Dalam Proses Menjemput Mimpi


Menulis ini di temani segelas coffee mix, hasil pemberian Khatijah (partner saya si guru matematika dari turki). Well, kali ini saya hanya ingin berbagi cerita tentang 1 proses  mengejar cita (remember? Tentang keinginan saya melanjutkan studi ke luar). I hope it will be come true. Amin. Meski sering sekali teman-teman menyangkal dengan kalimat “nanti susah lo De dapet jodoh kalau sudah S2”. Laki-laki bakal takut ngelirik. Mending nikah dulu”. (mulai ni, mulai ngebahas topic klasik milik manusia sejagad)

Dan saya hanya menanggapi dengan: just smile atau kalau lagi semangat ngeladeni teman saya ngomong. Saya bakal  bilang “ ya mau gimana lagi, si dia yang ditunggu juga nggak dateng-dateng. Nggak jelas kapan, lah saya mau yang pasti-pasti sajalah menjalini hidup (?, maksud???).

Back to the topic

Dari dulu sebenernya saya ngebet sekali ingin sekolah di luar. Merasakan bagimana atsmosfer pendidikan milik negara lain. Dalam telponan saya dengan ayah, saat saya bicara tentang keinginan saya, ayah bilang “weisss, ayah bangga dunk kalau anak ayah sekolah di luar”. Atau beliau sering menanyakan tentang les-les bahasa yang saya ikuti. Kakak saya pun tak gentar mendukung, rajin memberikan informasi beasiswa pada saya. Ketika UNSRI (Universitas Sriwijaya) membuka beasiswa (yang infonya simpang siur). Beliau langsung nelpon dengan kalimat terakhir “ cieee, dikau bisa pulang kampong dunk say”. Namun akhirnya pas saya ricek ke web UNSRI, the info is nothing, heee.

Awal bulan lalu pemerintahan Aceh  bekerjasama 17 universitas bergengsi di Taiwan mengadakan expo universitas di AAC Dayan Dawood Unsyiah (Universitas Syiah Kuala). Lepas mengajar saya janjian dengan kedua teman (Dara dan Zima)  untuk pergi melihat-lihat expo tersebut. Kabar-kabarnya juga mereka (panitia expo) membuka beasiswa master ke Taiwan. Kata Dara, “mungkin ada rezeki buat lo De disana”. (perlu dicatat, sebenarnya saya kurang begitu tertarik dengan Negara Taiwan)

Sampai ditempat pameran. Gedung AAC  memang super rame. Stand-stand  dari berbagai universitas di buka.  Lebih dari 20-an stand universitas berdiri. Dan tidak semuanya saya kunjungi. Karena rata-rata stand yang ada hanya membuka jurusan science, engineering, nurse. Saya memilah-milah Universitas yang membuka department social politic, And the finally I get it: National Taiwan Universty (NTU). Sekilas kalau kita denger kata NTU, pasti yang dibayangin adalah NTU-nya Singapura alias Nanyang Technology University, tempatnya Barra Kukuh Mamia (heee, maksud loh de).  Saya memasuki stand NTU bertemu dan ngobrol sebentar dengan pak Lee dan pak Charles. Bertanya  bagaimana cara saya bisa dapet beasiswa disana. Bagaimana kehidupan pendidikan disana. Pak Charles dengan bahasa inggrisnya lancar membuat saya sedikit paham apa yang beliau jelaskan. Pak lee membimbing saya  mengentri data diri saya ke laptop beliau. Pak Lee juga  lalu memberikan beberapa kertas  yang harus saya isi, yang sudah beliau masukkan di map plastik putih. Setelah semuanya selesai. Saya bertanya dengan pak Charles tentang bagaimana mengucapkan terima kasih dalam bahasa Taiwan. Beliau hanya bilang “sie-sie”.

“aha. Is like Chinese word ya” komentar saya.

“ehe J. Its so same” ujar beliau.

Hampir 3 mingguan berlalu. Dan sungguh saya tak begitu ingat lagi tentang apply scholarship yang saya lakukan. Tapi ashar sore hari jumat kemarin, nomor telpon sebuah kantor masuk di hape saya.

Penelpon         : “ Assalamualaikum, benar ini dengan saudari Dea Pratini?”

Saya                : “Iya saya sendiri”

Penelpon         : “Saudari ada  apply beasiswa pada acara expo Taiwan  lalu?”

Saya                : “ Iya”

Penelpon         : “Kami dari pihak kantor Gubernur, menungu anda untuk diwawancarai pada hari selasa minggu depan di Kantor Gubernur lantai 3 jam 09.30”

Saya                : “ooo, baik”

Penelpon         : “okey trimakasih”

Hati saya deg-degkan. I don’t have preparation. Saya tak berpengalaman untuk diwawancarai. Saya juga dilema untuk meninggalkan jam mengajar saya di hari itu. Saya juga melihar dan mendengar keanehan tentang prosedur beasiswa. Dimana ketika saya apply beasiswa, administrasi saya belumlah lengkap, saya belum melampirkan nilai TOEFL ITP dan IELTS. Sepengetahuan saya dalam prosedur untuk apply beasiswa semua harus dilengkapi terlebih duhulu, sebelum tahap wawancara. Namun ketika bercerita dengan kak niar (teman saya sesama guru di Fatih). Beliau menguatkan dengan komentar:

Kak Niar         : “tapi sepengetahuan kakak, emang gitu De kalau expo. Karena mereka yang membutuhkan kita, mereka yang mengundang kita. Jadi pemanggilan bisa dilakukan meski berkas kita juga belum lengkap”

Saya                : ” oh, gitu kak”

Kak niar          : “ coba dateng aja De”

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary, Pendidikan.. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s