Julius Caesar

Julius Caesar  was a big  general in Acient Roman age. He became Roman emperor in the 59 BC. Since fighting and winning a civil war which became him as a great emperor in Rome. He was a war general who was so brilliant and dangerous.jc Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Syekh Ahmad Yassin

Syekh Ahmad Yassin was born in Al-Jaurah village, Suburbs of Al – Mijdal, Gaza track of Shoutern   A region where it was near with Ashkelon in Israel . He went through education until 5 th grade of madrasah ibtidaiyah in Jaura Village. Broking out of the war between Arab  with Israel in 1948 forced him and his family moved to Gaza track. After undergoing middle  school from 1957 to 1958, he got paralysis in his four member of bodies because of the childhood accident. furthemore he attained directly a job as a teacher.syekh-ahmad-yassin-_120727172425-470 Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Marie Curie

Marie Curie whose full name was Marie SK3 Adowska Curie was born in Warsawa, Polandia on November 7 th 1897. She was pioneer in radiology major and the winner of nobel prize  twice, that were physics in 1903 and chemistry in 1911. She established institute  together with her husband Pierry Currie, she found radium element

As a girl, Marie Curie was very eager to learn so that it made her a village student who graduated with the best value. She continued her study in Sarbonne university Paris, France. She was smart student. After her graduation in mathematic major, she got the first number for her study in physics major. Her coriously in knowledge did not end. So it brought her as the first woman who seized nobel award.

marie curie Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Umar Bin Khatab

Umar Bin Khatab was the second caliph in islam after Abu Bakar Shiddiq. He was born 12 years after the birth of Prophet Muhammad Peace be Upon Him (PBUH) In the 581 years of grace exactly. His father was Khatab and his mother was Khotmah. He was grown up in Bani Adi circle which was one of the Quraisy Clans.

Before accepting  islam  Umar Bin  khatab was known as someone who was terribly hostile to muslim because he still held his ancestor’s doctrine  that was paganism. He  often  made the bad  deeds which was commonly  commited by Jahiliah and  tortured  moslems. However,  he finally got God’s guidance and accepted  islam on dzulhijjah month   in the  sixth prophery  year, actually,  3 days after Hamzah Bin Abdul Muthalib accepted Islam Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Galileo Galilei

Galileo Galilei was born in Pisa, Toscana on February 15th 1564 and died in Arcetri Toscana On January 8  th at the age of 77 years. He was an astronomer, philosopher and Italian scientist who had big role in scientific revolution. His role was much enough in scientific discipline, like completing telescope, researching many kinds of astronomical observation and discovering the first movement law. Besides that, Galileo also was known as Copernicus supporter who believed that earth revolves to surround the sun. As consequence of his perspective, he was regarded to damage the faith so that he was prosposed to court of Italian church  in June 1633.galileo-9305220-1-402

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Artikel | Meninggalkan komentar

Libatkan saja dia

“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai”

img_4960

Karang Endah kampung saya masihlah panas menyengat. Debu-debu masih jadi bagian pertanda kemarau belum juga berakhir. Meski demikian panas udaranya tetap kalah dengan keademan hati saya bersama keponakan tercinta. Al Banna namanya. Siang ini saat saya sedang sibuk menge-print materi belajar di kamar. Ia datang dengan senyum semangat ingin ikut serta menjadi ‘relawan’ saya. Ikut ‘membantu’. Bisa dibayangkan kan ‘membantu’ dalam kategori anak usia Batita.

Awal-awalnya dia bertanya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di My Diary | Meninggalkan komentar

Traveler Alone : Trip To Kemaro Island (Part 2)

Perahu Ketek masih melaju. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di Trip To Kemaro Island Part 1 banyak sekali kapal besar dan kecil yang hilir mudik di sungai Musi. Belum lama perjalanan kami, namun perahu Ketek yang kami tumpangi ini seperti akan menepi di rumah apung (rumah yang terapung) yang ada di sungai Musi. Awalnya saya pikir nakhoda kami akan menambah penumpang untuk naik di perahunya. Sang nahkoda ini  lalu mematikan mesin perahunya.

IMG_1288 copy

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di My Diary | Meninggalkan komentar

Labi-labi, Damri, dan perspektif Sederhana Saya

Baik. Kali ini saya ingin cerita tentang nasib angkutan umum yakni labi-labi dan Damri yang ada di Aceh.

Tulisan ini adalah perspektif saya yang suka ber-labi-labi (?) :), bis Damri atau angkutan umum lainnya. Dan tentu akan lain lagi cara pandangnya bagi pengguna kendaraan pribadi baik itu motor atau pun mobil.

Bermula dari kemacetan, seumur-umur dari bangku TK sampe baru lulus dari perguruan tinggi. Saya belum pernah mengalami yang namanya macet. Belum pernah membayangkan kendaraan yang ribuan datang menyerbu berhenti dijalan. Pengendaranya yang teriak-teriak lewat jendela mobil sambil tak henti menekan klakson mobil atau motor mereka. Kendaraan mereka membuat kebisingan kian ricuh saja. Saya belum pernah melihat muka ribuan orang geram dipagi hari secara berjamaah di dalam kendaraan. Tapi semenjak saya sudah menjajaki dunia kerja. Saya kenal itu semua. Saya mengalami itu semua hampir tiap pagi dan sore hari.

 Dulu tahun awal-awal saya kuliah di tahun 2006. Volume kendaraan yang datang dan pergi dari dan ke  Darusslam (pusat pendidikan di Banda Aceh) masih terbilang wajar. Meski buanyaaak juga saya lihat serbuan kendaraan menuju arah kampus saat itu. Namun sekali lagi masih  terbilang wajar (ini menurut perspektif saya ya). Kalau pun banyak kendaraan yang tiap pagi bersiliweran. Tak menimbulkan perhentian kendaraan alias macet ditengah jalan. Banyak kendaraan yang ada tapi ditetap jalan atau nyaris tak ada istilah berhenti berjamaah di tengah jalan. Tetap melaju.

Di tahun 2013 ini, tiap pagi saat saya hendak menuju kantor (seeh kantor…J). Ribuah kendaraan motor dan mobil yang rata-rata pribadi menuju arah kampus jantoeng Hati Rakyat Aceh berbarengan menyerbu jalan. Berhenti lalu macet. Puncak macetnya  itu mulai dari 07.30-08.00. Klakson dari para pengendara menjadi ritme-rime pagi yang memekakkan telinga. Tak sedikit dari pengendara itu yang membelokkan kendaraannya keluar dari badan jalan, melewati jatah halaman ruko-ruko yang berjajar di pinggir-pinggir jalan. Semua  demi cepat sampai tujuan. Dan saya adalah salah satu dari ribuan manusia yang memiliki arah tujuan yang sama dengan ribuan orang tersebut. Saya  kerap kali terjebak dalam kemacetan pagi. Lalu apa yang saya lakukan? Menikmatinya. Ya menikmati  kemacetan di sepanjang  Jalan T Nyak Arief  dan Jembatan Lamnyong dengan memperhatikan gaya dan raut muka para penumpang dan pengendara kendaraan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di FLP, Kepenulisan en Me..., My Diary | Meninggalkan komentar

Subhanallah

Di saat genting, aku tertakjub-takjub dengan kerja otak. Melayani telpon. Telinga dan mulut saling berkoordinasi  tak henti bekerja  untuk fokus menanggapi obrolan teman di seberang sana. Sedangkan mata fokus melihat layar notebook menginput data dan membacanya ulang. Sesekali jari beralih fungsi gerak dari mengetik, kemudian menulis dan menjumlah angka-angka. Sebuah multi kerja yang awalnya jarang kukerjakan secara bersamaan. Hebatnya kok bisa aku fokus kebanyak cabang ‘kerja’ indra sekaligus.

Subhanallah.

 

Dipublikasi di My Diary | Meninggalkan komentar

Belajar Bisnis

“Lagi pengen ngobrolin tentang pendidikan ni. Rindu berat saya ke sekolah. Setelah  genap 1 bulan 16 hari. 3 jam 31 menit  (belom dipotong libur hari minggu) saya menjadi mantan guru *hedehh sedih nggak ketulungan. Nangis tutup muka pake wajan (?). Sebabnya keputusan kembali hijrah dari Aceh tanah lon sayang ke Palembang alias kampung halaman.  Menjadikan saya rindu setengah roti eh hati dengan hal-hal berbau buku, sekolah, murid, persiapan bahan mengajar dll. 

And Here I am. Jobless.

Ah tapi kalau mau ngedepankan positif thinking. Banyak hal yang bisa dilakukan. Kita nggak-maksudnya-saya ini bisa melakukan hal-hal positif. Examplenya belajar Masak (sesuatu yang dulu pas ngekos hal terberat saya lakukan) dan ketika saat ini nggak tau mau ngapain. Tiap hari saya tetap menjadi guru, dan bersekolah.  Ya sekolah di Dapur. Jadi Guru sekaligus murid buat diri pribadi. Dan mata pelajarannya adalah Memasak  *beda tipis antara positif thinking dan usaha membesarkan hati huhuh”

Tulisan Diatas adalah curhatan saya saat merasa ‘Culture shock’. Halah. Dan Alhamdulillah semua itu sudah terlewati. Sekarang saya sedang membuka usaha bisnis kecil-kecilan. Insyaallah masih berhubungan dengan dunia pendidikan. Saya membuka Bimbingan Belajar tingkat SD. Namanya Matahari. Tidak bermaksud menyerupai sebuah pusat perbelanjaan modern dan besar itu. Sejarahnya nama tersebut bermula saat saya melihat bunga Matahari di halaman rumah tetangga yang berbaris rapi terus menghadap Matahari sesungguhnya. Kita tahu Matahari adalah sumber energi terbesar bagi makhluk bumi (pelajaran science kelas 3 ni). Matahari dengan kemampuannya yang super dahsyat itu memberi kebutuhan makhluk hidup. Tumbuhan butuh sinarnya untuk proses Fotosintesis.   Manusia lagi-lagi. Tak usahlah saya jabarkan bagaimana ketergantungannya manusia akan benda langit yang satu itu.  Nah, saya ingin sarana bimbingan belajar ini menjadi kebutuhan terbesar bagi para siswa. Ia memberi energi untuk menimba, membutuhkan ilmu sebagai modal menjadi sebaik-baik manusia. Bimbingan Belajar Matahari ini semoga bisa menyinari para siswa dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna bagi mereka.  Mudah-mudahan sarana ini jua menjadi pengasah kemampuan managerial, kemampuan bisnis. Dan tak lupa kemampuan saya menstansfer ilmu. Anak-anak SD itu lucu-lucu loh. Kapan-kapan saya cerita ya J

Dipublikasi di My Diary, Pendidikan. | Meninggalkan komentar