Lagi, Tentang si ‘dia’.


Adikku yang
merindukan belahan jiwamu,

Kualitas yang terpenting
bukan pada orang yang kau harapkan menjadi
belahan jiwa,

tapi padamu yang akan jatuh
cinta kepadanya.

Jika engkau tidak membeningkan hati,
menjernihkan pikiran,
dan tidak mengindahkan perilakumu;

engkau akan mudah jatuh cinta
kepada pribadi yang akan
mengecewakanmu.

Belahan jiwamu hanya seindah jiwamu.

Mario Teguh – Loving you all as always

Maaf teman, jika tulisanku ini, lagi-lagi berbicara tentang pasangan hidup. Tentang kerinduan akan si dia yang kelak akan menjadi imam dalam kehidupanku. Tentang kerinduan sesosok Qowwam yang dengan keikhlasan dan keyakinannya memilihku untuk menjadi teman yang akan menemani kehidupannya.  Tentang kerinduan seorang wanita akan seorang laki-laki yang mau bersinergi dengan membangun cita  dan  membingkai cinta hanya karena Allah semata.

Mungkin teman merasa bosan dengan pembahasanku yang selalu berbicara hal yang sama. Mungkin teman merasa :” ni si Dea kok ngebet banget ngbahasa masalah nikah dan pasangan hidup”. Tau kah kau teman, aku bukannya lelah menanti si dia. Aku juga sangat bosan membahas topic ini. Sudah kuusahakan pikiranku dengan menyibukkan aktifitas-aktifitasku tiap harinya. Dengan Mengajar privat, Mengajar murid-muridku di sekolah, dengan menulis, dengan membaca, dengan pergi ke rumah-rumah teman dan ‘saudara’. Dan aku akan selalu menghindari pembahasan ini jika tanpa disengaja dalam pertemuan-pertemuanku dengan sesiapa, akan berbicara perihal menikah. Tapi Teman, Ketika Dalam dua minggu terakhir ini aku di hampiri oleh 10 undangan pernikahan para sahabat-sahabatku (dari Teman SD, SMP, SMA, Kuliah sampai Organisasi), maka Ribuan saraf dalam otakku terstimulus sudah, untuk sekedar berfikir: Kapan giliranku tiba my Allah?”.

Lalu seperti memang sudah di-setting oleh Allah. Saat aku begitu lama berfikir  tentang perihal Si ‘dia’. Tanpa Sengaja aku terbaca sebuah Kutipan dari Pak Mario Teguh diatas. Meski aku sudah puluhan kali membaca substansi tulisan itu di berbagai bacaan. Lalu mendengar dari berbagai lisan manusia. Walau dengan Redaksi yang berbeda. Tapi aku begitu tersadar akan apa yang sudah pak Mario tuliskan.

Ya, memang benar sekali apa yang sudah beliau katakan itu. Dan aku seperti diajak memikir ulang akan sejauh mana kesiapanku untuk menuju babak baru ‘kehidupan’ itu. ragam pertanyaan seperti sudah ter-list dalam benakku: Bagaimana dengan Ibadah sholatku jika aku menginginkan seorang laki-laki yang akan bergegas menunaikan panggilan RabbNYa. Lalu Rajinkah aku berpuasa sunnah, jika aku berkeinginan si ‘dia” adalah ahlul shiam. Serutin apakah infaq dan Shodaqohku, jika aku berharap dia nanti sosok yang dermawan. Sebarapa sabarkan aku jika berhadapan dengan ragam perangai orang atau saat masalah menghampiri diri, sedang aku membutuhkan laki-laki yang begitu lembut hati dalam membimbingku yang mudah sekali perasa ini. Lalu apa kabar dengan Qiamul lailku? Seberapa aku Rajin dan cekatan melakukan aktifitas yang tak suka membuang-buang waktu, jika kelak aku bercita-cita memiliki pasangan yang tak suka bermalas-malasan. Sebanyak apa tegur dan senyum yang tertebar dari raut wajah ini jika aku berkeinginan berpendamping yang ramah dan mudah bergaul. Seberapa sering aku berkunjung kerumah sahabat, teman, saudara, jika aku berkeinginan berpasangan dengan si ‘dia’ yang kerap menyambung tali silaturahim. Setanggung jawab apa aku dalam setiap amanah yang pernah di berikan kepadaku, sedang aku berharap ‘dia’ nanti seorang laki-laki yang begitu credibility dalam memimpin rumah tangganya.

Dan teman, entah berapa banyak pertanyaan-pertanyaan yang ‘antri’ sebagai bentuk kesadaranku akan lamanya proses penantian ini.

Aku terkadang sering juga tersenyum sendiri saat membaca undangan-undangan dari para sahabatku itu. lalu berpikir: Duhai sahabat, Sungguh Allah sudah sangat mempercayakan kepada kalian untuk menjajaki kehidupan baru. Allah percaya bahwa ‘bekal’ kalian sudah begitu banyak dan pas, untuk perjalanan baru ini. Lalu untukku Mungkin Allah belum begitu mempercayakan masa itu kepadaku saat ini. Allah melihat ‘tong’ bekalku belum begitu sampai pada batas atas, atau justru masih sepertiga dari tong kalian yang sudah terisi penuh.

Dan Teman, Kerap pula aku menghibur diri dengan kalimat seperti ini:” be patien De, Allah Know it. The right man in the right time, Ayo sudah ikhtiar, lail, doa, sudahkah???. Allah seek for yours as you need. Trust it”🙂

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s