Yubinkyoku


Disela-sela break time mengajar disekolah tadi. Saya menyempatkan diri ke Kantor Pos. Hendak mengirimkan bingkisan sederhana kami (saya dan beberapa murid) ke  Halmahera Selatan. Ya ke sebuah daerah dimana salah satu Pengajar Muda dalam program Indonesia Mengajar yang digagas oleh Pak Anies Baswedan. Sebenarnya Bingkisan sederhana itu adalah janji saya dengan salah satu pengajar disana, hasil dari pembicaraan kami via chatting di FB 2 bulan yang lalu.

Namun sayangnya saat ini lah, dalam dibatas-batas waktu mereka (pengajar muda) berakhir, barulah janji itu tertunaikan.  Tentu perasaan harap-harap cemas bahwa bingkisan itu sampai ke tangannya sebelum masa kerjannya habis, menyelimuti saya.

Sampai di Kantor Pos. Sepi. Hanya ada satu pegawainya yang bekerja. Tidak ada  pekerja yang lain. Selepas saya berucap salam dan sedikit senyum., sang bapak pos mempersilahkan saya duduk di bangku yang sudah disediakan. Saya menunggu beliau selesai berkutat dengan komputernya. Terlihat sepertinya banyak data yang akan beliau enter.

Baru beberapa saat kemudian beliau melayani saya.

“Mau kirim kemana?” tanyanya

“Halmahera selatan pak” jawab saya singkat

“wah kayaknya wilayah ini nggak terjangkau,  belum masuk data” sambil dia mengetikkan alamat dari amplop besar ke dalam komputernya.

“hee, iya si pak, kata temen saya begitu. Itu juga daerah pemekaran baru. kalau nggak salah lebih deket ke Ternate” jelas saya

“iya, eh kamu muridnya atau gurunya?” tanya si bapak, saat melihat alamat pengirimnya, yang saya tulis : Dari guru dan murid FBS (Fatih Bilingual School).

“ya, saya gurunya dong pak”

“haa, masak? masih muda kali ya” mengalihkan sekilas pandangan dari komputer ke hadapan saya.

” ini sekolah tempat para bule-bule itu  kan?”

“iya” singkat saya

“sudah lama kamu ngajar disitu?”

“hampir dua tahun pak”

“kamu tinggak di asrama?” tanyanya lagi

“nggak pak”

Dan terus pertanyaan-pertanyaannya muncul, sambil beliau membuka-buka website Kantor Pos pusat, mencari kode pos daerah, lalu mencari daerah terdekat dan lain lain yang berhubungan dengan alamat bingkisan yang akan saya kirim itu. Saya seperti diwawancara satu arah saja. Kalau tidak saya memutuskan untuk bertanya balik.

“ehm, kalau kilat, biaya berapa pak? saya mengalihkan pembicaraan.

“oh, bentar”

(Menunggu)

Dan beliau menimbang kiriman saya itu lalu mengeprint kwitansi.

“ni, Rp : 15.000,0 “

hee murah sekali ya (dalam hati).

“okey, trimaksih ya pak”.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s