahkan rasa sayangku pada seseorang yang mau menyayangiku
melebihi rasa sayang terhadap dirinya sendiri…

Ingin kujadikan sebuah nama menempati relung hati sebagai kekasih yang dirindui
karena ia merinduiku selalu

Ingin kubisikkan kata mesra pada seseorang yang dengan puitis menyanjungku,
bak akulah satu-satunya bidadari impian…

Ingin kuberbagi kisah pada seseorang yang dengan setia mendengarkanku
dikala aku mengadu, mengeluh,
ia kan menguatkan…
ia kan mengajarkan…
ia kan mendoakan…
ia kan meneguhkan…
ia kan menginspirasi…
ia kan memberi…
ia kan meindungi…
ia kan terus dan terus membimbingku mengepak sayap bersama ke jannah ilahi

Adakah ia untukku?
Robbi jadikan ia ada bagiku…

Aku malu pada keegoisan yang kutulis disana. Keegoisan akan sebuah harapan yang kuinginkan melekat pada sosok laki-lakiku nanti. Sebuah harapan besar tentu harus berbanding lurus dengan kekuatan untuk siap menerima kekecewaan yang bakal hadir nantinya.  Dan terlihat pada laki-lakiku nanti. Kekecewaan yang hadir dari apa-apa yang kuharapkan.

Berkeinginan terhadap kebaikan yang menempel pada laki-lakiku nanti adalah kebutuhan menurutku. Dan kebutuhan yang dekat dengan impian.  Lalu impian tak akan hadir tanpa usaha nyata. Usaha untuk selangkah demi selangkah memperbaiki diri. Menata ulang ruang-ruang hati yang berantakan, menyapu bersih debu-debunya. Mengunjungi kembali kamar-kamar jiwa yang usang. Dan  Lebih merapat pada Sang pemilik dan penggenggam Ruh para Manusia. Menggantungkan Cinta pada-Nya. Menyakini bahwa kekecewaan tak akan pernah mewujudkan dirinya dalam cinta kita padaNya.

Kemudian setelah menelusurinya aku menemukan bahwa. Pertemuanku nanti pada laki-lakiku yang aku belum tau siapa dia. Adalah sebuah ikatan yang seharusnya Untuk

Saling mengisi kekurangan pada ruang yang belum kami miliki.

Saling berbagi.
saling menguati
saling mengajari…
saling mendoai…
saling meneguhi…
saling menginspirasi…
saling memberi…
saling meindungi…
saling membimbing dalam mengepak sayap bersama ke jannah ilahi

Hingga aku menyadari bahwa hadirnya kami adalah untuk melengkapi.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s