Perspektif Multikulturalisme Dalam Pembelajaran Di Sekolah


Perspektif Multikulturalisme Dalam Pembelajaran Di Sekolah

PENTINGNYA PENDIDIKAN MULTIKULTURALISME SEBAGAI MODAL PEMBENTUKAN GENERASI RABBANI MENUJU MASYARAKAT MADANI YANG DEMOKRATIS.
(oleh Dea Pratini S. Pd: Praktisi pendidikan di SMA Fatih Bilingual School putri Banda Aceh)

I. Prolog: Membaca Realitas Multikulturalisme di Indonesia

Seperti halnya yang sudah kita ketahui bersama bahwa Indonesia adalah negara yang majemuk. Dari Sabang hingga Merauke terbagi menjadi 33 provinsi, dan menempati wilayah yang tak kurang dari 13.000 pulau, memiliki 300 Suku bangsa, 250 jenis bahasa berbeda, Adat/Kebiasaan, serta ragam agama besar di dunia juga ada di Indonesia (Islam, Kristen, Hindu dan Budha (Imam B Prasodjo, 2008:2).

Maka benarlah jika para pendiri bangsa kita (The founding Father) menempatkan  Bhinneka Tunggal Ika, Berbeda-beda namun tetap satu jua, menjadi semboyan negara. Mereka sudah mengetahui dan mempelajari bersama keanekaragaman ini adalah ciri khas dari bangsa Indonesia. Melekat, menyatu, dan mengakar pada jiwa-jiwa setiap patriot bangsa, meski hidup pada adat dan kebiasaan yang berbeda namun mereka memiliki kesadaran untuk membangun Indonesia yang lebih baik. Buktinya kemerdekaan yang sudah kita rasakan selama 66 tahun adalah kerja kolektif pahlawan-pahlawan bangsa yang berasal dari ragam daerah, Cut Nyak Dhien dari Aceh, Sultan Hasanuddin dari Sulawesi Selatan, Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta, Ageng Tirtayasa dari Banten, Sultan Mahmud Badaruddin II dari Palembang Sumatera Selatan, dan Masih ada lebih 146 lagi pahlawan dari berbagai penjuru tanah air ini, yang sudah memberikan kontribusinya bagi kemerdekaan Indonesia.

II. Mengetengahkan Ragam Peristiwa Yang Nyaris Mendistorsikan Pentingnya Multikulturalisme

Masih segar dalam ingatan kita bagaimana kasus dan kejadian daerah-daerah di belahan bumi pertiwi ini mencuat kepermukaan persada Indonesia (Aceh, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Papua). Hingga memakan kerugian yang tak sedikit, harta, nyawa, beban psikologis yang memerlukan waktu lama untuk dihilangkan. Sehingga tak jarang peristiwa tersebut berbuntut pada pemahaman separatis dari NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia). Peristiwa-peristiwa ini bermula dari perbedaan-perbedaan yang ada. Berbeda kebiasaan, bahasa, pemahaman agama (seperti penyerangan Ahmadiyah, jemaat HKBP (Huria Kristen Batak Protestan), persoalan bom-bom bunuh diri, hingga Masalah NII (Negara Islam Indonesia). Maka Setelah melihat kembali ragam peristiwa tersebut menghampiri Indonesia. Kita mau tak mau menjadikan hal tersebut sebagai potret buram sebuah negara yang majemuk. Padahal kemajemukan yang juga kita sebut sebagai multikulturalisme/keberagaman memiliki makna adanya sikap saling terbuka pada perbedaan (St Nugroho, 2009:16) .

Sebuah bangsa yang majemuk dan memiliki sikap multikulturalisme berkeyakinan: Perbedaan bila tak dikelola dengan baik memang bisa menimbulkan konflik, namun bila kita mampu mengelolanya sesuai dengan aturan yang ada, maka perbedaan justru memperkaya dan bisa sangat produktif. Salah satu syarat agar sikap multikulturalisme ini efektif adalah bila kita mau menerima kenyataan hakiki bahwa manusia bukan makhluk sempurna. Manusia adalah makhluk yang menjadi, manusia membutuhkan sesamanya (Andre Ata Ujan, 2009:16) Maka dengan memiliki pemahaman ini dapatlah kita yakini cita-cita untuk memiliki tatanan bangsa yang madani (beradab) dapatlah terwujud.

III. Memimpikan Masyarakat Madani yang demokratis dengan pijakan kehidupan Multikulturalisme.

Memiliki sebuah cita-cita besar yakni terbentuknya peradaban masyarakat madani atau yang lebih kita kenal dengan masyarakat yang beradab, sudah menjadi cita-cita lama yang hingga kini masih berada dalam tahapan proses di Indonesia. Sebuah mimpi yang bisa dikatakan sangat ideal dalam tatanan masyarakat maju. Dalam ceramah Dato Seri Anwar Ibrahim pada Simposium Nasional dalam rangka forum Ilmiah pada festival Istiqlal 26 September 1995 di Jakarta. Beliau menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat Madani adalah :

“ Sistem sosial yang subur yang diasaskan kepada prinsip moral yang menjamin keseimbangan antara kebebasan perorangan dengan kestabilan masyarakat. Masyarakat mendorong daya usaha serta inisiatif individu baik dari segi pemikiran, seni, pelaksanaan pemerintahan mengikuti Undang-undang dan bukan nafsu atau keinginan individu menjadikan keterdugaan atau Predictability serta ketulusan atau Transparancy sistem”(ICCE 2003:240).

Wacana tentang tatanan masyarakat madani seperti yang diungkapkan oleh Dato Seri Anwar Ibrahim diatas sebenarnya telah muncul sekitar pertengahan abad XVIII di Eropa. Meski mereka lebih menyebutnya dengan istilah civil society. Seperti diungkapkan oleh Zbigniew Rau mengatakan bahwa yang dimaksud dengan masyarakat madani itu adalah: “ masyarakat yang berkembang dari sejarah, yang mengandalkan ruang dimana individu dan perkumpulan tempat mereka bergabung, bersaing satu sama lain, guna mencapai nilai-nilai yang mereka yakini. Ruang ini timbul diantara hubungan-hubungan yang merupakan hasil komitmen keluarga dan hubungan-hubungan yang menyangkut kewajiban mereka terhadap negara”

Dengan melihat apa yang sudah diungkapkan oleh pakar dari Eropa dan tokoh Indonesia diatas. Sungguh hal tersebut merupakan sebuah tatanan masyarakat yang baik, yang dapat perkokoh, mengeratkan bangunan kehidupan masyarakat kota yang modern namun tetap berpijak pada landasan dan sikap yang luhur. Apalagi melihat budaya masyarakat dunia yang semakin maju dan berkembang dalam segala aspek kehidupannya. Memungkinkan sekali bergesernya nilai-nilai keluhuran dan kekhasan dari adat ketimuran yang dianut oleh Indonesia. Sampai pada sebuah keniscayaan bahwa adat-kebiasaan tersebut bisa saja hilang, jika tak terjaga dengan baik. Wacana tentang Masyarakat madani/ masyarakat yang beradab adalah bagian dari ajaran budaya ketimuran. Dimana kita diajak untuk saling menghormati, terbuka, memiliki kejujuran dan ketulusan untuk saling membantu satu sama lain.

Namun cita-cita maupun wacana tentang masyarakat kota yang beradab haruslah dibarengi dengan tata cara mencapai keinginan tersebut. Dan sebagaimana yang diungkapkan oleh FX Warsito Djoko S, bahwa masyarakat yang multikulturalisme sangat cocok sekali jika memiliki budaya dalam mencapai keinginannya dengan cara demokratis. Mengingat ragam budaya yang ada telah mengkontaminasikan cara berfikir, cara berpendapat atau cara memenuhi kebutuhannya individunya masing-masing.

IV. Pendidikan Formal (Sekolah) Sebagai Sarana Yang Tepat Menumbuhkan Pemahaman Pentingnya Multikulturalisme Pada Generasi Bangsa sehingga Tercapainya tatanan Masyarakat Madani.

Generasi Muda adalah aset terpenting bagi keberlangsungan sebuah bangsa. Mereka adalah estafet yang akan melanjutkan cita-cita negara. Tanpa mereka maka sebuah keniscayaan stagnancy-nya peradaban bangsa. Namun memiliki generasi saja tak cukup. Sekelompok generasi yang akan meneruskan cita-cita perjuangan sebuah bangsa, haruslah memiliki kriteria yang mumpuni. Generasi yang mumpuni itu menurut penulis adalah generasi yang tidak hanya memiliki tingkat intelektual yang tinggi, memiliki pengetahuan yang luas, namun juga dibarengi dengan kepemilikan solidaritas yang besar, akhlaq, sikap, yang baik terhadap siapa pun. Baik yang tua maupun yang muda, yang berbeda agama, yang berbeda daerah, yang memiliki bahasa daerah yang tak sama. kesemua Tindakan itulah merupakan sifat yang berasal dari sikap ketuhanan (Rabbani).

Disadari memang multi-agamanya di Indonesia terkadang menjadi pemicu retaknya hubungan generasi yang memiliki latar belakang paham agama dan budaya yang tak sama. Penulis percaya bahwa tidak agama di dunia ini bahkan di Indonesia sekalipun yang mengajarkan kejelekan, pembangkangan terhadap orang tua, mencuri, mencibir, mengejek, bahkan memusuhi orang atau sekelompok manusia yang memiliki paham yang berbeda. Karena setiap agama yang diturunkan selalu mengajarkan kebaikan dan kebajikan. Sayangnya paham-paham yang demikian tak disadari dan nyaris hilang oleh para banyak penerus bangsa. sehingga yang muncul adalah rasa, bahwa ajaran yang dia anutlah yang benar. Sikap mementingkan dan merasa benar ini menjadi faktor kerenggangan dan retaknya rasa solidaritas terhadap sesama. Maka disinilah peran pendidikan sangat dibutuhkan. Peran pendidikan yang akan menjadi ladang untuk menanamkan pemahaman indahnya berada dalam lahan Multikulturalisme.

Pendidikan dalam hal ini sekolah adalah sarana mencetak para penerus bangsa, seperti termaktub dalam Undang-undang RI No 2 tahun 1989 Tentang sistem pendidikan nasional diungkapkan bahwa tujuan pendidikan nasional adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman kepada Tuhan, berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, berkepribadian mantap dan mandiri serta bertanggung jawab. Sedangkan Tujuan pendidikan Sekolah Menengah Umum (SMU) adalah untuk menyiapkan siswa melanjutkan studi ke perguruan Tinggi dan juga meningkatkan kemampuan siswa sebagai anggota masyarakat (Sindhutana, 2000:68) Maka dalam ruang keseharian seorang generasi (Pelajar) haruslah memiliki lingkungan pendidikan yang kondusif untuk merasakan indahnya berada dalam keberagaman. Dalam teori pendidikan dapat dikenal dengan Diagram berikut

Diagram 1.1 Proses pembentuk Pemahaman Generasi
Maka pertanyaannya adalah lingkungan pendidikan yang kondusif yang bagaimana, agar para pelajar (generasi) tersebut terbiasa dengan lingkungan multikulturalisme?. Menurut Penulis Ada beberapa paham yang harus selalu ditanamkan kepada Anak didik dalam ruang lingkup pendidikan sekolah yang multikultural ini. Dan penulis memetakan pemahaman tersebut menjadi 2 bagian yakni:

A. Kepahaman bahwa Manusia Tidak Bisa Hidup Sendiri
Menumbuhkan pemahaman terhadap sikap anak didik akan paham ini sangatlah penting, Karena di masa-masa mereka yang remaja seringkali egoisme muncul lebih sering. Ingin dianggap ada, Menonjolkan kelebihan diri, bahkan arogan akan kemampuan diri hingga mencibir dan merasa tak perlu dengan pertolongan dari orang lain. Kasus yang lain seperti kecenderungan berada dalam kelompok yang dirasa sepemikiran, Kesamaan lingkungan, keluarga, kesamaan nasib, praktik agama, kebiasaan, adat istiadat, dan bahkan nilai-nilai kehidupan yang dianut menjadi ciri khas para pelajar.

Memang peng-atasnamaan kelompok berdasarkan kesamaan adalah sebuah hal yang wajar-wajar saja namun adakalanya fanatik terhadap satu kelompok tertentu, menumbuhkan benih-benih ketidakinginan untuk membaur dan bahkan sulitnya bekerjasama pada komunitas/kelompok yang lain. Sebagai tenaga pendidik di sekolah tak jarang penulis menemui hal-hal yang demikian. Sehingga seringkali mengganggu lancarnya kegiatan belajar mengajar. Maka pemikiran tentang “Manusia itu tidak bisa hidup sendiri” haruslah sesering mungkin ditanamkan dalam jiwa-jiwa generasi kita.

Memerlukan bantuan orang lain yang berbeda pemikiran, berbeda kelas, berbeda status sosial adalah sebuah keniscayaan yang harus dipahami oleh anak didik. Karena keberlangsungan hidup manusia selalu memerlukan uluran tangan-tangan orang lain, meski ia seorang yang berada dalam status sosial ekonomi atas. Tidakkah seorang jutawan memerlukan dibangunnya sebuah rumah tanpa ada tenaga-tenaga para buruh bangunan. Tidakkah Ia membutuhkan petani untuk menyediakan sepiring nasi di meja makannya.

B. Kepahaman tentang Hak dan Kewajiban pelajar ditengah-tengah multikulturalisme.
Menjadi bagian dari komunitas atau kelompok yang multikultural bermakna kita memiliki asal atau latar belakang yang berbeda. Setiap manusia memiliki kekhasannya sendiri. Sebuah ciri yang melekat pada individu masing-masing yang berasal dari pengaruh proses kehidupannya. Memahami akan hak dan kewajiban masing-masing individu sungguhlah penting. Karena Memahami apa-apa saja Hak dan kewajibannya adalah bagian dari usaha untuk menciptakan sebuah kehidupan multikulturalisme yang baik. Hak dan kewajiban adalah sepasang yang tak bisa dipisahkan dalam setiap individu yang merasakan kehidupan dalam masyarakat. Saat kita berada dalam komunitas masyarakat yang besar maka aturan-aturan personal tak bisa dikedepankan. Karena saat semua dari masyarakat tersebut mendahulukan aturan dan keinginan masing-masing lalu tak ada rambu-rambu untuk mengatur arus kehidupan masyarakat. maka sebuah keniscayaan adanya pertentangan, pemberontakan, hingga timbul separatis dari kelompok. lalu bagaimana ingin menciptakan lingkungan hidup multikulturalisme yang baik, jika paham akan Hak dan kewajiban individu dalam kehidupan masyarakatnya tak dimengerti.

Sehingga Sekali lagi bahwa pentingnya menanamkan akan hak dan kewajiban bagi para pelajar adalah sebuah keharusan yang mutlak. Karena cikal bakal kehidupan masyarakat yang baik tentu berawal dari kepahaman individu didalamnya. Dan memberikan pemahaman bagi para Individu itu salah satunya dari bangku-bangku formal pendidikan yakni sekolah.

Epilog: Meraup ‘Emas’ dengan modal Multikultura

Banyak hal yang dapat digali dari kehidupan yang multikultural di Indonesia kita. Bahkan cita-cita memiliki tatanan negara yang baik bisa digali dari keberagaman itu sendiri. Salah satu caranya adalah dengan mencetak generasi-generasi yang berprilaku dan memiliki sifat yang bijak lagi baik (Rabbani). Namun usaha mencetak itu haruslah memiliki sarana yang baik pula, salah satunya wadah tersebut ialah pendidikan (Sekolah). Sebuah wadah memberikan pemahaman akan hak dan kewajiban serta, kepahaman bahwa kita adalah manusia sosial yang saling memiliki ketergantungan satu sama lainnya. Terakhir, memang ini sungguh sederhana. Namun yakinlah dengan modal keberagaman yang saling terbuka maka kita dapat meraup impian emas berupa: Terwujudnya tatanan masyarakat madani yang demokratis.

Daftar Pustaka

ICCE, 2003. Demokrasi hak asasi manusia, masyarakat madani. Prenada Media. Jakarta

http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_pahlawan_nasional_Indonesia

Nugroho, St. 2009. Multikulturalisme, Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan.Indeks. Jakarta.

Prasodjo. Imam B. 2008. Membangun Indonesia yang Tercabik. Pidato 100 tahun Kebangkitan Nasional. Jakarta.

Sindhutana. 2000. Membuka masa depan anak-anak kita. Yogyakarta. Penerbit Kanisius

Ujan, Andrea Ata. Multikulturalisme, Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan. Indeks. Jakarta.

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Artikel, Pendidikan.. Tandai permalink.

2 Balasan ke Perspektif Multikulturalisme Dalam Pembelajaran Di Sekolah

  1. kukuh budiharso berkata:

    bagus artikelnya….. salam kenal http://budiharso.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s