Ketika nikmat penglihatan berkurang


Mataku perih. Bukan sekedar air mata yang keluar, tapi setiap aku menatap layar notebookku indra penglihatanku serasa ditarik. Sakit sekali. Dan bandelnya, aku juga tak mau mengalihkan mataku pada benda yang lain, selain daftar nilai yang harus kuisi di layar itu. Sudah 1 x 24 jam aku menatapnya. Berkejaran dengan waktu. Karena data nilai  muridku harus segera aku kumpulkan esok ke sekolah. Mengapa bisa selama itu aku mengerjakannya?. Baik, akan aku jelaskan. Dalam 1 kelas aku hari mengisi daftar Basic competence yang terdiri dari kolom Unit Test, Homework, Participation, yang setiap judul  terdiri atas 15 kolom. dilanjutkan dengan kolom Midterm, Final exam dan efektif.

semuanya harus kuisi dan perlu diketahui satu kelas terdiri dari 25 siswa dan daftar kelas yang kupegang itu 10 kelas. Sebenarnya memang sudah jauh-jauh hari aku mengisinya pada mark book manual, tapi dalam pengumpulannya Mister Eich akan meneliti lagi untuk dienter dalam raportbook setiap murid  dan setiap mata pelajaran (itu sudah menjadi tanggung jawabnya). Dan terbayanglah sungguh beliaulah yang harus memiliki energi penglihatan jauh lebih besar ketimbang aku ini.

Mataku sudah memiliki ketergantungan dengan kaca mata sejak aku kelas 2 tingkat Atas di tahun 2004. Dan sampai sekarang aku masih membutuhkannya. Awalnya aku merasa terkadang sulit sekali melihat tulisan yang ada di papan tulis waktu itu. Meski ku sudah duduk di barisan bangku yang paling depan. Hingga aku sering harus meminjam catatan teman sebangkuku. Mataku juga sering bereaksi mengeluarkan air matanya saat menonton TV dirumah. Bukan karena acara yang sedang kulihat itu sedih (perlu diketahui aku suka nonton dialog tokoh! hohoho), tapi cairan bening dari mataku selalu keluar saat mulai nonton TV.  Dan aku merasa sudah harus memeriksakannya ke Dokter.

Awalnya hanya mines 0.5 alias setengah, lanjut jadi 1, 75 dan terakhir ini. sungguh aku juga tak mau lagi bertambah. Mataku sudah menjadi mines 2. Sesekali aku suka bandel tak memakai kaca-mata keluar rumah. Efeknya sering aku tak tau sedang berpapasan dengan siapa (hehehe) saat sudah dekat baru aku sunyum atau menegur mereka. nah temanku sering sekali berkomentar.

“capek kita kasih senyum dengan dea, tak ada pun respon balik”

Sudah sering aku mendengar keluh mereka yang demikian itu. Ada beberapa kali pula aku lupa pakai kacamataku saat harus kesekolah. Di jalan aku pun baru merasa ada sesuatu yang janggal, suatu yang harusnya ku bawa: kacamataku. sehingga Efeknya muridku akan berkomentar .

“miss, aneh kalilah liat miss nggak pake kacamata”

“kecil kali ya mata miss”

Didalam ruangan saat aku tak memakai kaca mata memang gawat sekali. aku tak bisa mengenali satu persatu wajah muridku. Karena yang kulihat mereka semua berubah menjadi makhluk-makhluk tak bermulut, berhidung, dan tak bermata. Mulus. Datar. Rata moment ini suatu kali pernah jadi kesempatan untuk main tebak-tebakkan denganku saat dikelas (heeeedeeeeee).

“miss ini berapa?” sambil mereka menunjukka jari jemari mereka. Atau

“miss saya siapa?”

“miss, yang duduk dibarisan 2 siapa?” (mereka seringkali gonta ganti tempat duduk) heiyeeehhh. Namun semua bisa kujawab. Karena indra pendengaranku mengenali siapa-siapa mereka.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Pendidikan.. Tandai permalink.

3 Balasan ke Ketika nikmat penglihatan berkurang

  1. mintarsih28 berkata:

    sama mbak, aku juga bandel meski dah minus tiga kalo pake kaca mata jiga ngaja di kelas saja tuk melihat siswaku . he he klo aku bercanda dengan teman di hadapanku kalian ngak usah repot repot berdandan he he soalya gak ada bedanya.

    • deapratini berkata:

      eh, arsih guru juga?, pake kacamata juga?..:), kembar dunk kita hehehe:D. yuk kita banyakin buat jus wortel tiap hari. makasih ya sudah datang ke Singgah Kudai…:) datang lagi ya…:)

  2. mintarsih28 berkata:

    sama mbak, aku juga bandel meski dah minus tiga kalo pake kaca mata jika ngajardi kelas saja tuk melihat siswaku . he he klo aku bercanda dengan teman di hadapanku kalian ngak usah repot repot berdandan he he soalya gak ada bedanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s