Memoriam Of Mother


Entah mengapa saat ini aku ingin menuliskan satu kata itu, meski saat ini bukanlah perayaan hari ibu karna masih lama dan jauh untuk menunggu bulan desember itu. hari ini juga tak bertepatan dengan bulan kelahiran ibuku (Agustus). Juli masih berlangsung. Maka tak ada alasan yang kuat untuk aku secara tiba-tiba menuliskan kata keramat itu. Sebuah kata yang sangat terhormat untuk seorang wanita meski ia belum memiliki anak, atau belum menikah, sudah dan belum dikaruniai, atau bahkan ia seorang guru.

Maka alasanku adalah karna aku memendam rindu yang teramat sangat dengan wanita yang dulu begitu rela menjadikan rahimnya sebagai tempatku hidup, bernaung sebelum aku layak berhadir di semesta ini.  Sesosok wanita yang dengan segenap cintanya menanamkan ragam ilmu kepadaku. Wanita yang begitu ikhlas membantu perekonomian suami. Wanita yang memiliki berjuta juta cinta kepada kaum yang papa. Wanita yang selalu tak sampai hati melihat saudara, teman, anak didik, petani, wali murid, pedagang, siapa pun yang dia yang dia lihat terasa kekurangan.

Baiklah aku tak ingin sekedar berkata-kata tanpa aku tunjukkan sikapnya itu. Sebutlah namanya siti, murid SD ibu yang merengek-rengek ingin tetap sekolah. Melanjutkan pendidkannya untuk menggunakan seragam putih biru seminggu setelah kabar kelulusan itu ia terima. Namun hendak kemana mencari uang pendaftaran atau bahkan membiayai sekolahnya sedang abang, kakak, adiknya masih rapi berjejer menunggu nasi makan hari itu.

Intinya untuk makan sehari-hari saja sulit. Apa tah lagi biaya sekolahnya. Ibu yang tau dengan permasalahan ini, dari  aduan ibunya siti, mau membantu menyekolahkan siti, sang mantan muridnya.Tak perduli ia meski keempat anaknya juga mengenyam status yang sama. Apalah yang bisa diberikan karena gajih seorang pegawai negeri sipil sekelas ibu ( A.Md) tidakalah seberapa.
“Siti mau kerja bantu apa aja bu asal bisa sekolah.nggak papa nggak digajih bu, asal bisa sekolah”
itu yang terlontar dari lisan kecil siti.
Ibu yang hatinya mudah terenyuh tak sampai hati mematahkan semangat siti untuk sekedar berkata
” Ibu juga nyekolahin 4 anak ibu ti”
tapi kalimat itu cukup ia simpan dihatinya. ibu dengan senyum khasnya sembari mengatakan
“Iya ti, ibu akan usahakan bantu”

selanjutnya binar itu terpancar dimata sayu siti. Ia begitu bahagia karna ia adalah satu-satunya anak yang akan mengenyam pendidikan jauh lebih tinggi dari delapan saudaranya, meski cuma Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Itu salah satu hikayat yang membuat aku begitu mengagumi kelembutan hatinya.

Lalu bagaimana perihal membantu suami menopang perekonomian Keluarga?

Kelas 2 SD aku sudah membantu ibu berjualan. Makanan-makanan ringan serupa rempeyek, bakwan, Empek-empek, Es lilin. Atau bahkan keperluan sekolah seperti buku, pensil, peruncing, mistar, dll. Karna kebetulan pun rumahku tepat dibelakang sekolah itu. Bisa dibayangkan bagaimana badanku yang kecil saat itu harus melayani pembeli yang berjubel dan berebut minta dilayai lebih dulu. Tak Bisa di pungkiri kalau banyak juga yang akan curang dan tak jujur.

to be continue..

Iklan

Tentang deapratini

......
Pos ini dipublikasikan di My Diary. Tandai permalink.

2 Balasan ke Memoriam Of Mother

  1. Risma Ariati Armia berkata:

    Dinanti cerita selanjutnya 🙂
    Keep writing! 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s