Perjalanan TA-ku (Part 1)


Malam ini saya membuka 1 file yang sudah saya namai : ‘Nulis Ngasal’. Ya sesuai dengan namanya Ngasal alias asal asalan. Dalam file itu ada beberapa catatan perjalanan di episode merampungkan Tugas Akhir (TA) perkuliahan. Note-Note kecil saat sedang menunggu pembimbing, Tulisan kekaguman tika menemui sampel penelitian, Curahan saat saya begitu malas dan enggan menyentuh bahan-bahan skripsi, dan ragam bentuk rasa yang pernah melintas yang saya tumpahkan kedalam tulisan. Lalu perencanaan itu hadir. Untuk menjadikan semuanya dalam 1 judul tulisan, disertai dengan waktu dan tempat dimana saya menuliskannya itu (ehm…mudah-mudahan saya masih inget ya….

Note 1. 01 Februari 2010 13.30 Baru dapet telpon dari ayuk, lagi-lagi menanyakan skripsi
”sudah sampe mano?”
“Dah wawancara?”
“Kapan wisudah?,
“Bab berapo?”. (logatwong kito.mode on)
Dan serentetan pertanyaan terkait Tugas Akhirku itu. Tugas yang menjadi tanggung jawabku sebagai anak dan mahasiswi. Sebenarnya telingaku cukup bosan mendengarkan pertanyaan itu. Belum lagi kawan-kawan kampus yang waktu jumpa…:
“eh dah penelitian?”
“Kok nggak nampak-nampak?” (emang aku hantu pake penampakan segala)
“Jadi wisudah bulan 5 ini?”

Duh Tuhan tak taukah mereka aku juga ingin bersegera menuntaskan amanah ini. Aku juga tau sebagai anak yang juga memiliki saudara. Tanggung jawab ayah tak hanya aku. Ayah mesti banting tulang, tahan makan demi anak-anaknya. Tak bermaksud menyalahkan siapa-siapa, karna bagiku pun wajar sekali pertanyaan-pertanyaan demikian. ( 30 menit setelah dapet ‘ceramah keluarga’ nun jauh di Palembang sana)

Note 1. 06 Maret 2010/ 12.07. Banyak yang ingin ditulis hasil dari perjalanan pikiranku seharian ini. Berjumpa dengan ragam manusia, menjadikanku juga melihat hidup dengan cara pandang yang beragam pula. Aku lagi-lagi tak ingin terlalu ngotot pada komunitas tertentu.

Dulu Aku juga begitu fanatik dalam satu wahana tertentu, yang memang meski berbeda nama Organisasinya/kelompoknya, tapi substansi dan para member yang berkecimpung disana juga wajah-wajah yang tak jauh beda dari yang kulihat di tempat yang lain. (Setelah menjumpai 6 sampel penelitian yang berbeda latar belakang organisasi)

Note 07 Maret 2010 02.07 Bismillah…
Saya mulai dengan lafal ini, yang berharap bahwa Dia yang memiliki segala Maha akan dengan sangat meridhoi tulisan ini. Karna apalah daya saya sebagai hamba yang tak memiliki apa-apa selain sisa harapan yang tak diharapkan kepadamannya. Di penghujung masa-masa berakhirnya saya sebagai mahasiswa, Saya merasakan keinginan untuk meleburkan diri kembali di dunia keihkwahan kampus, justru hadir di penghujung kemahasiswaan saya. Mengintrospeksi diri apa yang telah saya perbuat. Dan saya justru terperangkap pada kesia-siaan waktu, saya merasa menjadi makhluk yang in the middle of the other. Tidak begitu dekat dengan satu kelompok tertentu (tak bermaksud membeda-bedakan atau mengkotok-kotakkan manusia). Tapi jika melihat bagaimana mereka memiliki interpretasi pada kehidupan, saya pikir layak jika harus di bagi pengkotakan.
Melihat ini semua saya menjadi orang yang tidak memiliki idealisme yang kuat, mudah dibawa arus. Saya tak bisa kokoh menjalankan prinsip hidup. Ah sepertinya terlalu banyak mengeluh dan berburuk sangka. Disinilah ‘virus’ yang membunuh potensi saya, racun yang sulit saya matikan. (selepas mewawancarai salah satu aktivis+sampel penelitian di sela2 LPJ kepengurusannya)

10.Februari 2010 10.25
Hari ini ketemu dengan Mia di kantin Kasadar samping biro kemahasiswaan kampus. bersapa ria lah kami karna memang sudah berbilang bulan aku dengannya tak bertemu. dan jadilah hari itu aku dan dia reuni dadakan sederhana. Satu hal yang aku dapati darinya sedikit berbeda dalam pertemuan dan bincang-bincang kami tadi:secara pemikiran ia sudah berubah, progresif yang kurasakan dari caranya ngobrol. Em…bincang-bincang kami tak lepas dari holaqoh, organisasi, kuliah, aktifis. Pemikiran ia telah berubah ada banyak tanya yang juga berkecamuk dalam dada. Bagiku ia juga telah berafiliasi dengan manusia-manusia yang menurutnya telah membuatnya melihat dunia dengan cara yang berbeda. Dengan kapasitasnya yang beragam itu membuat saya juga berfikir apakah saya juga demikian????. (Kantin Kasadar samping Biro, Saat menunggu sampel penelitian yang belum kunjung tiba)

10 Februari 2010 17.00Dulu saya hanya mengenal 2 warna hitam dan putih. Ya hanya itu, hingga pikiran saya pun terpenjara bahwa hanya ada 2 kotak yang ada di dunia ini. Hanya ada 2 sayap kiri dan kanan, hanya ada 2 kubu.. Tapi tidak, ternyata ada ragam cara untuk melihat dunia ini lebih indah. Ragam warna adalah buktinya. (setelah menjumpai sampel penelitian, Sambil Naik Sepeda, memikirkan salah satu cara pandang sang aktivis kampus yang baru kuwawancarai)

13. Februari 2010. 08.00 Hidup ini tak ubahnya menapaki jalanan terjal di gunung-gunung, terkadang kita mendaki, lalu kita pun meluncur dengan mudah ke bawah, nah hanya saja ada hal yang harus kita ketahui, bahwa dalam keadaan yang sedang berada di posisi meluncur kebawah tak berarti kita sedang berada di bawah, karena hakikatnya kita sedang berada pada ketinggian yang jauh berbeda dari posisi tanah semula, kita sedang berada di atas. (Ruang Dingin Biro lantai 2. menunggu sang pembimbing)

13. Februari 2010. 15.30 Iklan Sakit hati Jika harus berkata bahwa saya sakit hati hari ini, ya saya sakit sekali. Lagi-lagi oleh kaum yang sering menyebut diri mereka ikh**h…(ups afwan). Namun ada satu kalimat yang membuat saya harus terus membuka gerbang persaudaraan dengan mereka. Ya sebuah kalimat, meski sederhana tapi begitu kuat menggedor nurani saya. Kalimat itu adalah: “mereka bukan komunitas malaikat yang tanpa cacat, mereka adalah manusia biasa, yang disana tempat berkumpulnya alpa, khilaf, dan salah. Sesosok makhluk yang memiliki rasa suka dan tidak. Memiliki rasa sakit hati dan bahagia. Memiliki rasa cinta dan benci. Karena manusia punya hati, yang disanalah tempat rasa-rasa itu tertampung. Bercerita tentang sakit hati saya hari ini. Berawal dari seorang sampel penelitian saya yang tidak suka dengan cara pertanyaan-pertanyaan yang saya lontarkan padanya. Nah awalnya ia begitu respek sekali dengan apa-apa yang saya tanyakan, Namun akhirnya…. (lepas menemui Gubernur mahasiswa kampus)

15. Februari 2010. 22.00
I Believe I Can Fly”

I used to think that I could not go on
And life was nothing but an awful song
But now I know the meaning of true love
I’m leaning on the everlasting arms

If I can see it, then I can do it
If I just believe it, there’s nothing to it

[1]
I believe I can fly
I believe I can touch the sky
I think about it every night and day
Spread my wings and fly away
I believe I can soar
I see me running through that open door
I believe I can fly
I believe I can fly
I believe I can fly

See I was on the verge of breaking down
Sometimes silence can seem so loud
There are miracles in life I must achieve
But first I know it starts inside of me, oh

If I can see it, then I can do it
If I just believe it, there’s nothing to it

[Repeat 1]

Hey, cause I believe in me, oh

If I can see it, then I can do it
If I just believe it, there’s nothing to it

[Repeat 1]

Hey, if I just spread my wings
I can fly
I can fly
I can fly, hey
If I just spread my wings
I can fly
Fly-eye-eye (sambil ngetik hasil wawancara)

17 Februari 2010 08.00 Episode Pahlawan Kampus
Mungkin dan memang bisa kuperkirakan bahwa pahlawan yang kumaksud disini nanti, tak banyak para mahasiswa mengetahuinya, Atau kenal selakipun, bisa jadi menurut mereka akan terdengar asing sekali. Mengapa? Ya karena pejuang kampus disini, bukanlah para aktivis kampus yang kerap berkeliling kampus teriak-teriak sok lantang dalam segala aksinya. Bukan pula mereka yang duduk pada ruang-ruang biro di kampus kita, serupa: rektor, dan jajaran stafnya, bukan pula para bapak ibu dosen yang kalian tunggu wejangannnya. Ah terlalu panjang aku membuat kisi-kisi dari rupa sang pahlawan yang kumaksud. Hingga membuat kalian sukar menebak bahkan geram dan tak sabar.

Oke, akan aku sebutkan namnya pak Ibrahim? Ada yang tahu? (menegur OB perpustakaan yang lagi ngepel)

17 Februari 2010 10. 00.
Saya tidak bermaksud untuk mendiskriminasikan apa pun, siapa pun kelompok yang ada di kampus saya ini. Tidak! itu bukan kapasitas saya. Namun satu hal yang begitu membuat saya begitu tergerak untuk menuliskan kesan saya selama proses penelitian ini. dan sudah menjadi rahasia umum. Bahwasannya ada dualisme yang begitu mencuat di Unsyiah. sebuah komunitas yang entah siapa menyebutkan dan mengalamatnya kepada keduanya. kelompok Kantin dan kelompok Mushola. Keduanya merasa begitu benar. Namun terlepas dari itu, ada hal yang begitu menarik terkait temuan yang saya dapati dalam setiap penelitian ini…

18. Februari 2010 Kupikir memang perlu pemetaan yang pasti. Jika benar-benar ingin “perpelukan” dengan mimpi-mimpi kita. Aku percaya itu…(Merapikan kembali jadwal Bimbingan)

20. Februari 2010. Seperti apa pun keadaan kita saat ini meski dirundung sedih. Masalah yang terasa tak mungkin berakhir. Tak ada alasan untuk kita untuk tak bersyukur dengan segala apa yang telah Ia beri. Jika kita ingin berfikir lebih dalam, atau sekedar berhenti sejenak untuk melihat dimana posisi kita. Ya berhenti sejenak. Melihat bahwa begitu banyaknya nikmat yang mesti kita syukuri. (Setelah kena damprat pembimbing…
23 Februari 2010. The first day in this week: saya di buat spot jantung dengan segala kabar teman-teman.: SIDANG yang tinggal menunggu hari, membuat saya mungkin seperti orang yang mengigit jari, melongo dengan segala prestasi yang mereka raih. Aih..aih apalah yang bisa saya buat untuk menghibur diri selain berkata pada hati bahwa masih ada harapan dan semangat untuk saya memperbaiki diri. Memperbaiki prem berfikir saya yang suka menunda-nunda. Menunda-nunda. Alah…memang benar bahwa penyesalan hanya ada di akhir peristiwa kita, saya seperti orang yang tak berislam saja. Padahal teori tentang waktu telah banyak saya lahap habis.
Tidak ada lagi masa untuk bermain ‼‼ Gambate haik..:D

1 Maret 2010 (Ruang Dingin, Biro lantai 2)
Waiting is very bored activity. Menunggu memang sangat membosankan. Tapi ia akan menjadi terasa begitu menyenangkan, bahkan kita lebih produktif, bagaimana caranya? membaca buku salah satu solusi yang dirasa sedikit tepat, mendengarkan lagu, atau juga menulis, nah sebenarnya dan saya rasa kita semua sepakat jika lebih produktif. kita bisa memanfaatkan masa-masa menunggu dengan hal-hal yang positif. Menulis bisa juga menjadi solusi, menulis apa saja yang dirasa menyenangkan. Selain itu juga mengolahragakan jari-jemari agar tak kaku. Ya dan saya pun yakin sekali jika kebanyakan dari kita akan menjawab dengan hal yang sama, bahwa menunggu itu memang sangat membosankan. Nah serupa saya… 😛 (hussss, pembimbingku sudah datang…)

1 Maret 2010 14.00 Entah akan memulai dari mana, sepertinya kegiatan menulis memang harus dipaksa. aku belum tahu akan menulis apa, tapi tetap saja aku akan menulis. Masih kuingat sederet ide yang sudah jadul sekali aku menulisnya. Dan di salah satu fileku yang kuberi judul ngasal. tapi alam pikiranku kali ini masih sangat bercabang, ya dengan kata lain aku belumlah menemukan sebuah ide yang begitu menggelitik hingga jemariku tak sabar menekan setiap tuts2 di notebook ku ini.
emmm mungkin kali ini aku menulis bagaimana suasana puswil yang sudah kutinggalkan berbulan-bulan lamanya. Benar hari ini menuntaskan setiap kerinduan akan jajaran rak-rak buku, diskusi bisik2 dari setiap pengunjungnya. Macam dan ragam mimik muka serius yang menekuni berbuku yang ada di depan tempat duduk mereka. Pada keseriusan anak, mahasiswa yang membuka notebook, ataupun laptopnya, padahal tak lain mereka juga penikmat koneksi internet gratis ini (ya seperti aku ni..hi..hi..hi) ya suasana beginilah yang juga aku suka, suasana mereka yang mencintai buku dan ilmu. (Perpustakaan Wilayah dalam aktifitas jelajah referensi)

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di Artikel. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s