Berproses


Aku sedang menikmati sebuah masa dimana pembelajaran itu adalah hal yang memang pada dasarnya bersifat kontinuitas, berkesinambungan. Tak pernah berhenti. Belajar, belajar dan terus belajar. Mencari, bertanya, berlatih, membaca, meramu pikiran, mengeluarkan ide, menulis.

Kesemuanya dilakukan tidak hanya sebatas di dalam ruang berpindidikan formal yang pernah kita rasakan. Setelah gelar kesarjanaan bertengger di belakang nama kita. Itu bukan berarti kita lantas berhenti mencari ilmu. Belajar tetap harus terjadi. Harus. Mutlak adanya. Selama kita masih diberi keleluasaan Allah untuk menikmati dan merasakan kegratisan udara. Selama ruh masih bersemayam di tubuh-tubuh kita. Selama darah-darah kita tetap mengalir.

Dan itulah yang aku lakukan. Membaca, bertanya, menulis, berlatih, meracik hal-hal yang mendiami alam pikiranku, menuangkannya dalam bentuk-bentuk aksara serupa ini.

Nah Hasil-jalan-jalan di komplek Blogger yang aku sambangi, aku menemukan kalimat ini :” serendah-rendahnya tulisan adalah yang hanya bercerita tentang diri sendiri, dan setinggi-tingginya tulisan adalah yang membawa pencerahan dan menginspirasi orang lain”.

Ada hal yang membuatku memerlukan jeda untuk menyaring kalimat tersebut. Tak lama memang. Lalu benakku memerintah untuk membaca ulang setiap rangkaian kata yang pernah kususun. Semua masih bercerita bagaimana aku dan kehidupan yang kualami. Semuanya masih tentang diri pribadi. Tentang sosok Dea Pratini yang kerap jatuh, berdiri, Lari, berhenti, galau, biru langit hatinya, atau mendung seketika. Ya semuanya masih berkisah tentang personality-nya saja.

Belum memasuki dimensi bagaimana menginspirasi, bagaimana mencerahi, bagaimana mewarnai orang lain. Tapi bukan berarti ia tak ingin, bukan berarti ia tak mencoba. Babak dan fase tulisan yang telah dan sedang ia racik adalah prosesnya untuk mendekati tahap ‘memberi’. Karena Ia sedang belajar, belajar dan terus belajar.  Sebab untuk sampai pada tangga terakhir, kita perlu tangga awal. Sebab membangun impian rumah inspirasi kita tetap butuh bata kecil pertama sebelum ia menjadi beton, tembok atau dinding bahkan bangunan Indah nan megah. Sebab puncak pendakian ke atas sebuah  bukit, bermula dari ayunan langkah kecil  pertama yang kita lakukan. Ya Sebab kita butuh proses.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

2 Balasan ke Berproses

  1. Muhammad Baiquni berkata:

    De, berarti blog beni itu serendah-rendah tulisan ya karena cuma bercerita tentang diri sendiri tanpa mampu membawa pencerahan bagi orang lain?

    Awal mula blog tercipta memang untuk sebuah diary online (lihat sejarah blog), cuma karena fungsinya yang mirip web maka orang mulai mengalih-fungsikan menjadi sesuatu hal yang berbeda.

    • deapratini berkata:

      ooooo….(angguk-anggkuk baca kalimat beni yang kedua). Tengqiu dan berbagi sejarah:)

      loh kok beni bilang gitu?, (baca koment beni di kalimat pertama). Itu kan kutipan tulisan yang dea dapet dari blog tetangga, meski dengan redaksi yang berbeda. Dan pandangan De lebih kurang emm… sepakat. Tapi tulisan2 yang pernah kita buat, apa pun bentuknya tetaplah hasil karya yang patut di apresiasi. Karena Ribuan syaraf bekerja untuk mengahasilkan rangkaian kata yang telah di buat. And actually Dea suka dengan ragam Tulisan di Personal Blog seorang lelaki yang katanya guanteeeng sekali :D..:)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s