Afifi & Binar


Jujur, saya tak begitu mahir mencuri perhatian balita. dan saya tak begitu akrab dengan para bocah-bocah cilik itu. Tapi saya mau belajar mendapat perhatian mereka. Karena Balita dan bocah punya dunia yang unik, dan bagi saya Balita adalah ‘malaikat’ yang spesial. Meski lebih sering mereka takut dengan keberadaan saya. (?). Mungkin karena Saya belum bisa merubah muka saya seperti badut. Atau menggoda mereka seperti godaan para bunda-bunda.

Awalnya si Afifi, bocah berusia 3 tahun ini selalu sembunyi di balik gamis uminya kalau datang ke rumah saya. Saat saya menyapanya. Dia akan menjawab dengan penolakan kata yang hanya berbunyi “engh…eng..engh” sambil berbalik muka, dan lagi-lagi sembunyi dibalik badan umminya. Hampir tiap hari Afifi datang kerumah saya, Namun tidak tiap hari saya berjumpa dengannya. Sering ketika dia datang saya pergi mengajar. Namun ketika berjumpa dia selalu menghindari saya. Sudah puluhan kali saya mendekati dia. Sudah puluhan kali saya menyapanya. Sudah puluhan kali saya menggodanya. Tapi hatinya tak juga luluh. Oh my god. saya harus bisa menakhlukan hati laki-laki ini. Harus.

Pernah dia menangis karena jatuh, habis lari-lari di halaman rumah saya. ketika saya hampiri, mendekatinya untuk membantunya bangkit. Tangisannya semakin kencang, ditambah teriakannya semakin kuat. Halah. sulit ternyata menjangkaumu wahai Afifi.

Atau ketika saya makan nutrijel dan saya menawarinya, lagi-lagi dia hanya akan menjawab dengan:” eng..eng..eng”. Padahal si Afifi sudah pintar ngomong. Sering saya mencuri-curi pandang ketika dia sedang asik bermain balok-balok sambil ‘demo’ sendiri bangunan yang dia  rancang. Atau menyanyi lagu “kepadamu ceman…” yang entah udah berapa kali dia ulang.

Tapi akhir-akhir ini saya begitu tersanjung dengan curhatan umminya tentang si Afifi ketika dia datang ke rumah, dan menanyakan keberadaan saya saat tak ada di rumah.

“ummi, kak Dea mana ummi?”

dan kata umminya dia sering kali menanyakan itu. Atau kata teman saya. saat dia datang ke rumah. Dia langsung berlari ke kamar saya. namun lebih sering mendapati saya tak berada disana.

Terakhir. saat saya mengetik ini, Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seorang batita berdiri tersenyum kearah saya. ” eh ada Afifi datang”

*****

Binar batita 8 bulan, anak tetangga saya yang langsung nangis minta gendong saat saya akan pergi mengajar atau baru sampai di rumah. Dan ini selalu. Awalnya saya pikir mungkin karena kacamata saya ini. Karena Bundanya Binar juga berkacamata.

Pernah saya jadi terlambat, hanya karena Binar tak mau diam dan tangannya menggapai-gapai saya. Saya gendong sebentar, lalu menyerahkan lagi Binar ke si-mbaknya. seketika wuhahahaha. Lengkingannya bowww. Dahsyat. Lalu adegan saya seperti emak-emak tega ninggalin anaknya demi Karir.

Tapi, selidik punya selidik, saat saya santai dirumah, dan terlihat oleh Binar. Dia biasa aja beibeh. Oh apa pasal???. Saya menjadi cewek yang merasa dicuekin. oh, harkat martabat saya runtuh.  What happen Binar? Tidakkah dirimu merindukan saya. Ini seperti habis manis, sepah ditambah gula
(biar manis lagi maksudnya). Raut wajahnya Binar sudah terlihat seperti Desi Ratnasari ketika bilang “ no comment” sama wartawan.

Terakhir kata si Babysitter-nya: si Binar bakal rewel bin nangis seketika, kalau ngeliat kak Dea terlihat seperti mau ready go.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s