Libatkan saja dia

“Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai”

img_4960

Karang Endah kampung saya masihlah panas menyengat. Debu-debu masih jadi bagian pertanda kemarau belum juga berakhir. Meski demikian panas udaranya tetap kalah dengan keademan hati saya bersama keponakan tercinta. Al Banna namanya. Siang ini saat saya sedang sibuk menge-print materi belajar di kamar. Ia datang dengan senyum semangat ingin ikut serta menjadi ‘relawan’ saya. Ikut ‘membantu’. Bisa dibayangkan kan ‘membantu’ dalam kategori anak usia Batita.

Awal-awalnya dia bertanya. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di My Diary | Meninggalkan komentar

Traveler Alone : Trip To Kemaro Island (Part 2)

Perahu Ketek masih melaju. Seperti yang sudah saya ceritakan sebelumnya di Trip To Kemaro Island Part 1 banyak sekali kapal besar dan kecil yang hilir mudik di sungai Musi. Belum lama perjalanan kami, namun perahu Ketek yang kami tumpangi ini seperti akan menepi di rumah apung (rumah yang terapung) yang ada di sungai Musi. Awalnya saya pikir nakhoda kami akan menambah penumpang untuk naik di perahunya. Sang nahkoda ini  lalu mematikan mesin perahunya.

IMG_1288 copy

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di My Diary | Meninggalkan komentar

Labi-labi, Damri, dan perspektif Sederhana Saya

Baik. Kali ini saya ingin cerita tentang nasib angkutan umum yakni labi-labi dan Damri yang ada di Aceh.

Tulisan ini adalah perspektif saya yang suka ber-labi-labi (?) :), bis Damri atau angkutan umum lainnya. Dan tentu akan lain lagi cara pandangnya bagi pengguna kendaraan pribadi baik itu motor atau pun mobil.

Bermula dari kemacetan, seumur-umur dari bangku TK sampe baru lulus dari perguruan tinggi. Saya belum pernah mengalami yang namanya macet. Belum pernah membayangkan kendaraan yang ribuan datang menyerbu berhenti dijalan. Pengendaranya yang teriak-teriak lewat jendela mobil sambil tak henti menekan klakson mobil atau motor mereka. Kendaraan mereka membuat kebisingan kian ricuh saja. Saya belum pernah melihat muka ribuan orang geram dipagi hari secara berjamaah di dalam kendaraan. Tapi semenjak saya sudah menjajaki dunia kerja. Saya kenal itu semua. Saya mengalami itu semua hampir tiap pagi dan sore hari.

 Dulu tahun awal-awal saya kuliah di tahun 2006. Volume kendaraan yang datang dan pergi dari dan ke  Darusslam (pusat pendidikan di Banda Aceh) masih terbilang wajar. Meski buanyaaak juga saya lihat serbuan kendaraan menuju arah kampus saat itu. Namun sekali lagi masih  terbilang wajar (ini menurut perspektif saya ya). Kalau pun banyak kendaraan yang tiap pagi bersiliweran. Tak menimbulkan perhentian kendaraan alias macet ditengah jalan. Banyak kendaraan yang ada tapi ditetap jalan atau nyaris tak ada istilah berhenti berjamaah di tengah jalan. Tetap melaju.

Di tahun 2013 ini, tiap pagi saat saya hendak menuju kantor (seeh kantor…J). Ribuah kendaraan motor dan mobil yang rata-rata pribadi menuju arah kampus jantoeng Hati Rakyat Aceh berbarengan menyerbu jalan. Berhenti lalu macet. Puncak macetnya  itu mulai dari 07.30-08.00. Klakson dari para pengendara menjadi ritme-rime pagi yang memekakkan telinga. Tak sedikit dari pengendara itu yang membelokkan kendaraannya keluar dari badan jalan, melewati jatah halaman ruko-ruko yang berjajar di pinggir-pinggir jalan. Semua  demi cepat sampai tujuan. Dan saya adalah salah satu dari ribuan manusia yang memiliki arah tujuan yang sama dengan ribuan orang tersebut. Saya  kerap kali terjebak dalam kemacetan pagi. Lalu apa yang saya lakukan? Menikmatinya. Ya menikmati  kemacetan di sepanjang  Jalan T Nyak Arief  dan Jembatan Lamnyong dengan memperhatikan gaya dan raut muka para penumpang dan pengendara kendaraan. Baca lebih lanjut

Dipublikasi di FLP, Kepenulisan en Me..., My Diary | Meninggalkan komentar

Subhanallah

Di saat genting, aku tertakjub-takjub dengan kerja otak. Melayani telpon. Telinga dan mulut saling berkoordinasi  tak henti bekerja  untuk fokus menanggapi obrolan teman di seberang sana. Sedangkan mata fokus melihat layar notebook menginput data dan membacanya ulang. Sesekali jari beralih fungsi gerak dari mengetik, kemudian menulis dan menjumlah angka-angka. Sebuah multi kerja yang awalnya jarang kukerjakan secara bersamaan. Hebatnya kok bisa aku fokus kebanyak cabang ‘kerja’ indra sekaligus.

Subhanallah.

 

Dipublikasi di My Diary | Meninggalkan komentar

Belajar Bisnis

“Lagi pengen ngobrolin tentang pendidikan ni. Rindu berat saya ke sekolah. Setelah  genap 1 bulan 16 hari. 3 jam 31 menit  (belom dipotong libur hari minggu) saya menjadi mantan guru *hedehh sedih nggak ketulungan. Nangis tutup muka pake wajan (?). Sebabnya keputusan kembali hijrah dari Aceh tanah lon sayang ke Palembang alias kampung halaman.  Menjadikan saya rindu setengah roti eh hati dengan hal-hal berbau buku, sekolah, murid, persiapan bahan mengajar dll. 

And Here I am. Jobless.

Ah tapi kalau mau ngedepankan positif thinking. Banyak hal yang bisa dilakukan. Kita nggak-maksudnya-saya ini bisa melakukan hal-hal positif. Examplenya belajar Masak (sesuatu yang dulu pas ngekos hal terberat saya lakukan) dan ketika saat ini nggak tau mau ngapain. Tiap hari saya tetap menjadi guru, dan bersekolah.  Ya sekolah di Dapur. Jadi Guru sekaligus murid buat diri pribadi. Dan mata pelajarannya adalah Memasak  *beda tipis antara positif thinking dan usaha membesarkan hati huhuh”

Tulisan Diatas adalah curhatan saya saat merasa ‘Culture shock’. Halah. Dan Alhamdulillah semua itu sudah terlewati. Sekarang saya sedang membuka usaha bisnis kecil-kecilan. Insyaallah masih berhubungan dengan dunia pendidikan. Saya membuka Bimbingan Belajar tingkat SD. Namanya Matahari. Tidak bermaksud menyerupai sebuah pusat perbelanjaan modern dan besar itu. Sejarahnya nama tersebut bermula saat saya melihat bunga Matahari di halaman rumah tetangga yang berbaris rapi terus menghadap Matahari sesungguhnya. Kita tahu Matahari adalah sumber energi terbesar bagi makhluk bumi (pelajaran science kelas 3 ni). Matahari dengan kemampuannya yang super dahsyat itu memberi kebutuhan makhluk hidup. Tumbuhan butuh sinarnya untuk proses Fotosintesis.   Manusia lagi-lagi. Tak usahlah saya jabarkan bagaimana ketergantungannya manusia akan benda langit yang satu itu.  Nah, saya ingin sarana bimbingan belajar ini menjadi kebutuhan terbesar bagi para siswa. Ia memberi energi untuk menimba, membutuhkan ilmu sebagai modal menjadi sebaik-baik manusia. Bimbingan Belajar Matahari ini semoga bisa menyinari para siswa dengan ilmu-ilmu pengetahuan yang berguna bagi mereka.  Mudah-mudahan sarana ini jua menjadi pengasah kemampuan managerial, kemampuan bisnis. Dan tak lupa kemampuan saya menstansfer ilmu. Anak-anak SD itu lucu-lucu loh. Kapan-kapan saya cerita ya J

Dipublikasi di My Diary, Pendidikan. | Meninggalkan komentar

Kelas Peralihan

IMG_1883Mengajar di jenjang Kelas peralihan tingkat seperti kelas 7 (dari kelas 6 SD ke 1 SMP) membuat gaya kekanak-kanakan mereka masih terasa kental sekali. Lari sana sini. Belum selesai guru menerangkan satu kalimat, sudah protes duluan. Mudah mengeluh saat dikasih tuggas.

“alaaa miss”dengan gaya manjanya.

Maka terkadang tanpa disadari  guru juga  terstimulus dengan gaya mereka. Maksudnya saya. Tanpa disadari lagi ketika gaya tersebut mampir dalam jiwa seorang guru. Ia akan mengenang masa kekanakannya dulu.

“emmm dulu juga saya pernah seperti ini, dan ahaaa nikmat sekali rasanya tak banyak beban pikiran”.

Plong mau ketawa atau cekikikan atau loncat-loncat di kelas its so Fun, lari-lari,  and you can Say goodbye dengan keseriusan orang-orang dewasa

Mengajar di jenjang kelas peralihan Tingkat seperti kelas 10 (dari kelas 3 SMP ke 1 SMA)

Membuat guru melihat bunga-bunga remaja yang sedang beranjak dewasa. Dulu mereka slebor-sana-slebor sini.  Dengan gaya menerima  pelajaran iya-iya ogah. Mau-mau tapi banyak malesnya. Terlalu banyak masalah terhadap guru. Laporan-laporan guru A. B, C tentang si X, Y, Z. Mengapa saya bisa berkata demikian.  Karna dulu saya pernah mengajar mereka saat masih duduk di kelas  9. Ketika sebagian mereka tetap melajutkan di Yayasan sekolah yang sama namun jenjang yang berbeda dan otomatis akan tetap bertemu dengan gurunya yang satu ini (ngacung diri sendiri) .  Dan sekarang ini saat saya memasuki kelas-kelas mereka. Saya merasakan aura kedewasaan mulai muncul dalam pribadi mereka.

“Bagaimana rupa aura kedewasaan mereka itu?”

Mmm seperti sudah berkurangnya kebiasaan asal nyeplos, asal komentarnya, asal nyebut. Lebih banyak tata dan tutur bahasa yang enak didengar. Lebih memilih komunikasi dengan menghampiri guru yang bersangkutan. Aura seorang murid yang sedang belajar dewasa namun keluguan dan kepolosannya masih melekat. aihhh. seriusnya anak-anak ini amazed.

*Menemukan file ini, Mengingatkan saya pernah mengalami situasi menyenangkan menjadi guru disebuah sekolah nun jauh di Serambi Mekkah sana, dan merindukan mereka.

Dipublikasi di Pendidikan. | Meninggalkan komentar

Traveler alone : Trip To Kemaro Island (Part 1)

Baru-baru ini saya memiliki hobi jalan-jalan. Saya sudah memiliki list tempat-tempat yang ingin saya kunjungi. Namun hobi jalan-jalan ini masih dalam ruang lingkup sederhana. Yakni mengunjungi tempat-tempat elok, bersejarah dan menarik yang ada di Palembang.

Bukankah sesuatu yang besar itu dimulai dari hal yang kecil. Untuk saat ini penjelajahan hanya dalam skala kecil dalam ruang lingkup  kota palembang.  Siapa tahu esok depan saya bisa menjelajah tempat-tempat nun jauh yang lebih Wah. Okey mari kita mulai.

Jumat saat libur karena memperingati tahun baru Imlek lalu. Saya menghabiskannya dengan mengunjungi sebuah pulau kecil di tengah-tengah sungai Musi, namanya Pulau Kemaro. Sebenarnya sudah lama keinginan untuk mengunjungi pulau kecil ini.  Disaat libur Imlek saya rasa cocok untuk datang kesana karena, Pulau Kemaro adalah sebuah daerah khusus tempat sembahnyangnya umat Budha. Eits tapi saya tak bermaksud ikut-ikutan. Niat saya hanya ingin tahu bagaimana rupa pulau kemaro itu.

Perjalanan dari rumah ke pulau Kemaro lebih Kurang 2 setangah jam. Sebab keberadaan rumah saya di luar kota Palembang.

Sesampainya di kota palembang saya. Tepatnya di Mesjid Agung. Saya berjalan kaki 10 menit ke Pasar 16 yang berhadapan dengan Mesjid. Sebuah pasar yang berdekatan dengan Jembatan Ampera dan sungai Musi. Oya Jembatan Ampera, Sungai Musi dan Pasar 16 adalah saksi sejarah bahwa zaman dulu palembang adalah  tempat transaksi besar pedagang-pedangang asing Tiong Hwoa dan Arab yang membangun perekonomiannya disini. Nanti di bab Berikutnya saya akan cerita. Nah saat saya sampai ‘pelabuhan’ kapal-kapal  kecil ini saya menyusuri  warung-warung makan yang berada di pinggiran sungai Musi. Terlihat  ‘kapten-kapten’  kapal yang sedang menunggu penumpang.  Disana sudah bersusun Rapi perahu-perahu kecil atau orang palembang menyebutnya dengan perahu ketek.

IMG_1321

Pasar 16. Dok Ayunda Dea Pratini

IMG_1239

perahu Ketek

Saya menghampiri salah seorang bapak yang sedang santai. Saya menanyakan kapal mana yang bertujuan ke Pulau Kemaro?, Berapa Ongkosnya?. Karena sepengetahuan saya bertanya dengan teman-teman. Jarang ada kapal yang sengaja bertujuan ke pulau tersebut. Kebanyakan kapal-kapal disediakan untuk sarana rekreasi di area sungai Musi saja. Sebagai alat transfortasi wisata air. Dan ternyata, sebab hari itu sedang banyak-banyaknya warga Tiong Hwoa yang akan sembahnyang ke Pulau kemaro. Maka banyak sekali Perahu Ketek yang menyediakan jasa ke sana.

Lalu kali ini tentang biaya Transfortasi. Wauhh saya sampai kelimpungan di buat si bapak kalau harga sewa per Perahu keteknya Pulang-pergi  RP 100.000. Perahu ketek akan menunggu kita saat sampai di pulau kemaro untuk mengantar kita pulang. Sebab di Pulau kemaro sangat jarang alat transfortasi. (walau bagaimana pun bagi saya itu harga itu sangat mahal).  Kita hanya dijatahi 1 jam untuk berada di sana.  Maka sekedar Info bagi-teman-teman yang ingin jalan-jalan menggunakan Perahu Ketek untuk menghemat biaya. Ada baiknya mengajak serombongan teman-teman. Jadi harga sewa bisa patungan. Atau bisa kita bayar bersama.

Karena bagi saya harga itu sangat mahal. Tawar-menawar pun kami lakukan. Akhirnya si bapak mau memberi saya sewa tumpangan dengan biasaya Rp 30.000 hihi murah ya. Tapi ternyata  saya naik perahu ketek milik temannya yang sudah disewa oleh serombangan pelancong. Ahhh tak masalah justru tambah senang lah saya sebab ada teman seperjalanan di dalam perahu.

Okeh, payo mang kito berangkat1…:)

Perjalanan dari ‘pelabuhan’ ketek Ke Pulau Kemaro memakan waktu 20 menit. Selama di perjalanan kita akan disuguhi banyaknya bertengger dan bahkan hilir mudiknya kapal-kapal besar yang mengangukut berbagai jenis barang. Mulai dari Batu bara. Pupuk (Sungai musi bersampingan dengan perusahaan Pupuk Sriwijaya), Perahu ketek yang mengangkut penumpang serta kapal-kapal nelayan. Dengan hilir mudiknya kapal dan perahu yang melintas di sungai musi. dapat digambarkan Aktivitas masyarakat Palembang tak hanya di darat namun aktivitas tersibuk juga ada di perairan Sungai musi.

IMG_1291

Kapal pengangkut batu bara
Dok Pribadi

IMG_1274

Dok Pribadi

 

 

 

 

 

IMG_1271

Dok Pribadi

 

 

 

 

 

 

IMG_1270

Dok Pribadi

IMG_1264

Salah satu Kapal PT Pusri

IMG_1259

PT Pusri tampak samping

IMG_1257

Dok Pribadi

 

IMG_1267

Dok Pribadi

 

IMG_1275

Dok Pribadi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dipublikasi di Artikel, My Diary | 2 Komentar